Ada sebagian umat Islam yang
menghabis kan umurnya untuk
menyelidiki makna yang dhohir,
sehingga menjadi ulama' DHOHIR. Ada sebagian umat Islam yang
khusus tenggelam menyelidiki
maknanya huruf-huruf dari segi
bathin, sehingga menjadi ulama'
BATHIN.
Mestinya Ulama' dhohir dan Ulama' bathin itu gabung.
Bertahun-tahun Ulama' Dhohir dan
Ulama' bathin tidak gabung,
hanya sendiri-sendiri, akhirnya
tumbrukkan (saling tentang) bila
ada yang memberi makna secara bathin dikatakan:
menyimpang, bid'ah dlolalah,
sesat menye satkan,neraka
Jahannam, neraka Jahim, neraka
Khuthomah, neraka Hawiyah,
neraka-neraka, dan seterusnya, yang di syurga hanya Ulama'
dhohir, (lupa kalau Adam pernah
menangis di dalam syurga).
Karena selama itu Al Qur'an
difahami dhohir saja.
Ulama' bathin dikeritik seperti itu juga merasa menggerutu
(nggresulo), ganti balik
mengkritik Ulama' dhohir.
Ulama' dhohir itu kuliti, dikira
yang berangakat itu kuliti,
padahal yang berangkat itu yang ghoib, isinya. Kalau ditinggal
isinya yang ada kulitnya
(melompong, tidak ada apa-
apanya).
Saling mengkritik antara
keduanya, sehingga tubrukan, bertengkar, marah-marah, yang
waktunya tidak sebentar, tapi
ratusan tahun, tidak akur (tidak
rukun).
ALHAMDULILLAH akhirnya muncul
tiap-tiap 100 tahun Mujadid satu. Jadi tiap-tiap 100 tahun itu muncul
satu orang yang dinamakan
MUJADIDUL ISLAM. Muncul mujadid
Imam Ghozali, kemudian
digabungkan antara Ulama'
dhohir dengan Ulama' bathin. Setelah wawuh (gabung) saling
sadar, antara yang dhohir dan
yang bathin " ee … ternyata ada keduanya".
Itulah yang menjadi sebab
pertentangan (tidak akur),
karena hanya dipandang dari
sebelah saja. CONTOH : MAKNA DHOHIR DAN
MAKNA BATHIN BISMILLAAHIR
ROHMAANIR ROOHIIM Umpama memberi makna
BISMILLAAHIR
ROHMAANIRROOHIIM, secara
dhohir :
BISMILLAAHIR : Dengan nama
Alloh ROHMAANIR : Yang maha
Penyayang
ROOHIIM : Yang Maha Pengasih
Itu kalau memberi makna secara
umum, itu dhohir, bahkan kalau
diTV-TV membaca makna: "Dengan nama Alloh Yang Maha
Penyayang dan Maha Pengasih",
dilagukan.
Ahli bathin tahu seperti itu
berkata :
" Yaa … seperti itu dhohiri, kuliti, lebay".
Tapi apabila ada yang memberi
makna secara bathin, mereka ahli
dhohir geger, dikatakan
menyimpang dari makna. Kalau
Basmalah diberi makna : BISMI : Itu nama ,
ALLOH : itu juga nama,
ARROHMAN : Maha Penyayang,
ARROHIIM : Maha Pengasih.
itu betul, itu bahasa arab. Asal
tidak diberi makna yang tidak- tidak. Itu kata ahli dhohir.
Pernah seorang kyai besar,
bernama (Kyai Munthoho), Beliau
bintangnya ilmu kalam, guru
Mursyid Thoriqot
Naqsyabandiyyah. Guru kami juga berguru / mempelajari
Thoriqot Naqsyaban diyyah
secara tuntas. Baiatannya dari
awal sampai akhir mulai baitan
Lathifah tujuh, lathifah Qolbi,
lathifah Ruh, lathifah Sirri, sampai tujuh jum'at, ditambah 21 jum'at,
sudah saya tuntaskan hingga
selesai.
Suatu saat beliau itu punya kitab
tinggalan gurunya (tiga kitab jadi
satu) namanya kitab MADNUN KABIR, MADNUN SHOGHIR dan
INSAN KAMIL, kitab haqeqat
tingkat tinggi. Banyak dari para
murid yang ingin memiliki kitab
itu, beli di toko-toko tidak ada.
Dua kitab MADNUN KABIR dan MADNUN SHOGHIR karangannya
IMAM GHOZALI dan yang kitab
INSAN KAMIL karangan ABDUL
KARIM JAELANI muridnya IBNU
AROBI tokoh Wahdatul wujud
internasional. Kyai Munthoho menawarkan pada
murid-muridnya ," Murid-murid
siapa yang ingin memiliki kitab
ini akan saya kasih, asal bisa
memberikan makna : BISMILLAAHIRROHMAANIRROHI
IM Semuanya merasa bisa, sehingga
mereka maju untuk memberi
makna, satu persatu. Maka
membaca dan memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM Dengan sarono asmo –Kang Moho Welas –Kang Moho Asih, dunyo Akhirot. Makna yang diberikan seperti itu,
dan semuanya sama, dari
masing-masing murid, secara
bergantian maju kedepan, maka
semuanya gagal tidak ada yang
dapat kitab. Kata Kyai Munthoho ," memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
seperti itu, ya tidak saya beri
kitab, tidak lulus …!" . Kemudian giliran Guru kami,
sedang waktu itu murid yang
muda itu beliau, dan beliau maju
untuk memberi makna. Murid-
murid yang lain mengatakan ,"
Saya yang menjadi murid lama (kawakan) saja gagal, apalagi
murid yang masih kencur ..!".
Dalam hati beliau , Kencur-kencur
jadi jamu.
***
Jadi itu masih makna-makna
kalimat, belum makna huruf-
hurufnya, seperti : Huruf BA' ada maknanya
sendiri.
Huruf SIN ada maknanya
sendiri.
Huruf MIM ada maknanya
sendiri. Umpama diberi makna BA' itu Bapak, SIN itu Anak, MIM itu Mak (ibu), Alloh yang menciptakan
Bapak, Anak, Mak, maka mereka
pasti ramai. Ba' kok diberi makna
Bapak, MIM kok diberi makna
mak.
Mak itu kan MA-UN dan MA-UN itu AIR, dan BA-UN itu BUMI. Dan SIN
itu rasa ghoib, pertemuannya
antara BA' dan MIM jadi anak. Ini
kalau diberi makna seperti itu
pasti ramai, dikatakan bid'ah
dlolalah. Saya tidak memberi makna seperti itu, karena
menghormati mereka-mereka.
Perkara memberi makna yang
seperti tadi, itu adalah kedalam,
tidak keluar.
Ini contoh-contoh saja mengenai keterangan makna bathin. Dan itu
baru selintas saja. Masih banyak
makna bathin dari satu kalimat
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar