Sabtu, 26 Maret 2011

MEMAHAMI SHOLAT DAIM

Sebelum kita memahami
Shalat Daim, ada baiknya
kita memahami apa
sebenarnya arti dari kata
Shalat itu. Arti daripada
shalat adalah mengingat- ingat GUSTI ALLAH
(Dzikrullah) di waktu duduk,
berdiri dan melakukan
aktivitas dalam kehidupan
ini. Sedangkan kata Daim itu
memiliki arti terus-menerus ataupun tak pernah putus. Jadi, jika kedua kata itu
digabungkan maka Shalat Daim
itu berarti mengingat-ingat GUSTI
ALLAH tanpa pernah putus. Atau
Dzikrullah secara terus menerus.
Salah satu contoh dari Shalat Daim dapat kita tauladani dari sejarah
saat Sunan Bonang
menggembleng Raden Mas Syahid
sebelum bergelar Sunan Kalijaga. Saat itu Sunan Bonang sudah
mengajarkan apa yang
dinamakan Shalat Daim pada
Raden Mas Syahid. Bagaimana
Shalat Daim itu? Pertama kali
Sunan Bonang menyuruh Raden Mas Syahid untuk duduk, diam
dan berusaha untuk mengalahkan
hawa nafsunya sendiri. Menurut ajaran dari Sunan
Bonang, Shalat Daim itu hanya
duduk, diam, hening, pasrah pada
kehendak GUSTI ALLAH. Raden
Mas Syahid tidak disuruh untuk
dzikir ataupun melakukan ritual apapun. Apa rahasia dibalik
duduk diam tersebut? Cobalah
Anda duduk dan berdiam diri.
Maka hawa nafsu Anda akan
berbicara sendiri. Ia akan
melaporkan hal-hal yang bersifat duniawi pada diri Anda. Hal itu
semata-mata terjadi karena
hawa nafsu kita mengajak kita
untuk terus terikat dengan segala
hal yang berbau dunia. Awalnya, orang diam pikirannya
kemana-mana. Namun setelah
sekian waktu diam di tempat,
akal dan keinginannya akhirnya
melemas dan benar-benar tidak
memiliki daya untuk berpikir, energi keinginan duniawinya
lepas dan lenyap. Dalam kondisi
demikian, manusia akan berada
dalam kondisi nol atau suwung
total. Karena ego dan hawa nafsu
sudah terkalahkan. Demikian juga dengan kondisi
Raden Mas Syahid ketika bertapa
di pinggir kali. Ia hanya pasrah
dan tidak melakukan ritual
apapun. Hanya diam dan hening.
Hingga akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan GURU SEJATINYA. “ BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA,
KANG SUKSMA PURBA WASESA,
KUMEBUL TANPA GENI, WANGI
TANPA GANDA, AKU SAJATINE
ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH,
LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA
WUTA, WONG SEWU PADA TURU,
AMONG AKU ORA TURU,
PINANGERAN YITNA KABEH … .” Lewat Suluk Wujil, Sunan Bonang
sudah menjelaskan perihal Shalat
Daim yaitu UTAMANING SARIRA PUNIKI,
ANGRAWUHANA JATINING SALAT,
SEMBAH LAWAN PUJINE,
JATINING SALAT IKU,
DUDU NGISA TUWIN MAGERIB,
SEMBAH ARANEKA, WENANGE PUNIKU, LAMUN
ARANANA SALAT,
PAN MINANGKA KEKEMBANGING
SALAT DAIM, INGARAN TATA
KRAMA. (Keutamaan diri ini adalah
mengetahui HAKIKAT SALAT,
sembah dan pujian. Salat yang
sesungguhnya bukanlah
mengerjakan salat Isya atau
maghrib (shalat 5 waktu). Itu namanya sembahyang. Apabila
disebut salat, maka itu hanya
hiasan dari SALAT DAIM, hanya
tata krama). Shalat sejati tidak hanya
mengerjakan sembah raga atau
tataran syariat mengerjakan
sholat lima waktu. Shalat sejati
adalah SHALAT DAIM, yaitu
bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-
Nya dengan kalimat penyaksian
bahwa yang suci di dunia ini
hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA
ALLAH. Hu saat menarik nafas
dan Allah saat mengeluarkan nafas. Lebih lanjut Sunan Bonang juga
menjelaskan tentang cara
melakukan Shalat Daim lewat
Suluk Wujil, yaitu PANGABEKTINE INGKANG UTAMI,
NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA,
PUNIKA MANGKA SEMBAHE
MENENG MUNI PUNIKU,
SASOLAHE RAGANIREKI,
TAN SIMPANG DADI SEMBAH, TEKENG WULUNIPUN,
TINJA TURAS DADI SEMBAH,
IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI,
PUJI TAN PAPEGETAN. (Berbakti yang utama tidak
mengenal waktu. Semua tingkah
lakunya itulah menyembah. Diam,
bicara, dan semua gerakan tubuh
merupakan kegiatan
menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan
menyembah. Itulah niat sejati.
Pujian yang tidak pernah
berakhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar