Sebenarnya ilmu rohaniah itu adalah ilmu tasawuf atau dikatakan juga sebagai ilmu hakikat atau ilmu batin. Mengapa ilmu ini dikatakan ilmu rohani? Ini karena perbahasannya adalah mengenai roh.
Mengapa pula ia juga dikatakan ilmu tasawuf? Jika kita lihat perbincangan para ulama termasuk ulama modern, perkataan tasawuf itu diambil daripada bermacam-macam perkataan. Tetapi di sini saya hanya memilih salah satu daripadanya iaitu dari perkataan (syifak’) bermakna bersih atau murni. Tegasnya, ilmu tasawuf itu adalah ilmu bagaimana hendak membersihkan atau memurnikan roh (hati) atau nafsu. Agar dari dorongan hati yang bersih itu dapat membersihkan pula anggota lahir daripada melakukan kemungkaran dan kesalahan.
Oleh itu, ilmu tasawuf itu adalah ilmu mengenai cara-cara membersihkan lahir dan batin daripada dosa dan kesalahan. Bahkan kesalahan lahir ini berasal dari kesalahan batin. Dosa lahir ini berlaku setelah berlakunya dosa batin. Maka sebab itulah ia dikatakan ilmu tasawuf.
Kenapa pula ilmu ini juga dikatakan ilmu batin? Ini karena roh atau hati memang tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Ia adalah makhluk yang tersembunyi. Maka ilmu ini dinamakan ilmu batin kerana ia membahaskan tentang hati dan sifat-sifatnya yang memang tidak dapat dilihat dengan mata lahir tapi dapat dilihat oleh mata batin.
Mengikut pandangan umum masyarakat sekarang, bila disebut ilmu batin, mereka menganggap itu adalah ilmu pengasih atau ilmu kebal. Orang yang belajar ilmu batin bermakna dia belajar ilmu kebal atau belajar ilmu pengasih. Sebenarnya orang itu belajar ilmu kebudayaan Melayu, yang mana ilmu itu ada dicampur dengan ayat-ayat Al Quran. Kebal juga adalah satu juzuk daripada kebudayaan orang Melayu yang sudah disandarkan dengan Islam. Kalau kita hendak mempelajarinya tidak salah jika tidak ada unsur-unsur syirik. Tetapi itu bukan ilmu tasawuf atau ilmu kerohanian seperti apa yang kita bahaskan di sini.
Adakalanya ilmu tasawuf dipanggil juga ilmu hakikat. Ini karena hakikat manusia itu yang sebenarnya adalah rohnya. Yang menjadikan manusia itu hidup dan berfungsi adalah rohnya. Yang menjadikan mereka mukalaf disebabkan adanya roh. Yang merasa senang dan susah adalah rohnya. Yang akan ditanya di Akhirat adalah rohnya. Hati atau roh itu tidak mati sewaktu jasad manusia mati. Cuma ia berpindah ke alam Barzakh dan terus ke Akhirat.
Jadi hakikat manusia itu adalah roh. Roh itulah yang kekal. Sebab itu ia dikatakan ilmu hakikat. Oleh yang demikian apabila kita mempelajari sungguh-sungguh ilmu rohani ini hingga kita berhasil membersihkan hati, waktu itu yang hanya kita miliki adalah sifat-sifat mahmudah iaitu sifat-sifat terpuji. Sifat-sifat mazmumah iaitu sifat-sifat terkeji sudah tidak ada lagi. Maka jadilah kita orang yang bertaqwa yang akan diberi bantuan oleh Allah SWT di dunia dan Akhirat.
Kebersihan hati inilah yang akan menjadi pandangan Allah. Maksudnya, bila hati bersih, sembahyangnya diterima oleh Allah SWT. Bila hati bersih, puasanya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, perjuangannya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, wirid dan zikirnya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, pengorbanannya diterima oleh Allah. Tetapi bila hati tidak bersih, seluruh amalan lahirnya tidak akan diterima. Itulah yang dimaksudkan di dalam ajaran Islam bahwa walaupun kedua-dua amalan lahir dan amalan batin diperintahkan melaksanakannya tetapi penilaiannya adalah amalan roh atau hatinya. Ini sesuai dengan Hadis yang bermaksud:
“Cukup sembahyang sunat dua rakaat daripada hati yang bertaqwa.”
Maknanya dua rakaat sembahyang seorang yang bertaqwa itu lebih baik daripada seorang yang banyak sembahyang tetapi hati masih kotor. Selain sembahyang itu diterima, dua rakaat sembahyang dari hati yang bertaqwa itu akan memberi kesan kepada kehidupan seseorang itu. Sembahyangnya itu bisa mencegah dirinya dari berbuat kemungkaran dan kemaksiatan, lahir dan batin.
Berdasarkan Hadis di atas, kita cukup bimbang karena selama ini kita telah mengerjakan sembahyang, sudah lama berjuang, sedikit sebanyak sudah berkorban, sudah habiskan masa untuk berdakwah, sembahyang berjemaah, ikut jema’ah Islamiah, yang mana ini semua adalah amalan lahir, rupa-rupanya Allah tidak terima semua amalan itu disebabkan hati kita masih kotor. Roh kita masih tidak bersih.
Oleh itu dalam kita menunaikan kewajiban yang lahir ini, jangan lupa kita memikirkan roh kita. Kerana roh yang kotor itulah yang akan mencacatkan amalan lahir, mencacatkan sembahyang, mencacatkan segala ibadah dan mencacatkan pahala seluruh kebaikan kita.
Cuba renung kembali Hadis yang pernah diucapkan oleh Rasulullah SAW kepada Sayidina Muaz bin Jabal.
Orang yang banyak amal ibadah, di langit yang pertama sudah tercampak amalannya. Kalaupun bisa naik, di langit yang kedua pula tersekat. Begitulah seterusnya di pintu-pintu langit yang lain hingga sampai ke pintu langit yang ketujuh, tersangkut lagi. Itu bagi orang yang beramal, masih tertolak amalannya. Bagaimana agaknya kalau orang yang tidak beramal langsung?
Mengapa amalan lahir itu tersangkut? Tersangkutnya amalan itu karena ia ada hubungan dengan penyakit batin atau roh (hati) kita yang masih kotor. Orang yang mengumpat umpamanya, karena hatinya sakit. Walaupun mengumpat itu nampaknya amalan lahir, mulutnya yang bercakap tetapi ia datang dari hati yang kotor. Sebenarnya hati itulah yang mengumpat. Hasad dengki, riyak, kibir, sombong dan sebagainya, itu semua amalan hati. Rupa-rupanya yang menghijab amalan lahir ini adalah mazmumah hati. Amalan hati (roh) ini hendaklah dijaga karena mazmumah hati inilah yang membatalkan pahala amalan-amalan lahir.
Ditegaskan sekali lagi, ilmu rohani adalah ilmu yang mengesan tabiat roh atau hati baik yang mazmumah atau mahmudahnya. Bukan untuk mengetahui hakikat zat roh itu sendiri. Hakikat roh itu sendiri tidak akan dapat dijangkau oleh mata kepala atau tidak akan dapat dibahaskan. Tetapi apa yang hendak dibahaskan adalah sifat-sifatnya saja supaya kita dapat mengenal sifat-sifat roh atau hati kita yang semula jadi itu. Mana-mana yang mahmudahnya (positif) hendak dipersuburkan dan dipertajamkan. Kita pertahankannya karena itu adalah diperintah oleh syariat, diperintah oleh Allah dan Rasul dan digemari oleh manusia. Mana-mana yang mazmumahnya (negatif) hendaklah ditumpaskan kerana sifat-sifat negatif itu dimurkai oleh Allah dan Rasul serta juga dibenci oleh manusia.
Oleh yang demikian, sesiapa yang memiliki ilmu tentang roh ini, mudahlah dia mengesan sifat-sifat semula jadi yang ada pada roh itu. Mahmudahnya dapat disuburkan dan yang mazmumahnya dapat ditumpaskan. Maka jadilah roh atau hati seseorang itu bersih dan murni.
Sedangkan hati adalah raja dalam kerajaan diri. Bila raja dalam kerajaan diri ini sudah bersih, baik, adil, takut kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul, maka sudah tentu dia akan mendorong rakyat dalam dirinya iaitu anggota (jawarih) ini untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Mudah untuk membangunkan syariat dan Sunnah Rasulullah SAW serta mudah berbuat bermacam-macam bentuk kebaikan lagi.
Maka kebaikan anggota lahir inilah yang merupakan buah daripada kebersihan jiwa itu sendiri. Jadi kebersihan jiwa itulah pohon yang melahirkan kebaikan kepada tangan, mulut, mata, telinga, kaki dan seluruh tindakan lahir kita ini. Maka bila roh sudah baik, akan jadi baiklah seluruh lahir dan batin manusia. Bila baik lahir batin manusia, dia akan menjadi orang yang bertaqwa.
Bila dia telah menjadi orang yang bertaqwa, maka dia dapat pembelaan dari Allah baik di dunia maupun di Akhirat. Selagi belum menjadi manusia yang bertaqwa, tidak ada jaminan dari Allah akan dibela sama ada di dunia mahupun di Akhirat. Kalau sekadar menjadi orang Islam, tidak ada jaminan dari Allah untuk dibela.
Dalam Al Quran, Allah tidak mengatakan akan membela orang Islam. Tidak ada satu ayat pun yang Allah berjanji hendak membantu orang Islam. Tetapi yang ada dalam ayat Al Quran maupun dalam Hadis, Allah hanya membantu orang-orang mukmin yang bertaqwa. Jadi bila jiwa sudah bersih, maka akan bersih lahir dan batin, maknanya orang itu sudah memiliki sifat-sifat taqwa. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam Al Quran:
Maksudnya: “Hendaklah kamu berbekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu adalah sifat taqwa.” (Al Baqarah: 197)
Bila seseorang itu sudah dapat berbekal dengan sifat-sifat taqwa, maka dia akan dapat pembelaan dari Allah SWT. Pembelaan di dunia maupun di Akhirat. Sebenarnya, di sinilah rahasia kejayaan dan kemenangan umat Islam. Juga rahasia kehebatan umat Islam hingga berhasil menumpaskan musuh-musuhnya sama ada musuh lahir maupun musuh batin.
ASHAQ (AHMAD ZAINIYAH)
q ingt wkt mbah zen skit d rmh skit..ad yg datang minta ijazahan,em ad slh 1 dr meraka mengambl sdkit air zam-zam tanpa izin,,,na'udzubillah.
Rabu, 30 Maret 2011
wwwwww
Bismillahir Rahmanir Rahiim
1. Bada'tu bibismillaahi ruuchi bihihtadat,
Kuawali dengan menyebut Asma Alloh,dengan demikian jiwa saya memperoleh petunjuk
Ilaa kasyfi asroori bibaathinihinthowat
Kepada tersingkapnya rahasia-rahasia yang terkandung didalamnya (Asma Alloh) yang terlempit (tersembunyi/tersimpan)
2. Washollaitu fits tsaanii 'alaa khoiri kholqihi,
Yang kedua Sholawat atas sebaik-sebaik ciptaanNya
Muchammadin man zaachadh dholaalata walgholat
Muchammad seorang yang menghapus kesesatan dan kesalahan (kotoran hati)
3. Wa achyii ilaahil qolba mimba'di mautihi,
Yaa Tuhanku hidupkanlah hati dan setelah matinya
Bidzikrika yaa qoyyumu chaqqon taqowwamat
Dengan dzikirMu (mengingatMu) wahai Dzat yang Maha Tegak yang sebenar-sebenarnya (nyata-nyata) tegak
4. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,
Dan tambahkanlah keyaqinanku tetap dan teguh kepadaMu
Wathohhir bihi qolbii minarrijsi walgholat
Dan bersihkanlah dengannya (dengan dzikir kepadaMu) hatiku dari kotoran dan kesalahan (kotoran hati)
5.Wa ashmim wa abkim tsumma a'mi 'aduwwanaa,
Dan jadikan tuli, bisu serta butakan musuh kami
Wa akhrushumu yaa dzal jalaali bichausamat ¤
Dan sekali lagi bisukanlah mereka itu, wahai Tuhan Dzat yang Pencabut nyawa
6.Naruddu bikal a'daa'a minkulli wijhatin,
Dengan asma Mu tolaklah para musuh dari segala penjuru
Wa bil ismi tarmiihiim minal bu'di bisysyatat
Dengan Asma ini Engkau melempar mereka dari kejauhan dengan bercerai berai.
7. Sa altuka bil ismil mu'azdzdomi qodrohu,
Aku memohon dengan Asma yang dihormati (diagungkan) kebesarannya
Biaajin ahuujin jalla jalyuutu jaljalat
Dengan nama Alloh Yang Maha Esa,indah ciptaanNya, Yang Maha Kuasa
8. Fakun yaa ilaahi kaasyifadhdhurri walbalaa,
Maka adalah Alloh wahai Tuhanku Yang menghilangkan mudhorot (celaka) dan balak
Bihayyin jalaa hammii bihallin bihalhalat
Dengan Dzat Yang Mencukupi jelaslah cita-citaku dengan Dzat Yang Mengasihi dan Dzat Yang Maha Memperlonggar
9. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,
Dan tambahkanlah keyakinanku dengan tetap dan teguh besertaMu
Bichaqqika yaa chaqqol umuuri tayassarot
Dengan kebenaran Mu wahai Dzat Yang Maha Benar segala urusan menjadi mudah
10. Washobba 'alaa qolbii sya aabiiba rochmatin,
Dan semoga Alloh menuangkan (melimpahkan) pada hatiku curahan rochmat
Bichikmati maulaanal chakimi fa achkamat
Dengan hikmah Tuhan kami Yang Maha Bijaksana sehingga menjadi kukuh
11. Achaathot binal anwaaru minkulli jaanibin,
Cahaya-cahaya meliputi kami dari segala penjuru
Wahaibaatu maulaanal 'azdiimi binaa 'alat
Tetapi Kewibawaan Alloh Yang Maha Agung lebih tinggi bagi kami
12. Fasubchaanakallohumma yaa khoiro baari'in,
Maka Maha Suci Alloh wahai Dzat Yang Bebas
Wayaa khoiro khollaaqin wayaa khoiro mamba'ats
Dan wahai Dzat Yang sebaik-baik Pencipta dan wahai Dzat Yang sebaik-sebaik yang mengembalikan
13. 'Afuwwun ghofuurur roochimun mutafadhdhilun,
Pemaaf, Pengampun, Penyayang, Pemberi karunia
Kariimun chaliimun dzuu 'thooyaa takaatsarot
Mulia, Penyantun, empunya pemberian menjadi banyak
14. Rochiimun warochmaanun bichaqqika sayyidi,
Penyayang, Pengasih demi haqMu wahai Tuanku
Sa altuka ghufroonadz dzunuubi idzaa badat
Aku memohon pengampunan dosa-dosa jika mulai (nyata)
Alhamdulillahi Rabil Alamin
1. Bada'tu bibismillaahi ruuchi bihihtadat,
Kuawali dengan menyebut Asma Alloh,dengan demikian jiwa saya memperoleh petunjuk
Ilaa kasyfi asroori bibaathinihinthowat
Kepada tersingkapnya rahasia-rahasia yang terkandung didalamnya (Asma Alloh) yang terlempit (tersembunyi/tersimpan)
2. Washollaitu fits tsaanii 'alaa khoiri kholqihi,
Yang kedua Sholawat atas sebaik-sebaik ciptaanNya
Muchammadin man zaachadh dholaalata walgholat
Muchammad seorang yang menghapus kesesatan dan kesalahan (kotoran hati)
3. Wa achyii ilaahil qolba mimba'di mautihi,
Yaa Tuhanku hidupkanlah hati dan setelah matinya
Bidzikrika yaa qoyyumu chaqqon taqowwamat
Dengan dzikirMu (mengingatMu) wahai Dzat yang Maha Tegak yang sebenar-sebenarnya (nyata-nyata) tegak
4. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,
Dan tambahkanlah keyaqinanku tetap dan teguh kepadaMu
Wathohhir bihi qolbii minarrijsi walgholat
Dan bersihkanlah dengannya (dengan dzikir kepadaMu) hatiku dari kotoran dan kesalahan (kotoran hati)
5.Wa ashmim wa abkim tsumma a'mi 'aduwwanaa,
Dan jadikan tuli, bisu serta butakan musuh kami
Wa akhrushumu yaa dzal jalaali bichausamat ¤
Dan sekali lagi bisukanlah mereka itu, wahai Tuhan Dzat yang Pencabut nyawa
6.Naruddu bikal a'daa'a minkulli wijhatin,
Dengan asma Mu tolaklah para musuh dari segala penjuru
Wa bil ismi tarmiihiim minal bu'di bisysyatat
Dengan Asma ini Engkau melempar mereka dari kejauhan dengan bercerai berai.
7. Sa altuka bil ismil mu'azdzdomi qodrohu,
Aku memohon dengan Asma yang dihormati (diagungkan) kebesarannya
Biaajin ahuujin jalla jalyuutu jaljalat
Dengan nama Alloh Yang Maha Esa,indah ciptaanNya, Yang Maha Kuasa
8. Fakun yaa ilaahi kaasyifadhdhurri walbalaa,
Maka adalah Alloh wahai Tuhanku Yang menghilangkan mudhorot (celaka) dan balak
Bihayyin jalaa hammii bihallin bihalhalat
Dengan Dzat Yang Mencukupi jelaslah cita-citaku dengan Dzat Yang Mengasihi dan Dzat Yang Maha Memperlonggar
9. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,
Dan tambahkanlah keyakinanku dengan tetap dan teguh besertaMu
Bichaqqika yaa chaqqol umuuri tayassarot
Dengan kebenaran Mu wahai Dzat Yang Maha Benar segala urusan menjadi mudah
10. Washobba 'alaa qolbii sya aabiiba rochmatin,
Dan semoga Alloh menuangkan (melimpahkan) pada hatiku curahan rochmat
Bichikmati maulaanal chakimi fa achkamat
Dengan hikmah Tuhan kami Yang Maha Bijaksana sehingga menjadi kukuh
11. Achaathot binal anwaaru minkulli jaanibin,
Cahaya-cahaya meliputi kami dari segala penjuru
Wahaibaatu maulaanal 'azdiimi binaa 'alat
Tetapi Kewibawaan Alloh Yang Maha Agung lebih tinggi bagi kami
12. Fasubchaanakallohumma yaa khoiro baari'in,
Maka Maha Suci Alloh wahai Dzat Yang Bebas
Wayaa khoiro khollaaqin wayaa khoiro mamba'ats
Dan wahai Dzat Yang sebaik-baik Pencipta dan wahai Dzat Yang sebaik-sebaik yang mengembalikan
13. 'Afuwwun ghofuurur roochimun mutafadhdhilun,
Pemaaf, Pengampun, Penyayang, Pemberi karunia
Kariimun chaliimun dzuu 'thooyaa takaatsarot
Mulia, Penyantun, empunya pemberian menjadi banyak
14. Rochiimun warochmaanun bichaqqika sayyidi,
Penyayang, Pengasih demi haqMu wahai Tuanku
Sa altuka ghufroonadz dzunuubi idzaa badat
Aku memohon pengampunan dosa-dosa jika mulai (nyata)
Alhamdulillahi Rabil Alamin
KITAB AL-KASYFI WA AT-TABYINI Karya : Al-Ghazali
1. Ghurur (tertipu) bisa terjadi pada semua mukallaf, baik kafir maupun mukmin kecuali yang dijaga oleh Allah. Tentu saja dengan tingkat yang berbeda.
2. Yang mungkin tertipu dari kalangan mukmin bisa dari :
a. kelompok ulama
b. kelompok ahli ibadah
c. kelompok pemilik harta
d. kelompok ahli tasawuf
3. Orang kafir tertipu kehidupan dunia, mereka berpendapat : “ dunia (bisa dinikmati saat ini meyakinkan) itu lebih baik dari pada akhirat (dinikmati nanti, meragukan)”.
4. Mukmin dan kafir sama-sama bisa tertipu oleh kehidupan dunia, tentu saja dengan kadar berbeda.
5. Orang yang mengenal Allah tidak akan merasa aman dari rekayasa-Nya.
6. Orang mukmin ahli maksiat tertipu dengan perkataannya : “ Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang “. Mereka mengandalkan sifat pemurah Allah., kebaikan Allah.
7. Ada pula yang mengandalkan kesalehan orang tua. Orang yang menyangka bisa selamat dengan ketaqwaan orang tuanya seperti orang yang menyangka bisa kenyang padahal orang tuanya yang makan.
8. Banyak orang mukmin yang disamping taat juga ahli maksiat, tapi maksiatnya lebih banyak. Mereka mengandalkan ampunan Allah. Perumpamaan bagi mereka : “ berharap timbangan sepuluh keping mengalahkan seribu keping “, betapa bodohnya.
9. Sebagian orang mukmin menyangka taatnya lebih banyak dari pada maksiatnya, mereka tidak instropeksi. Taatnya diingat sedangkan maksiatnya dilupakan. Padahal menjaga lisan dari maksiat lebih utama dari membaca tasbih.
10. Sekelompok ulama mengutakan ilmu syari’at dan aqliyah secara mendalam, mereka tidak menjaga diri dari maksiat dan tidak mengharuskan diri melakukan taat. Mereka tertipu dengan ilmunya. Mereka menyangka ilmunya menyelamatkannya di akherat walaupun dengan tanpa amal.
11. Sekelompok ulama yang lain mementingkan ilmu dan amal dzohir, mereka meninggalkan maksiat dzohir tetapi melupakan hati mereka. Maka mereka tidak menghapus sifat-sifat tercela seperti sombong, riya’, iri, mencari derajat dunia dan sebagainya. Mereka seperti orang yang sakit kudis oleh dokter diberi salep dan tablet. Dia mengoleskan salepnya dan membuang tabletnya.
12. Sekelompok ulama yang lain mengetahui perihal akhlaq jelek ini dalam tinjauan syara’, hanya saja mereka bersifat ujub dan menyangka telah terbebas darinya. Mereka merasa mencapai derajat lebih tinggi daripada orang awam sehingga terhindar dari akhlak jelek tersebut. Bagi mereka bukan kesombongan tetapi kemulyaan agama.
13. Sekelompok ulama lainnya mengutamakan beberapa ilmu, mensucikan anggota badan, menghiasinya dengan ta’at, menjauhi maksiat dzahir, instropeksi akhlak diri, dan membersihkan hati dari riya’, iri, sombong, dendam dan sebagainya. Tetapi mereka tertipu, karena di tepian hati masih ada sisa-sisa bujukan syetan dan nafsu yang sangat halus sehingga mereka tidak mengerti akan hal itu. Perumpamaan mereka seperti orang yang mencabuti rumput yang menjadi gulma bagi tanaman padi, mereka menyangka rumput telah bersih, hanya saja mereka tidak tahu pada rumput dalam tanah yang belum tumbuh. Kadang-kadang mereka menyepi (uzlah) karena merasa sombong, atau memandang orang lain dengan pandangan rendah.
14. Sekelompok ulama yang lain meninggalkan ilmu-ilmu yang penting dan mencukupkan diri pada ilmu fatwa, hukum, debat, muamalah yang berlaku tetapi terkadang menyia-nyiakan ilmu perbuatan dzahir dan batin, tidak instropeksi pada anggota badan, tidak menjaga lisan, perut, kaki dan hati dari yang terlarang.
15. Sekelompok ulama yang lain tersibukkan dengan ilmu kalam dan perdebatan. Tetapi mereka terbagi menjadi dua kelompok; yang satu sesat menyesatkan, yang lainnya benar. Kelompok yang pertama tertipu, menyangka dirinya selamat, mengkafirkan kelompok yang lainnya, melihat syubhat sebagai dalil dan dalil sebagai syubhat. Sedangkan kelompok kedua yang benar tertipu dari sangkaan mereka bahwa ilmunya adalah paling penting dan lebih utama-utamanya ibadah.
16. Sekelompok ulama yang lain tersibukkan dengan memberi nasehat dan meninggikan derajat orang yang membahas akhlak diri dan sifat hati berupa takut, berharap, sabar, syukur, berpasrah, zuhud, yakin, ikhlas dan jujur. Mereka tertipu dengan menyangka telah bertsifat dengan sifat di atas hanya dengan membahasnya dan mengajak manusia berhias dengan sifat-sifat tersebut.
17. Sekelompok ulama yang lain berpindah dari hal yang penting dan wajib di dalam memberi nasehat. Mereka tersibukkan dengan kalimat-kalimat yang indah dan aneh yang keluar dari aturan syara’ dan kewajaran dengan tujuan majlisnya disukai orang.
18. Sekelompok ulama yang lain mencukupkan diri dengan ucapan ahli zuhud dalam hal mencaci dunia pada hal tidak mendalami maknanya.
19. Sebagian ulama yang lain menghabiskan waktunya dalam ilmu hadits, yaitu mengumpulkan riwayat yang banyak, mencari sanad yang aneh dan tinggi dengan berkeliling negeri. Mereka seperti khimar yang membawa kitab. Padahal tujuan dari hadits adalah memahaminya dan memikirkan maknanya.
20. Sebagian ulama yang lain tersibukkan dengan ilmu nahwu, bahasa, dan syi’ir. Mereka tertipu dengan ilmu tersebut karena menyangka telah diampuni dan termasuk ulama.
21. Kelompok kedua dari orang mukmin yang tertipu adalah para ahli ibadah. Sebagian mereka ada yang tertipu di dalam shalat, membaca Al-Qur’an, haji, jihad, zuhud dan lainnya.
22. Diantara mereka ada yang meninggalkan perkara wajib dan tersibukkan dengan perkara sunah.
23. Diantara mereka ada yang tidak rela dengan najis tetapi terkadang makan perkara haram.
24. Sekelompok yang lain diganggu oleh was-was dalam niat shalat sehingga tertinggal jamaah.
25. Kelompok yang lain diganggu dengan was-was di dalam mengeluarkan huruf dari bacaan shalat.
26. Kelompok ketiga dari orang mukmin yang tertipu adalah mereka yeng memiliki harta. Diantara mereka ada yang suka membangun masjid, madrasah dan lainnya sambil menuliskan namanya dalam prasasti agar senantiasa disebut orang. Mereka menyangka telah berhak memperoleh ampunan. Padahal disamping kadang-kadang hartanya berasal dari sumber yang tidak halal juga tasarufnya kurang ikhlas.
27. Sekelompok yang lain terkadang menghasilkan harta halal dan menafkahkan untuk masjid tetapi masih tertipu dari hal riya’ dan mengharap pujian atau menasarufkan harta untuk hiasan masjid yang sebenarnya justru dilarang karena mengganggu kekhusuan.
28. Sekelompok yang lain menafkahkan harta dengan shadaqah pada fakir miskin dalam acara perayaan agar namanya terkenal. Mereka tidak mau bersedekah secara siri.
29. Sekelompok yang lain menggenggam hartanya hingga masuk kategori bakhil. Mereka tersibukkan dengan ibadah badaniyah yang tidak membutuhkan biaya seperti puasa, qiyamul lail dan menghatamkan Al-Qur’an. Mereka tertipu karena sebenarnya bakhil yang merusak telah menguasainya.
30. Sekelompok yang lain dikalahkan oleh bakhil dengan mengeluarkan zakat dengan harta berharga rendah, atau memberikan zakat itu kepada pekerjanya.
31. Sekelompok orang tertipu dengan hadir di majlis dzikir. Mereka berkeyakinan hal itu telah cukup, padahal kehadirannya tidak memiliki efek apapun pada perbaikan diri.
32. Kelompok yang lain sebenarnya telah melampaui kelompok-kelompok di atas, mereka bersungguh-sungguh dalam perjalanan ibadah, ketika sudah mendekati wushul mereka menyangka telah sampai (wushul) dan lantas berhenti pada stasionernya.
2. Yang mungkin tertipu dari kalangan mukmin bisa dari :
a. kelompok ulama
b. kelompok ahli ibadah
c. kelompok pemilik harta
d. kelompok ahli tasawuf
3. Orang kafir tertipu kehidupan dunia, mereka berpendapat : “ dunia (bisa dinikmati saat ini meyakinkan) itu lebih baik dari pada akhirat (dinikmati nanti, meragukan)”.
4. Mukmin dan kafir sama-sama bisa tertipu oleh kehidupan dunia, tentu saja dengan kadar berbeda.
5. Orang yang mengenal Allah tidak akan merasa aman dari rekayasa-Nya.
6. Orang mukmin ahli maksiat tertipu dengan perkataannya : “ Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang “. Mereka mengandalkan sifat pemurah Allah., kebaikan Allah.
7. Ada pula yang mengandalkan kesalehan orang tua. Orang yang menyangka bisa selamat dengan ketaqwaan orang tuanya seperti orang yang menyangka bisa kenyang padahal orang tuanya yang makan.
8. Banyak orang mukmin yang disamping taat juga ahli maksiat, tapi maksiatnya lebih banyak. Mereka mengandalkan ampunan Allah. Perumpamaan bagi mereka : “ berharap timbangan sepuluh keping mengalahkan seribu keping “, betapa bodohnya.
9. Sebagian orang mukmin menyangka taatnya lebih banyak dari pada maksiatnya, mereka tidak instropeksi. Taatnya diingat sedangkan maksiatnya dilupakan. Padahal menjaga lisan dari maksiat lebih utama dari membaca tasbih.
10. Sekelompok ulama mengutakan ilmu syari’at dan aqliyah secara mendalam, mereka tidak menjaga diri dari maksiat dan tidak mengharuskan diri melakukan taat. Mereka tertipu dengan ilmunya. Mereka menyangka ilmunya menyelamatkannya di akherat walaupun dengan tanpa amal.
11. Sekelompok ulama yang lain mementingkan ilmu dan amal dzohir, mereka meninggalkan maksiat dzohir tetapi melupakan hati mereka. Maka mereka tidak menghapus sifat-sifat tercela seperti sombong, riya’, iri, mencari derajat dunia dan sebagainya. Mereka seperti orang yang sakit kudis oleh dokter diberi salep dan tablet. Dia mengoleskan salepnya dan membuang tabletnya.
12. Sekelompok ulama yang lain mengetahui perihal akhlaq jelek ini dalam tinjauan syara’, hanya saja mereka bersifat ujub dan menyangka telah terbebas darinya. Mereka merasa mencapai derajat lebih tinggi daripada orang awam sehingga terhindar dari akhlak jelek tersebut. Bagi mereka bukan kesombongan tetapi kemulyaan agama.
13. Sekelompok ulama lainnya mengutamakan beberapa ilmu, mensucikan anggota badan, menghiasinya dengan ta’at, menjauhi maksiat dzahir, instropeksi akhlak diri, dan membersihkan hati dari riya’, iri, sombong, dendam dan sebagainya. Tetapi mereka tertipu, karena di tepian hati masih ada sisa-sisa bujukan syetan dan nafsu yang sangat halus sehingga mereka tidak mengerti akan hal itu. Perumpamaan mereka seperti orang yang mencabuti rumput yang menjadi gulma bagi tanaman padi, mereka menyangka rumput telah bersih, hanya saja mereka tidak tahu pada rumput dalam tanah yang belum tumbuh. Kadang-kadang mereka menyepi (uzlah) karena merasa sombong, atau memandang orang lain dengan pandangan rendah.
14. Sekelompok ulama yang lain meninggalkan ilmu-ilmu yang penting dan mencukupkan diri pada ilmu fatwa, hukum, debat, muamalah yang berlaku tetapi terkadang menyia-nyiakan ilmu perbuatan dzahir dan batin, tidak instropeksi pada anggota badan, tidak menjaga lisan, perut, kaki dan hati dari yang terlarang.
15. Sekelompok ulama yang lain tersibukkan dengan ilmu kalam dan perdebatan. Tetapi mereka terbagi menjadi dua kelompok; yang satu sesat menyesatkan, yang lainnya benar. Kelompok yang pertama tertipu, menyangka dirinya selamat, mengkafirkan kelompok yang lainnya, melihat syubhat sebagai dalil dan dalil sebagai syubhat. Sedangkan kelompok kedua yang benar tertipu dari sangkaan mereka bahwa ilmunya adalah paling penting dan lebih utama-utamanya ibadah.
16. Sekelompok ulama yang lain tersibukkan dengan memberi nasehat dan meninggikan derajat orang yang membahas akhlak diri dan sifat hati berupa takut, berharap, sabar, syukur, berpasrah, zuhud, yakin, ikhlas dan jujur. Mereka tertipu dengan menyangka telah bertsifat dengan sifat di atas hanya dengan membahasnya dan mengajak manusia berhias dengan sifat-sifat tersebut.
17. Sekelompok ulama yang lain berpindah dari hal yang penting dan wajib di dalam memberi nasehat. Mereka tersibukkan dengan kalimat-kalimat yang indah dan aneh yang keluar dari aturan syara’ dan kewajaran dengan tujuan majlisnya disukai orang.
18. Sekelompok ulama yang lain mencukupkan diri dengan ucapan ahli zuhud dalam hal mencaci dunia pada hal tidak mendalami maknanya.
19. Sebagian ulama yang lain menghabiskan waktunya dalam ilmu hadits, yaitu mengumpulkan riwayat yang banyak, mencari sanad yang aneh dan tinggi dengan berkeliling negeri. Mereka seperti khimar yang membawa kitab. Padahal tujuan dari hadits adalah memahaminya dan memikirkan maknanya.
20. Sebagian ulama yang lain tersibukkan dengan ilmu nahwu, bahasa, dan syi’ir. Mereka tertipu dengan ilmu tersebut karena menyangka telah diampuni dan termasuk ulama.
21. Kelompok kedua dari orang mukmin yang tertipu adalah para ahli ibadah. Sebagian mereka ada yang tertipu di dalam shalat, membaca Al-Qur’an, haji, jihad, zuhud dan lainnya.
22. Diantara mereka ada yang meninggalkan perkara wajib dan tersibukkan dengan perkara sunah.
23. Diantara mereka ada yang tidak rela dengan najis tetapi terkadang makan perkara haram.
24. Sekelompok yang lain diganggu oleh was-was dalam niat shalat sehingga tertinggal jamaah.
25. Kelompok yang lain diganggu dengan was-was di dalam mengeluarkan huruf dari bacaan shalat.
26. Kelompok ketiga dari orang mukmin yang tertipu adalah mereka yeng memiliki harta. Diantara mereka ada yang suka membangun masjid, madrasah dan lainnya sambil menuliskan namanya dalam prasasti agar senantiasa disebut orang. Mereka menyangka telah berhak memperoleh ampunan. Padahal disamping kadang-kadang hartanya berasal dari sumber yang tidak halal juga tasarufnya kurang ikhlas.
27. Sekelompok yang lain terkadang menghasilkan harta halal dan menafkahkan untuk masjid tetapi masih tertipu dari hal riya’ dan mengharap pujian atau menasarufkan harta untuk hiasan masjid yang sebenarnya justru dilarang karena mengganggu kekhusuan.
28. Sekelompok yang lain menafkahkan harta dengan shadaqah pada fakir miskin dalam acara perayaan agar namanya terkenal. Mereka tidak mau bersedekah secara siri.
29. Sekelompok yang lain menggenggam hartanya hingga masuk kategori bakhil. Mereka tersibukkan dengan ibadah badaniyah yang tidak membutuhkan biaya seperti puasa, qiyamul lail dan menghatamkan Al-Qur’an. Mereka tertipu karena sebenarnya bakhil yang merusak telah menguasainya.
30. Sekelompok yang lain dikalahkan oleh bakhil dengan mengeluarkan zakat dengan harta berharga rendah, atau memberikan zakat itu kepada pekerjanya.
31. Sekelompok orang tertipu dengan hadir di majlis dzikir. Mereka berkeyakinan hal itu telah cukup, padahal kehadirannya tidak memiliki efek apapun pada perbaikan diri.
32. Kelompok yang lain sebenarnya telah melampaui kelompok-kelompok di atas, mereka bersungguh-sungguh dalam perjalanan ibadah, ketika sudah mendekati wushul mereka menyangka telah sampai (wushul) dan lantas berhenti pada stasionernya.
Selasa, 29 Maret 2011
RAHASIA DI BALIK RAHASIA
TAFSIR AYAT ATTHOLAQ/12 ALLOHULLADZII KHOLAQO SAB`A
SAMAAWAATIN WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA YATANAZZALUL
AMRU BAINAHUNNA LITA`LAMUU
ANNALLOOHA `ALAA KULLI SYAI-
IN QODIIR WA ANNALLOOHA QOD AHAATHO BIKULLI SYAI-IN
`ILMAA.
( At Tholaq –Surat 65 –Ayat : 12 ). Artinya : " Allohlah yang
menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi. Perintah
Alloh berlaku padanya, agar
kamu mengetahui bahwasannya
Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Alloh,
ilmuNya benar-benar meliputi
segala sesuatu ".
Didalam Kitab Al Hikam ( kitab
tashawwuf tingkat tinggi ),
tentang tafsir ayat ini Shohabat Ibnu Abbas pernah berkata :
" Seandainya kami terangkan
dengan sejelas-jelasnya tafsirnya
ayat ini, pastilah kami akan
dituduh oleh orang mukmin
awam bahwa kami ini zindiq, kafir, bahkan mungkin darah
kami akan dihalalkan ".
Ayat ini mengandung rahasia
yang paling rahasia.
Jadi yang diterjemahkan di
terjemahan Alqur-an itu dari segi dhohirnya saja.
Kata Ibnu Abbas : Kalau
diterangkan, dibuka blak-blakan
dari segi dalamnya / bathinnya /
haqeqatnya, maka nanti leher
kami ini dipotong orang, karena orang-orang mukmin awam itu
nanti kaget. ( Umumnya orang
awam itu masih banyak yang
kagetan. Kenapa kagetan ?
Karena masih kanak-kanak,
kanak-kanak itu kan kagetan ). Jadi lebih baik tidak dibuka pada
orang awam, daripada nanti
dipukuli orang, malah dituduh
bid`ah dlolaalah, sesat
menyesatkan, kafir
mengkafirkan, zindiq menzindiqkan, maka tidak usah
diterangkan secara haqeqat,
cukup diterangkan secara kuliti
saja. SESUATU DARI BUMI YANG
SEMITSAL 7 LANGIT DAN 7
BUMI Coba direnung-renungkan ayat
tersebut diatas, hanya direnung-
renungkan saja :
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Artinya : " Dan dari bumi ada
yang semisal semuanya itu ( 7 langit dan 7 bumi ) ".
Coba direnung-renungkan ,
karena kalau tidak dianjurkan ya
tidak memikirkan, mintanya
hanya di dorong saja, tidak mau
kesulitan. WAMINAL ARDLI : " dan dari bumi
".
Padahal dari bumi itu banyak, ada
alam benda, alam tumbuh-
tumbuhan, alam hayawan, itu
semua dari bumi. Lalu manakah sesuatu dari bumi
itu yang MITSLAHUNNA , yang
sama dengan 7 langit dan 7 bumi ?
Ayat ini tidak menyebut :
" MATSALAHUNNA " tapi "
MITSLAHUNNA " . Kalau Matsal maknanya
perumpamaan.
Kalau Mitsil bukan perumpamaan
tapi dua barang yang sejenis
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Dari bumi ada sesuatu yang muncul, yang semisal semua yang
ada di 7 langit dan 7 bumi ; disitu
ada langitnya tujuh, buminya
tujuh, ada mataharinya, bulannya,
bintangnya, lautannya, hutannya,
ada percilnya, ada ularnya, ada singanya, ada setannya, ada
malaikatnya, ada iblisnya, ada
gondoruwonya, ada kuntilanak-
nya.
Coba diangan-angan yang mana
yang lengkap itu ? Kami kira anda bisa berfikir sendiri, siapa itu ?
Ayat ini :
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Kalau diterangkan di umum, kita
bisa dipukuli atau dituduh yang
bukan-bukan. Padahal Shohabat Ibnu Abbas,
yaitu seorang shohabat yang
pernah didoakan kanjeng Nabi :
" Kamu ( Ibnu Abbas ) paling tahu
rahasianya Al Qur-an ".
Apakah bila Shohabat Ibnu Abbas yang membuka rahasia ayat
tersebut juga dituduh brengsek ?
Terserah bila berani mengatakan
begitu.
Dikira kalau sudah bisa faham
terjemahan Al Qur-an yang diterjemahkan Departemen
Agama dianggap sudah selesai
tuntas. Tidak !
ALLOHULLADZII KHOLAQO SAB`A
SAMAAWAATIN WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA YATANAZZALUL AMRU BAINAHUNNA LITA`LAMUU
ANNALLOOHA `ALAA KULLI SYAI-
IN QODIIR WA ANNALLOOHA QOD
AHAATHO BIKULLI SYAI-IN
`ILMAA.
( At Tholaq –Surat 65 –Ayat : 12 ). Artinya : " Allohlah yang
menciptakan 7 langit dan seperti
itu pula bumi, perintah Alloh
berlaku padanya, agar kamu
mengetahui bahwasannya Alloh
Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Alloh, IlmuNya
benar-benar meliputi segala
sesuatu ".
Orang awam ; mengartikan
begitu saja sudah selesai.
Kalau bukan tashawwuf ya terjemahannya saja, tapi kalau
tashawwuf tidak begitu.
Kalau dimasuki melalui
tashawwuf, mungkin kami dan
anda ibaratnya masih intip-intip di
tepinya lautan, menyelam tidak berani karena kuatir akan mati,
kalau dipinggir saja mudah, tapi
tidak bisa merasakan dalamnya
lautan.
Pilih mana : Kalau ingin
merasakan dalamnya lautan maka mati, kalau ingin mudahnya
saja maka dipinggir lautan sudah
cukup tapi tidak bisa merasakan
dalamnya lautan.
Mungkin banyak yang pilih hidup
saja dari pada mati. Padahal ini : LITA`LAMUU " Supaya kamu itu mempunyai ilmu
pengetahuan.
Kembali ke persoalan tadi :
" Apakah ada yang muncul dari
bumi itu yang lengkap, ada
surganya, ada nerakanya, `arsynya, lauhil mahfudznya,
yang mana itu ? ".
Anda renung-renungkan sendiri.
Satu ayat ini mengandung
pengertian yang sangat rahasia.
Jadi ada yang dari bumi ini yang muncul yang mengandung seluruh
yang ada di alam semesta ini,
semuanya diringkas disitu ; ada
mataharinya, bulannya,
bintangnya, lautnya, daratnya,
bukitnya, telo-nya, ada anjingnya, celengnya, ularnya, ada emasnya,
peraknya, ada mekkahnya,
madinahnya, ka`bahnya, ada
kafirnya, ada muslimnya,
taqwanya. WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA Satu ayat ini saja kalau
diterangkan detail dalam buku,
maka akan jadi buku yang tebal.
Ayat inilah yang dijadikan
sumber oleh Imam Ghozali
sebagai penilaian masalah ilmu.
SAMAAWAATIN WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA YATANAZZALUL
AMRU BAINAHUNNA LITA`LAMUU
ANNALLOOHA `ALAA KULLI SYAI-
IN QODIIR WA ANNALLOOHA QOD AHAATHO BIKULLI SYAI-IN
`ILMAA.
( At Tholaq –Surat 65 –Ayat : 12 ). Artinya : " Allohlah yang
menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi. Perintah
Alloh berlaku padanya, agar
kamu mengetahui bahwasannya
Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Alloh,
ilmuNya benar-benar meliputi
segala sesuatu ".
Didalam Kitab Al Hikam ( kitab
tashawwuf tingkat tinggi ),
tentang tafsir ayat ini Shohabat Ibnu Abbas pernah berkata :
" Seandainya kami terangkan
dengan sejelas-jelasnya tafsirnya
ayat ini, pastilah kami akan
dituduh oleh orang mukmin
awam bahwa kami ini zindiq, kafir, bahkan mungkin darah
kami akan dihalalkan ".
Ayat ini mengandung rahasia
yang paling rahasia.
Jadi yang diterjemahkan di
terjemahan Alqur-an itu dari segi dhohirnya saja.
Kata Ibnu Abbas : Kalau
diterangkan, dibuka blak-blakan
dari segi dalamnya / bathinnya /
haqeqatnya, maka nanti leher
kami ini dipotong orang, karena orang-orang mukmin awam itu
nanti kaget. ( Umumnya orang
awam itu masih banyak yang
kagetan. Kenapa kagetan ?
Karena masih kanak-kanak,
kanak-kanak itu kan kagetan ). Jadi lebih baik tidak dibuka pada
orang awam, daripada nanti
dipukuli orang, malah dituduh
bid`ah dlolaalah, sesat
menyesatkan, kafir
mengkafirkan, zindiq menzindiqkan, maka tidak usah
diterangkan secara haqeqat,
cukup diterangkan secara kuliti
saja. SESUATU DARI BUMI YANG
SEMITSAL 7 LANGIT DAN 7
BUMI Coba direnung-renungkan ayat
tersebut diatas, hanya direnung-
renungkan saja :
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Artinya : " Dan dari bumi ada
yang semisal semuanya itu ( 7 langit dan 7 bumi ) ".
Coba direnung-renungkan ,
karena kalau tidak dianjurkan ya
tidak memikirkan, mintanya
hanya di dorong saja, tidak mau
kesulitan. WAMINAL ARDLI : " dan dari bumi
".
Padahal dari bumi itu banyak, ada
alam benda, alam tumbuh-
tumbuhan, alam hayawan, itu
semua dari bumi. Lalu manakah sesuatu dari bumi
itu yang MITSLAHUNNA , yang
sama dengan 7 langit dan 7 bumi ?
Ayat ini tidak menyebut :
" MATSALAHUNNA " tapi "
MITSLAHUNNA " . Kalau Matsal maknanya
perumpamaan.
Kalau Mitsil bukan perumpamaan
tapi dua barang yang sejenis
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Dari bumi ada sesuatu yang muncul, yang semisal semua yang
ada di 7 langit dan 7 bumi ; disitu
ada langitnya tujuh, buminya
tujuh, ada mataharinya, bulannya,
bintangnya, lautannya, hutannya,
ada percilnya, ada ularnya, ada singanya, ada setannya, ada
malaikatnya, ada iblisnya, ada
gondoruwonya, ada kuntilanak-
nya.
Coba diangan-angan yang mana
yang lengkap itu ? Kami kira anda bisa berfikir sendiri, siapa itu ?
Ayat ini :
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Kalau diterangkan di umum, kita
bisa dipukuli atau dituduh yang
bukan-bukan. Padahal Shohabat Ibnu Abbas,
yaitu seorang shohabat yang
pernah didoakan kanjeng Nabi :
" Kamu ( Ibnu Abbas ) paling tahu
rahasianya Al Qur-an ".
Apakah bila Shohabat Ibnu Abbas yang membuka rahasia ayat
tersebut juga dituduh brengsek ?
Terserah bila berani mengatakan
begitu.
Dikira kalau sudah bisa faham
terjemahan Al Qur-an yang diterjemahkan Departemen
Agama dianggap sudah selesai
tuntas. Tidak !
ALLOHULLADZII KHOLAQO SAB`A
SAMAAWAATIN WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA YATANAZZALUL AMRU BAINAHUNNA LITA`LAMUU
ANNALLOOHA `ALAA KULLI SYAI-
IN QODIIR WA ANNALLOOHA QOD
AHAATHO BIKULLI SYAI-IN
`ILMAA.
( At Tholaq –Surat 65 –Ayat : 12 ). Artinya : " Allohlah yang
menciptakan 7 langit dan seperti
itu pula bumi, perintah Alloh
berlaku padanya, agar kamu
mengetahui bahwasannya Alloh
Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Alloh, IlmuNya
benar-benar meliputi segala
sesuatu ".
Orang awam ; mengartikan
begitu saja sudah selesai.
Kalau bukan tashawwuf ya terjemahannya saja, tapi kalau
tashawwuf tidak begitu.
Kalau dimasuki melalui
tashawwuf, mungkin kami dan
anda ibaratnya masih intip-intip di
tepinya lautan, menyelam tidak berani karena kuatir akan mati,
kalau dipinggir saja mudah, tapi
tidak bisa merasakan dalamnya
lautan.
Pilih mana : Kalau ingin
merasakan dalamnya lautan maka mati, kalau ingin mudahnya
saja maka dipinggir lautan sudah
cukup tapi tidak bisa merasakan
dalamnya lautan.
Mungkin banyak yang pilih hidup
saja dari pada mati. Padahal ini : LITA`LAMUU " Supaya kamu itu mempunyai ilmu
pengetahuan.
Kembali ke persoalan tadi :
" Apakah ada yang muncul dari
bumi itu yang lengkap, ada
surganya, ada nerakanya, `arsynya, lauhil mahfudznya,
yang mana itu ? ".
Anda renung-renungkan sendiri.
Satu ayat ini mengandung
pengertian yang sangat rahasia.
Jadi ada yang dari bumi ini yang muncul yang mengandung seluruh
yang ada di alam semesta ini,
semuanya diringkas disitu ; ada
mataharinya, bulannya,
bintangnya, lautnya, daratnya,
bukitnya, telo-nya, ada anjingnya, celengnya, ularnya, ada emasnya,
peraknya, ada mekkahnya,
madinahnya, ka`bahnya, ada
kafirnya, ada muslimnya,
taqwanya. WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA Satu ayat ini saja kalau
diterangkan detail dalam buku,
maka akan jadi buku yang tebal.
Ayat inilah yang dijadikan
sumber oleh Imam Ghozali
sebagai penilaian masalah ilmu.
ULAMA DHOHIR VS ULAMA BHATIN
Ada sebagian umat Islam yang
menghabis kan umurnya untuk
menyelidiki makna yang dhohir,
sehingga menjadi ulama' DHOHIR. Ada sebagian umat Islam yang
khusus tenggelam menyelidiki
maknanya huruf-huruf dari segi
bathin, sehingga menjadi ulama'
BATHIN.
Mestinya Ulama' dhohir dan Ulama' bathin itu gabung.
Bertahun-tahun Ulama' Dhohir dan
Ulama' bathin tidak gabung,
hanya sendiri-sendiri, akhirnya
tumbrukkan (saling tentang) bila
ada yang memberi makna secara bathin dikatakan:
menyimpang, bid'ah dlolalah,
sesat menye satkan,neraka
Jahannam, neraka Jahim, neraka
Khuthomah, neraka Hawiyah,
neraka-neraka, dan seterusnya, yang di syurga hanya Ulama'
dhohir, (lupa kalau Adam pernah
menangis di dalam syurga).
Karena selama itu Al Qur'an
difahami dhohir saja.
Ulama' bathin dikeritik seperti itu juga merasa menggerutu
(nggresulo), ganti balik
mengkritik Ulama' dhohir.
Ulama' dhohir itu kuliti, dikira
yang berangakat itu kuliti,
padahal yang berangkat itu yang ghoib, isinya. Kalau ditinggal
isinya yang ada kulitnya
(melompong, tidak ada apa-
apanya).
Saling mengkritik antara
keduanya, sehingga tubrukan, bertengkar, marah-marah, yang
waktunya tidak sebentar, tapi
ratusan tahun, tidak akur (tidak
rukun).
ALHAMDULILLAH akhirnya muncul
tiap-tiap 100 tahun Mujadid satu. Jadi tiap-tiap 100 tahun itu muncul
satu orang yang dinamakan
MUJADIDUL ISLAM. Muncul mujadid
Imam Ghozali, kemudian
digabungkan antara Ulama'
dhohir dengan Ulama' bathin. Setelah wawuh (gabung) saling
sadar, antara yang dhohir dan
yang bathin " ee … ternyata ada keduanya".
Itulah yang menjadi sebab
pertentangan (tidak akur),
karena hanya dipandang dari
sebelah saja. CONTOH : MAKNA DHOHIR DAN
MAKNA BATHIN BISMILLAAHIR
ROHMAANIR ROOHIIM Umpama memberi makna
BISMILLAAHIR
ROHMAANIRROOHIIM, secara
dhohir :
BISMILLAAHIR : Dengan nama
Alloh ROHMAANIR : Yang maha
Penyayang
ROOHIIM : Yang Maha Pengasih
Itu kalau memberi makna secara
umum, itu dhohir, bahkan kalau
diTV-TV membaca makna: "Dengan nama Alloh Yang Maha
Penyayang dan Maha Pengasih",
dilagukan.
Ahli bathin tahu seperti itu
berkata :
" Yaa … seperti itu dhohiri, kuliti, lebay".
Tapi apabila ada yang memberi
makna secara bathin, mereka ahli
dhohir geger, dikatakan
menyimpang dari makna. Kalau
Basmalah diberi makna : BISMI : Itu nama ,
ALLOH : itu juga nama,
ARROHMAN : Maha Penyayang,
ARROHIIM : Maha Pengasih.
itu betul, itu bahasa arab. Asal
tidak diberi makna yang tidak- tidak. Itu kata ahli dhohir.
Pernah seorang kyai besar,
bernama (Kyai Munthoho), Beliau
bintangnya ilmu kalam, guru
Mursyid Thoriqot
Naqsyabandiyyah. Guru kami juga berguru / mempelajari
Thoriqot Naqsyaban diyyah
secara tuntas. Baiatannya dari
awal sampai akhir mulai baitan
Lathifah tujuh, lathifah Qolbi,
lathifah Ruh, lathifah Sirri, sampai tujuh jum'at, ditambah 21 jum'at,
sudah saya tuntaskan hingga
selesai.
Suatu saat beliau itu punya kitab
tinggalan gurunya (tiga kitab jadi
satu) namanya kitab MADNUN KABIR, MADNUN SHOGHIR dan
INSAN KAMIL, kitab haqeqat
tingkat tinggi. Banyak dari para
murid yang ingin memiliki kitab
itu, beli di toko-toko tidak ada.
Dua kitab MADNUN KABIR dan MADNUN SHOGHIR karangannya
IMAM GHOZALI dan yang kitab
INSAN KAMIL karangan ABDUL
KARIM JAELANI muridnya IBNU
AROBI tokoh Wahdatul wujud
internasional. Kyai Munthoho menawarkan pada
murid-muridnya ," Murid-murid
siapa yang ingin memiliki kitab
ini akan saya kasih, asal bisa
memberikan makna : BISMILLAAHIRROHMAANIRROHI
IM Semuanya merasa bisa, sehingga
mereka maju untuk memberi
makna, satu persatu. Maka
membaca dan memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM Dengan sarono asmo –Kang Moho Welas –Kang Moho Asih, dunyo Akhirot. Makna yang diberikan seperti itu,
dan semuanya sama, dari
masing-masing murid, secara
bergantian maju kedepan, maka
semuanya gagal tidak ada yang
dapat kitab. Kata Kyai Munthoho ," memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
seperti itu, ya tidak saya beri
kitab, tidak lulus …!" . Kemudian giliran Guru kami,
sedang waktu itu murid yang
muda itu beliau, dan beliau maju
untuk memberi makna. Murid-
murid yang lain mengatakan ,"
Saya yang menjadi murid lama (kawakan) saja gagal, apalagi
murid yang masih kencur ..!".
Dalam hati beliau , Kencur-kencur
jadi jamu.
***
Jadi itu masih makna-makna
kalimat, belum makna huruf-
hurufnya, seperti : Huruf BA' ada maknanya
sendiri.
Huruf SIN ada maknanya
sendiri.
Huruf MIM ada maknanya
sendiri. Umpama diberi makna BA' itu Bapak, SIN itu Anak, MIM itu Mak (ibu), Alloh yang menciptakan
Bapak, Anak, Mak, maka mereka
pasti ramai. Ba' kok diberi makna
Bapak, MIM kok diberi makna
mak.
Mak itu kan MA-UN dan MA-UN itu AIR, dan BA-UN itu BUMI. Dan SIN
itu rasa ghoib, pertemuannya
antara BA' dan MIM jadi anak. Ini
kalau diberi makna seperti itu
pasti ramai, dikatakan bid'ah
dlolalah. Saya tidak memberi makna seperti itu, karena
menghormati mereka-mereka.
Perkara memberi makna yang
seperti tadi, itu adalah kedalam,
tidak keluar.
Ini contoh-contoh saja mengenai keterangan makna bathin. Dan itu
baru selintas saja. Masih banyak
makna bathin dari satu kalimat
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
menghabis kan umurnya untuk
menyelidiki makna yang dhohir,
sehingga menjadi ulama' DHOHIR. Ada sebagian umat Islam yang
khusus tenggelam menyelidiki
maknanya huruf-huruf dari segi
bathin, sehingga menjadi ulama'
BATHIN.
Mestinya Ulama' dhohir dan Ulama' bathin itu gabung.
Bertahun-tahun Ulama' Dhohir dan
Ulama' bathin tidak gabung,
hanya sendiri-sendiri, akhirnya
tumbrukkan (saling tentang) bila
ada yang memberi makna secara bathin dikatakan:
menyimpang, bid'ah dlolalah,
sesat menye satkan,neraka
Jahannam, neraka Jahim, neraka
Khuthomah, neraka Hawiyah,
neraka-neraka, dan seterusnya, yang di syurga hanya Ulama'
dhohir, (lupa kalau Adam pernah
menangis di dalam syurga).
Karena selama itu Al Qur'an
difahami dhohir saja.
Ulama' bathin dikeritik seperti itu juga merasa menggerutu
(nggresulo), ganti balik
mengkritik Ulama' dhohir.
Ulama' dhohir itu kuliti, dikira
yang berangakat itu kuliti,
padahal yang berangkat itu yang ghoib, isinya. Kalau ditinggal
isinya yang ada kulitnya
(melompong, tidak ada apa-
apanya).
Saling mengkritik antara
keduanya, sehingga tubrukan, bertengkar, marah-marah, yang
waktunya tidak sebentar, tapi
ratusan tahun, tidak akur (tidak
rukun).
ALHAMDULILLAH akhirnya muncul
tiap-tiap 100 tahun Mujadid satu. Jadi tiap-tiap 100 tahun itu muncul
satu orang yang dinamakan
MUJADIDUL ISLAM. Muncul mujadid
Imam Ghozali, kemudian
digabungkan antara Ulama'
dhohir dengan Ulama' bathin. Setelah wawuh (gabung) saling
sadar, antara yang dhohir dan
yang bathin " ee … ternyata ada keduanya".
Itulah yang menjadi sebab
pertentangan (tidak akur),
karena hanya dipandang dari
sebelah saja. CONTOH : MAKNA DHOHIR DAN
MAKNA BATHIN BISMILLAAHIR
ROHMAANIR ROOHIIM Umpama memberi makna
BISMILLAAHIR
ROHMAANIRROOHIIM, secara
dhohir :
BISMILLAAHIR : Dengan nama
Alloh ROHMAANIR : Yang maha
Penyayang
ROOHIIM : Yang Maha Pengasih
Itu kalau memberi makna secara
umum, itu dhohir, bahkan kalau
diTV-TV membaca makna: "Dengan nama Alloh Yang Maha
Penyayang dan Maha Pengasih",
dilagukan.
Ahli bathin tahu seperti itu
berkata :
" Yaa … seperti itu dhohiri, kuliti, lebay".
Tapi apabila ada yang memberi
makna secara bathin, mereka ahli
dhohir geger, dikatakan
menyimpang dari makna. Kalau
Basmalah diberi makna : BISMI : Itu nama ,
ALLOH : itu juga nama,
ARROHMAN : Maha Penyayang,
ARROHIIM : Maha Pengasih.
itu betul, itu bahasa arab. Asal
tidak diberi makna yang tidak- tidak. Itu kata ahli dhohir.
Pernah seorang kyai besar,
bernama (Kyai Munthoho), Beliau
bintangnya ilmu kalam, guru
Mursyid Thoriqot
Naqsyabandiyyah. Guru kami juga berguru / mempelajari
Thoriqot Naqsyaban diyyah
secara tuntas. Baiatannya dari
awal sampai akhir mulai baitan
Lathifah tujuh, lathifah Qolbi,
lathifah Ruh, lathifah Sirri, sampai tujuh jum'at, ditambah 21 jum'at,
sudah saya tuntaskan hingga
selesai.
Suatu saat beliau itu punya kitab
tinggalan gurunya (tiga kitab jadi
satu) namanya kitab MADNUN KABIR, MADNUN SHOGHIR dan
INSAN KAMIL, kitab haqeqat
tingkat tinggi. Banyak dari para
murid yang ingin memiliki kitab
itu, beli di toko-toko tidak ada.
Dua kitab MADNUN KABIR dan MADNUN SHOGHIR karangannya
IMAM GHOZALI dan yang kitab
INSAN KAMIL karangan ABDUL
KARIM JAELANI muridnya IBNU
AROBI tokoh Wahdatul wujud
internasional. Kyai Munthoho menawarkan pada
murid-muridnya ," Murid-murid
siapa yang ingin memiliki kitab
ini akan saya kasih, asal bisa
memberikan makna : BISMILLAAHIRROHMAANIRROHI
IM Semuanya merasa bisa, sehingga
mereka maju untuk memberi
makna, satu persatu. Maka
membaca dan memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM Dengan sarono asmo –Kang Moho Welas –Kang Moho Asih, dunyo Akhirot. Makna yang diberikan seperti itu,
dan semuanya sama, dari
masing-masing murid, secara
bergantian maju kedepan, maka
semuanya gagal tidak ada yang
dapat kitab. Kata Kyai Munthoho ," memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
seperti itu, ya tidak saya beri
kitab, tidak lulus …!" . Kemudian giliran Guru kami,
sedang waktu itu murid yang
muda itu beliau, dan beliau maju
untuk memberi makna. Murid-
murid yang lain mengatakan ,"
Saya yang menjadi murid lama (kawakan) saja gagal, apalagi
murid yang masih kencur ..!".
Dalam hati beliau , Kencur-kencur
jadi jamu.
***
Jadi itu masih makna-makna
kalimat, belum makna huruf-
hurufnya, seperti : Huruf BA' ada maknanya
sendiri.
Huruf SIN ada maknanya
sendiri.
Huruf MIM ada maknanya
sendiri. Umpama diberi makna BA' itu Bapak, SIN itu Anak, MIM itu Mak (ibu), Alloh yang menciptakan
Bapak, Anak, Mak, maka mereka
pasti ramai. Ba' kok diberi makna
Bapak, MIM kok diberi makna
mak.
Mak itu kan MA-UN dan MA-UN itu AIR, dan BA-UN itu BUMI. Dan SIN
itu rasa ghoib, pertemuannya
antara BA' dan MIM jadi anak. Ini
kalau diberi makna seperti itu
pasti ramai, dikatakan bid'ah
dlolalah. Saya tidak memberi makna seperti itu, karena
menghormati mereka-mereka.
Perkara memberi makna yang
seperti tadi, itu adalah kedalam,
tidak keluar.
Ini contoh-contoh saja mengenai keterangan makna bathin. Dan itu
baru selintas saja. Masih banyak
makna bathin dari satu kalimat
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
Senin, 28 Maret 2011
PENGERTIAN SYAHADAT
Asyahadualla ilaaha illallah ini
merupakan syahadat tauhid atau
hakekat ketuhanan yaitu diri
bathin manusia (Rohani) Wa-
asyhadu anna muhammadar rasulullah ini merupakan syahadat
rasul atau hakekat kerasulan
yaitu diri zahir manusia. (Jasmani).
Diri bathin (rohani) adalah
sebenar-benarnya diri yang
menyatakan : ..Rahasia Allah... Untuk menyatakan diri Rahasia
Allah Adalah diri zahir manusia.
Sedangkan … .. Kata Muhammad pada syahadat Rasul mengandung
arti yaitu diri zahir manusia yang
menanggung rahasia Allah.
Kejadian manusia adalah satu-
satunya kejadian yang paling rapi.
( Q.S. Attin-4) Kemulyaan manusia karena manusialah yang sanggup
menanggung rahasia Allah (Q.S. Al-
Ahzab 72). Dan karena firman
Allah dalam surat Al-Ahzab 72
inilah kita mengucapkan : “ Asyahadualla Ilaaha Illallah Wa
Asyahadu Anna Muhammadar
Rasulullah” Yang berarti : Kita bersaksi dengan diri kita sendiri
bahwa tiada yang nyata pada diri
kita sendiri hanya Allah Semata
dengan tubuh zahir
kita sebagai tempat menanggung
rahasia Allah dan akan menjaganya buat selama-
lamanya. Catatan: Jumlah dalam
kalimat tauhid itu ada 24 hurut Hal
ini mengisyaratkan kehidupan
manusia adalah 24 jam sehari
semalam. Lailaha illallah muhammad rasullullah.
merupakan syahadat tauhid atau
hakekat ketuhanan yaitu diri
bathin manusia (Rohani) Wa-
asyhadu anna muhammadar rasulullah ini merupakan syahadat
rasul atau hakekat kerasulan
yaitu diri zahir manusia. (Jasmani).
Diri bathin (rohani) adalah
sebenar-benarnya diri yang
menyatakan : ..Rahasia Allah... Untuk menyatakan diri Rahasia
Allah Adalah diri zahir manusia.
Sedangkan … .. Kata Muhammad pada syahadat Rasul mengandung
arti yaitu diri zahir manusia yang
menanggung rahasia Allah.
Kejadian manusia adalah satu-
satunya kejadian yang paling rapi.
( Q.S. Attin-4) Kemulyaan manusia karena manusialah yang sanggup
menanggung rahasia Allah (Q.S. Al-
Ahzab 72). Dan karena firman
Allah dalam surat Al-Ahzab 72
inilah kita mengucapkan : “ Asyahadualla Ilaaha Illallah Wa
Asyahadu Anna Muhammadar
Rasulullah” Yang berarti : Kita bersaksi dengan diri kita sendiri
bahwa tiada yang nyata pada diri
kita sendiri hanya Allah Semata
dengan tubuh zahir
kita sebagai tempat menanggung
rahasia Allah dan akan menjaganya buat selama-
lamanya. Catatan: Jumlah dalam
kalimat tauhid itu ada 24 hurut Hal
ini mengisyaratkan kehidupan
manusia adalah 24 jam sehari
semalam. Lailaha illallah muhammad rasullullah.
Minggu, 27 Maret 2011
ISRO MI'ROJ
Isra Mikraj . Peristiwa ini seringkali hanya dipahami
sebagai turunnya perintah sholat
lima waktu. Banyak orang yang
hanya mengambil hikmahnya
saja dari peristiwa Isra Mikraj
tapi sedikit sekali yang mau meneladaninya atau
mengalaminya langsung bertemu
dengan-Nya. Hal ini disebabkan
terpengaruh oleh pendapat ulama
yang mengatakan bahwa Isra
Mikraj cuma bisa dilakukan oleh Nabi Muhammad. Seharusnya
ulama tersebut jujur kepada diri
sendiri kalau memang belum
mampu melakukan atau
mengalami Isra Mikraj. Nah,
kalau belum mengalami seharusnya introspeksi diri
jangan lantas kemudian
mengatakan sesat jika ada orang
lain yang mampu melakukan Isra
Mikraj. Peristiwa Isra Mikraj
sama sekali bukan untuk dikagumi belaka! bukan pula
untuk dimitoskan! tapi untuk
diteladani. Sekali lagi, diteladani!.
Peristiwa Isra Mikraj dapat kita
baca dalam Al Quran,
sebagaimana dibawah ini: Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya
pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang
telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat. (Q.S Al Israa (17) :
1) Para ulama berbeda pendapat
tentang perjalanan Nabi dalam
Isra Mikraj ini. Sebagian ulama
mengatakan bahwa perjalanan
Isra Mikraj Nabi Muhammad
adalah secara fisik dan ruh, dan sebagian lagi mengatakan hanya
ruh saja yang melakukan
perjalanan. Perbedaan pendapat
ini bukanlah hal yang harus
dipersoalkan karena yang
terpenting adalah memahami hakekat Isra Mikraj itu sendiri.
Saya tetap menghargai pendapat
ulama lain meski saya sendiri
berpendapat bahwa Nabi
melakukan perjalanan secara
ruhani – bukan fisik. Tuhan adalah Maha Roh dan untuk menemui-
Nya adalah melalui ruh juga. Fisik hendaknya “ ditanggalkan ” atau dimatikan dahulu. Istilah
jawanya adalah mati sakjroning
urip (mati selagi hidup). Nabi juga
bersabda muutuu qobla an
tamuutu (matikan dirimu sebelum
mati yang sesungguhnya). Bagi sebagian ulama, perjalanan
Nabi Muhammad dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha sering
ditafsirkan secara harfiah yakni
Nabi benar-benar melakukan
perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Padahal ketika
ayat diatas turun, Masjidil Aqsha
belum ada sama sekali. Tempat
sebelum Masjidil Aqsha didirikan
adalah reruntuhan candi
Sulaiman. Masjidil Aqsha baru didirikan pada kekhalifahan Umar
bin Khattab dan baru selesai
pembangunannya pada
kekhalifahaan Abdul Malik bin
Marwan pada 68 H yakni lima
puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Jadi masjid
tersebut adalah “ simbol” yang harus dikaji maknanya lebih
mendalam. Oleh karena sulit
menjelaskan hal gaib maka
simbol diperlukan untuk
memudahkan pemahaman. Nah,
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha adalah simbol dari bayt Allah
(rumah Allah). Tentu makna
rumah Allah disini tidak diartikan
secara harfiah sebagaimana
rumah manusia karena
sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rumah. Peristiwa
Isra Mikraj adalah peristiwa
dimana Rasulullah berkunjung ke
bayt Allah. Dimana letaknya bayt
Allah? Ya di dalam diri tiap
manusia. Beliau melakukan perjalanan
ruhani ke dalam diri. Dalam
sebuah Hadistnya Nabi
mengatakan : “ Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan
mengenal Tuhannya ” . Dalam suatu riwayat lain juga
diceritakan bahwa tempat nabi
melakukan Mikraj masih hangat.
Ini artinya nabi tidak melakukan
perjalanan spiritual secara fisik
melainkan perjalanan secara ruhani yakni melalui zikir dan
tafakur. Manusia tidak perlu
melakukan perjalanan secara
fisik untuk menemui Allah karena
sesungguhnya Allah tidak berada
disuatu tempat yang terikat oleh ruang dan waktu layaknya
manusia. Allah itu meliputi segala
sesuatu. Sesungguhnya Dia meliputi segala
sesuatu. (Q.S Fushshilat (41) : 54) Dan Allah lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya. (Q.S Qaaf
(50) : 16) Dan Allah bersama kamu dimana
saja kamu berada. (Q.S Al Hadiid
(57) : 4) Dari ayat diatas, kita akan
menyadari bahwa Allah itu
tidaklah berjauhan dengan
hamba-Nya dan untuk mengenal
Allah cukup dengan mengkaji ke
dalam diri pribadi. Usaha untuk mengkaji ke dalam diri dimulai
dengan Isra. Isra adalah usaha
atau pencarian yang dilakukan
manusia untuk mencari lalu
menemui Tuhannya. Hal ini disimbolkan melalui
perjalanan malam hari dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.
Disebut perjalanan malam karena
kebanyakan manusia ini hidup
dalam kegelapan karena tidak tahu akan kemana tujuan
hidupnya. Orang yang tidak tahu tujuan
hidup disebut orang yang buta
mata batinnya. Dan barang siapa yang buta (mata
batinnya) di dunia ini, niscaya di
akherat nanti akan lebih buta lagi
dan lebih tersesat dari jalan yang
benar. (Q.S Al Israa (17) : 72) Nah, kalau di dunia saja buta kita
tidak tahu arah yang dituju
apalagi di kehidupan yang akan
datang? Ibarat mau ke Surabaya
tapi tidak punya petunjuk jalan
untuk mencapai daerah tersebut. Di perjalanan ya tentu akan
nyasar. Tersesat ke arah yang
makin kita tidak tahu dan tentu
akan membuat kita makin
menderita karena berada
ditempat yang asing. Lalu apa tujuan hidup kita
sebenarnya? Ini telah saya
jelaskan di post terdahulu yaitu
kembali kepada Allah (Ilayhi
Roji’ un). Nah agar manusia tidak tersesat (buta mata batinnya) dan
selamat sampai kepada-Nya
maka manusia harus mampu
melakukan Isra Mikraj. Dan Isra
Mikrajnya tidak perlu pergi ke
Mekkah atau Yerusalem. Tidak perlu menjual tanah. Orang
miskin harta pun bisa melakukan
Isra Mikraj asalkan ia
bersungguh-sungguh ingin
menemui-Nya. Hai Manusia, bersungguh-
sungguhlah kamu dengan
setekun-tekunnya sehingga
sampai kepada Tuhanmu lalu
kamu menemui-Nya. (Q.S Al
Insyiqaaq (84) : 6)
sebagai turunnya perintah sholat
lima waktu. Banyak orang yang
hanya mengambil hikmahnya
saja dari peristiwa Isra Mikraj
tapi sedikit sekali yang mau meneladaninya atau
mengalaminya langsung bertemu
dengan-Nya. Hal ini disebabkan
terpengaruh oleh pendapat ulama
yang mengatakan bahwa Isra
Mikraj cuma bisa dilakukan oleh Nabi Muhammad. Seharusnya
ulama tersebut jujur kepada diri
sendiri kalau memang belum
mampu melakukan atau
mengalami Isra Mikraj. Nah,
kalau belum mengalami seharusnya introspeksi diri
jangan lantas kemudian
mengatakan sesat jika ada orang
lain yang mampu melakukan Isra
Mikraj. Peristiwa Isra Mikraj
sama sekali bukan untuk dikagumi belaka! bukan pula
untuk dimitoskan! tapi untuk
diteladani. Sekali lagi, diteladani!.
Peristiwa Isra Mikraj dapat kita
baca dalam Al Quran,
sebagaimana dibawah ini: Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya
pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang
telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat. (Q.S Al Israa (17) :
1) Para ulama berbeda pendapat
tentang perjalanan Nabi dalam
Isra Mikraj ini. Sebagian ulama
mengatakan bahwa perjalanan
Isra Mikraj Nabi Muhammad
adalah secara fisik dan ruh, dan sebagian lagi mengatakan hanya
ruh saja yang melakukan
perjalanan. Perbedaan pendapat
ini bukanlah hal yang harus
dipersoalkan karena yang
terpenting adalah memahami hakekat Isra Mikraj itu sendiri.
Saya tetap menghargai pendapat
ulama lain meski saya sendiri
berpendapat bahwa Nabi
melakukan perjalanan secara
ruhani – bukan fisik. Tuhan adalah Maha Roh dan untuk menemui-
Nya adalah melalui ruh juga. Fisik hendaknya “ ditanggalkan ” atau dimatikan dahulu. Istilah
jawanya adalah mati sakjroning
urip (mati selagi hidup). Nabi juga
bersabda muutuu qobla an
tamuutu (matikan dirimu sebelum
mati yang sesungguhnya). Bagi sebagian ulama, perjalanan
Nabi Muhammad dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha sering
ditafsirkan secara harfiah yakni
Nabi benar-benar melakukan
perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Padahal ketika
ayat diatas turun, Masjidil Aqsha
belum ada sama sekali. Tempat
sebelum Masjidil Aqsha didirikan
adalah reruntuhan candi
Sulaiman. Masjidil Aqsha baru didirikan pada kekhalifahan Umar
bin Khattab dan baru selesai
pembangunannya pada
kekhalifahaan Abdul Malik bin
Marwan pada 68 H yakni lima
puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Jadi masjid
tersebut adalah “ simbol” yang harus dikaji maknanya lebih
mendalam. Oleh karena sulit
menjelaskan hal gaib maka
simbol diperlukan untuk
memudahkan pemahaman. Nah,
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha adalah simbol dari bayt Allah
(rumah Allah). Tentu makna
rumah Allah disini tidak diartikan
secara harfiah sebagaimana
rumah manusia karena
sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rumah. Peristiwa
Isra Mikraj adalah peristiwa
dimana Rasulullah berkunjung ke
bayt Allah. Dimana letaknya bayt
Allah? Ya di dalam diri tiap
manusia. Beliau melakukan perjalanan
ruhani ke dalam diri. Dalam
sebuah Hadistnya Nabi
mengatakan : “ Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan
mengenal Tuhannya ” . Dalam suatu riwayat lain juga
diceritakan bahwa tempat nabi
melakukan Mikraj masih hangat.
Ini artinya nabi tidak melakukan
perjalanan spiritual secara fisik
melainkan perjalanan secara ruhani yakni melalui zikir dan
tafakur. Manusia tidak perlu
melakukan perjalanan secara
fisik untuk menemui Allah karena
sesungguhnya Allah tidak berada
disuatu tempat yang terikat oleh ruang dan waktu layaknya
manusia. Allah itu meliputi segala
sesuatu. Sesungguhnya Dia meliputi segala
sesuatu. (Q.S Fushshilat (41) : 54) Dan Allah lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya. (Q.S Qaaf
(50) : 16) Dan Allah bersama kamu dimana
saja kamu berada. (Q.S Al Hadiid
(57) : 4) Dari ayat diatas, kita akan
menyadari bahwa Allah itu
tidaklah berjauhan dengan
hamba-Nya dan untuk mengenal
Allah cukup dengan mengkaji ke
dalam diri pribadi. Usaha untuk mengkaji ke dalam diri dimulai
dengan Isra. Isra adalah usaha
atau pencarian yang dilakukan
manusia untuk mencari lalu
menemui Tuhannya. Hal ini disimbolkan melalui
perjalanan malam hari dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.
Disebut perjalanan malam karena
kebanyakan manusia ini hidup
dalam kegelapan karena tidak tahu akan kemana tujuan
hidupnya. Orang yang tidak tahu tujuan
hidup disebut orang yang buta
mata batinnya. Dan barang siapa yang buta (mata
batinnya) di dunia ini, niscaya di
akherat nanti akan lebih buta lagi
dan lebih tersesat dari jalan yang
benar. (Q.S Al Israa (17) : 72) Nah, kalau di dunia saja buta kita
tidak tahu arah yang dituju
apalagi di kehidupan yang akan
datang? Ibarat mau ke Surabaya
tapi tidak punya petunjuk jalan
untuk mencapai daerah tersebut. Di perjalanan ya tentu akan
nyasar. Tersesat ke arah yang
makin kita tidak tahu dan tentu
akan membuat kita makin
menderita karena berada
ditempat yang asing. Lalu apa tujuan hidup kita
sebenarnya? Ini telah saya
jelaskan di post terdahulu yaitu
kembali kepada Allah (Ilayhi
Roji’ un). Nah agar manusia tidak tersesat (buta mata batinnya) dan
selamat sampai kepada-Nya
maka manusia harus mampu
melakukan Isra Mikraj. Dan Isra
Mikrajnya tidak perlu pergi ke
Mekkah atau Yerusalem. Tidak perlu menjual tanah. Orang
miskin harta pun bisa melakukan
Isra Mikraj asalkan ia
bersungguh-sungguh ingin
menemui-Nya. Hai Manusia, bersungguh-
sungguhlah kamu dengan
setekun-tekunnya sehingga
sampai kepada Tuhanmu lalu
kamu menemui-Nya. (Q.S Al
Insyiqaaq (84) : 6)
Langganan:
Postingan (Atom)