Sebenarnya ilmu rohaniah itu adalah ilmu tasawuf atau dikatakan juga sebagai ilmu hakikat atau ilmu batin. Mengapa ilmu ini dikatakan ilmu rohani? Ini karena perbahasannya adalah mengenai roh.
Mengapa pula ia juga dikatakan ilmu tasawuf? Jika kita lihat perbincangan para ulama termasuk ulama modern, perkataan tasawuf itu diambil daripada bermacam-macam perkataan. Tetapi di sini saya hanya memilih salah satu daripadanya iaitu dari perkataan (syifak’) bermakna bersih atau murni. Tegasnya, ilmu tasawuf itu adalah ilmu bagaimana hendak membersihkan atau memurnikan roh (hati) atau nafsu. Agar dari dorongan hati yang bersih itu dapat membersihkan pula anggota lahir daripada melakukan kemungkaran dan kesalahan.
Oleh itu, ilmu tasawuf itu adalah ilmu mengenai cara-cara membersihkan lahir dan batin daripada dosa dan kesalahan. Bahkan kesalahan lahir ini berasal dari kesalahan batin. Dosa lahir ini berlaku setelah berlakunya dosa batin. Maka sebab itulah ia dikatakan ilmu tasawuf.
Kenapa pula ilmu ini juga dikatakan ilmu batin? Ini karena roh atau hati memang tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Ia adalah makhluk yang tersembunyi. Maka ilmu ini dinamakan ilmu batin kerana ia membahaskan tentang hati dan sifat-sifatnya yang memang tidak dapat dilihat dengan mata lahir tapi dapat dilihat oleh mata batin.
Mengikut pandangan umum masyarakat sekarang, bila disebut ilmu batin, mereka menganggap itu adalah ilmu pengasih atau ilmu kebal. Orang yang belajar ilmu batin bermakna dia belajar ilmu kebal atau belajar ilmu pengasih. Sebenarnya orang itu belajar ilmu kebudayaan Melayu, yang mana ilmu itu ada dicampur dengan ayat-ayat Al Quran. Kebal juga adalah satu juzuk daripada kebudayaan orang Melayu yang sudah disandarkan dengan Islam. Kalau kita hendak mempelajarinya tidak salah jika tidak ada unsur-unsur syirik. Tetapi itu bukan ilmu tasawuf atau ilmu kerohanian seperti apa yang kita bahaskan di sini.
Adakalanya ilmu tasawuf dipanggil juga ilmu hakikat. Ini karena hakikat manusia itu yang sebenarnya adalah rohnya. Yang menjadikan manusia itu hidup dan berfungsi adalah rohnya. Yang menjadikan mereka mukalaf disebabkan adanya roh. Yang merasa senang dan susah adalah rohnya. Yang akan ditanya di Akhirat adalah rohnya. Hati atau roh itu tidak mati sewaktu jasad manusia mati. Cuma ia berpindah ke alam Barzakh dan terus ke Akhirat.
Jadi hakikat manusia itu adalah roh. Roh itulah yang kekal. Sebab itu ia dikatakan ilmu hakikat. Oleh yang demikian apabila kita mempelajari sungguh-sungguh ilmu rohani ini hingga kita berhasil membersihkan hati, waktu itu yang hanya kita miliki adalah sifat-sifat mahmudah iaitu sifat-sifat terpuji. Sifat-sifat mazmumah iaitu sifat-sifat terkeji sudah tidak ada lagi. Maka jadilah kita orang yang bertaqwa yang akan diberi bantuan oleh Allah SWT di dunia dan Akhirat.
Kebersihan hati inilah yang akan menjadi pandangan Allah. Maksudnya, bila hati bersih, sembahyangnya diterima oleh Allah SWT. Bila hati bersih, puasanya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, perjuangannya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, wirid dan zikirnya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, pengorbanannya diterima oleh Allah. Tetapi bila hati tidak bersih, seluruh amalan lahirnya tidak akan diterima. Itulah yang dimaksudkan di dalam ajaran Islam bahwa walaupun kedua-dua amalan lahir dan amalan batin diperintahkan melaksanakannya tetapi penilaiannya adalah amalan roh atau hatinya. Ini sesuai dengan Hadis yang bermaksud:
“Cukup sembahyang sunat dua rakaat daripada hati yang bertaqwa.”
Maknanya dua rakaat sembahyang seorang yang bertaqwa itu lebih baik daripada seorang yang banyak sembahyang tetapi hati masih kotor. Selain sembahyang itu diterima, dua rakaat sembahyang dari hati yang bertaqwa itu akan memberi kesan kepada kehidupan seseorang itu. Sembahyangnya itu bisa mencegah dirinya dari berbuat kemungkaran dan kemaksiatan, lahir dan batin.
Berdasarkan Hadis di atas, kita cukup bimbang karena selama ini kita telah mengerjakan sembahyang, sudah lama berjuang, sedikit sebanyak sudah berkorban, sudah habiskan masa untuk berdakwah, sembahyang berjemaah, ikut jema’ah Islamiah, yang mana ini semua adalah amalan lahir, rupa-rupanya Allah tidak terima semua amalan itu disebabkan hati kita masih kotor. Roh kita masih tidak bersih.
Oleh itu dalam kita menunaikan kewajiban yang lahir ini, jangan lupa kita memikirkan roh kita. Kerana roh yang kotor itulah yang akan mencacatkan amalan lahir, mencacatkan sembahyang, mencacatkan segala ibadah dan mencacatkan pahala seluruh kebaikan kita.
Cuba renung kembali Hadis yang pernah diucapkan oleh Rasulullah SAW kepada Sayidina Muaz bin Jabal.
Orang yang banyak amal ibadah, di langit yang pertama sudah tercampak amalannya. Kalaupun bisa naik, di langit yang kedua pula tersekat. Begitulah seterusnya di pintu-pintu langit yang lain hingga sampai ke pintu langit yang ketujuh, tersangkut lagi. Itu bagi orang yang beramal, masih tertolak amalannya. Bagaimana agaknya kalau orang yang tidak beramal langsung?
Mengapa amalan lahir itu tersangkut? Tersangkutnya amalan itu karena ia ada hubungan dengan penyakit batin atau roh (hati) kita yang masih kotor. Orang yang mengumpat umpamanya, karena hatinya sakit. Walaupun mengumpat itu nampaknya amalan lahir, mulutnya yang bercakap tetapi ia datang dari hati yang kotor. Sebenarnya hati itulah yang mengumpat. Hasad dengki, riyak, kibir, sombong dan sebagainya, itu semua amalan hati. Rupa-rupanya yang menghijab amalan lahir ini adalah mazmumah hati. Amalan hati (roh) ini hendaklah dijaga karena mazmumah hati inilah yang membatalkan pahala amalan-amalan lahir.
Ditegaskan sekali lagi, ilmu rohani adalah ilmu yang mengesan tabiat roh atau hati baik yang mazmumah atau mahmudahnya. Bukan untuk mengetahui hakikat zat roh itu sendiri. Hakikat roh itu sendiri tidak akan dapat dijangkau oleh mata kepala atau tidak akan dapat dibahaskan. Tetapi apa yang hendak dibahaskan adalah sifat-sifatnya saja supaya kita dapat mengenal sifat-sifat roh atau hati kita yang semula jadi itu. Mana-mana yang mahmudahnya (positif) hendak dipersuburkan dan dipertajamkan. Kita pertahankannya karena itu adalah diperintah oleh syariat, diperintah oleh Allah dan Rasul dan digemari oleh manusia. Mana-mana yang mazmumahnya (negatif) hendaklah ditumpaskan kerana sifat-sifat negatif itu dimurkai oleh Allah dan Rasul serta juga dibenci oleh manusia.
Oleh yang demikian, sesiapa yang memiliki ilmu tentang roh ini, mudahlah dia mengesan sifat-sifat semula jadi yang ada pada roh itu. Mahmudahnya dapat disuburkan dan yang mazmumahnya dapat ditumpaskan. Maka jadilah roh atau hati seseorang itu bersih dan murni.
Sedangkan hati adalah raja dalam kerajaan diri. Bila raja dalam kerajaan diri ini sudah bersih, baik, adil, takut kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul, maka sudah tentu dia akan mendorong rakyat dalam dirinya iaitu anggota (jawarih) ini untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Mudah untuk membangunkan syariat dan Sunnah Rasulullah SAW serta mudah berbuat bermacam-macam bentuk kebaikan lagi.
Maka kebaikan anggota lahir inilah yang merupakan buah daripada kebersihan jiwa itu sendiri. Jadi kebersihan jiwa itulah pohon yang melahirkan kebaikan kepada tangan, mulut, mata, telinga, kaki dan seluruh tindakan lahir kita ini. Maka bila roh sudah baik, akan jadi baiklah seluruh lahir dan batin manusia. Bila baik lahir batin manusia, dia akan menjadi orang yang bertaqwa.
Bila dia telah menjadi orang yang bertaqwa, maka dia dapat pembelaan dari Allah baik di dunia maupun di Akhirat. Selagi belum menjadi manusia yang bertaqwa, tidak ada jaminan dari Allah akan dibela sama ada di dunia mahupun di Akhirat. Kalau sekadar menjadi orang Islam, tidak ada jaminan dari Allah untuk dibela.
Dalam Al Quran, Allah tidak mengatakan akan membela orang Islam. Tidak ada satu ayat pun yang Allah berjanji hendak membantu orang Islam. Tetapi yang ada dalam ayat Al Quran maupun dalam Hadis, Allah hanya membantu orang-orang mukmin yang bertaqwa. Jadi bila jiwa sudah bersih, maka akan bersih lahir dan batin, maknanya orang itu sudah memiliki sifat-sifat taqwa. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam Al Quran:
Maksudnya: “Hendaklah kamu berbekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu adalah sifat taqwa.” (Al Baqarah: 197)
Bila seseorang itu sudah dapat berbekal dengan sifat-sifat taqwa, maka dia akan dapat pembelaan dari Allah SWT. Pembelaan di dunia maupun di Akhirat. Sebenarnya, di sinilah rahasia kejayaan dan kemenangan umat Islam. Juga rahasia kehebatan umat Islam hingga berhasil menumpaskan musuh-musuhnya sama ada musuh lahir maupun musuh batin.
q ingt wkt mbah zen skit d rmh skit..ad yg datang minta ijazahan,em ad slh 1 dr meraka mengambl sdkit air zam-zam tanpa izin,,,na'udzubillah.
Rabu, 30 Maret 2011
wwwwww
Bismillahir Rahmanir Rahiim
1. Bada'tu bibismillaahi ruuchi bihihtadat,
Kuawali dengan menyebut Asma Alloh,dengan demikian jiwa saya memperoleh petunjuk
Ilaa kasyfi asroori bibaathinihinthowat
Kepada tersingkapnya rahasia-rahasia yang terkandung didalamnya (Asma Alloh) yang terlempit (tersembunyi/tersimpan)
2. Washollaitu fits tsaanii 'alaa khoiri kholqihi,
Yang kedua Sholawat atas sebaik-sebaik ciptaanNya
Muchammadin man zaachadh dholaalata walgholat
Muchammad seorang yang menghapus kesesatan dan kesalahan (kotoran hati)
3. Wa achyii ilaahil qolba mimba'di mautihi,
Yaa Tuhanku hidupkanlah hati dan setelah matinya
Bidzikrika yaa qoyyumu chaqqon taqowwamat
Dengan dzikirMu (mengingatMu) wahai Dzat yang Maha Tegak yang sebenar-sebenarnya (nyata-nyata) tegak
4. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,
Dan tambahkanlah keyaqinanku tetap dan teguh kepadaMu
Wathohhir bihi qolbii minarrijsi walgholat
Dan bersihkanlah dengannya (dengan dzikir kepadaMu) hatiku dari kotoran dan kesalahan (kotoran hati)
5.Wa ashmim wa abkim tsumma a'mi 'aduwwanaa,
Dan jadikan tuli, bisu serta butakan musuh kami
Wa akhrushumu yaa dzal jalaali bichausamat ¤
Dan sekali lagi bisukanlah mereka itu, wahai Tuhan Dzat yang Pencabut nyawa
6.Naruddu bikal a'daa'a minkulli wijhatin,
Dengan asma Mu tolaklah para musuh dari segala penjuru
Wa bil ismi tarmiihiim minal bu'di bisysyatat
Dengan Asma ini Engkau melempar mereka dari kejauhan dengan bercerai berai.
7. Sa altuka bil ismil mu'azdzdomi qodrohu,
Aku memohon dengan Asma yang dihormati (diagungkan) kebesarannya
Biaajin ahuujin jalla jalyuutu jaljalat
Dengan nama Alloh Yang Maha Esa,indah ciptaanNya, Yang Maha Kuasa
8. Fakun yaa ilaahi kaasyifadhdhurri walbalaa,
Maka adalah Alloh wahai Tuhanku Yang menghilangkan mudhorot (celaka) dan balak
Bihayyin jalaa hammii bihallin bihalhalat
Dengan Dzat Yang Mencukupi jelaslah cita-citaku dengan Dzat Yang Mengasihi dan Dzat Yang Maha Memperlonggar
9. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,
Dan tambahkanlah keyakinanku dengan tetap dan teguh besertaMu
Bichaqqika yaa chaqqol umuuri tayassarot
Dengan kebenaran Mu wahai Dzat Yang Maha Benar segala urusan menjadi mudah
10. Washobba 'alaa qolbii sya aabiiba rochmatin,
Dan semoga Alloh menuangkan (melimpahkan) pada hatiku curahan rochmat
Bichikmati maulaanal chakimi fa achkamat
Dengan hikmah Tuhan kami Yang Maha Bijaksana sehingga menjadi kukuh
11. Achaathot binal anwaaru minkulli jaanibin,
Cahaya-cahaya meliputi kami dari segala penjuru
Wahaibaatu maulaanal 'azdiimi binaa 'alat
Tetapi Kewibawaan Alloh Yang Maha Agung lebih tinggi bagi kami
12. Fasubchaanakallohumma yaa khoiro baari'in,
Maka Maha Suci Alloh wahai Dzat Yang Bebas
Wayaa khoiro khollaaqin wayaa khoiro mamba'ats
Dan wahai Dzat Yang sebaik-baik Pencipta dan wahai Dzat Yang sebaik-sebaik yang mengembalikan
13. 'Afuwwun ghofuurur roochimun mutafadhdhilun,
Pemaaf, Pengampun, Penyayang, Pemberi karunia
Kariimun chaliimun dzuu 'thooyaa takaatsarot
Mulia, Penyantun, empunya pemberian menjadi banyak
14. Rochiimun warochmaanun bichaqqika sayyidi,
Penyayang, Pengasih demi haqMu wahai Tuanku
Sa altuka ghufroonadz dzunuubi idzaa badat
Aku memohon pengampunan dosa-dosa jika mulai (nyata)
Alhamdulillahi Rabil Alamin
1. Bada'tu bibismillaahi ruuchi bihihtadat,
Kuawali dengan menyebut Asma Alloh,dengan demikian jiwa saya memperoleh petunjuk
Ilaa kasyfi asroori bibaathinihinthowat
Kepada tersingkapnya rahasia-rahasia yang terkandung didalamnya (Asma Alloh) yang terlempit (tersembunyi/tersimpan)
2. Washollaitu fits tsaanii 'alaa khoiri kholqihi,
Yang kedua Sholawat atas sebaik-sebaik ciptaanNya
Muchammadin man zaachadh dholaalata walgholat
Muchammad seorang yang menghapus kesesatan dan kesalahan (kotoran hati)
3. Wa achyii ilaahil qolba mimba'di mautihi,
Yaa Tuhanku hidupkanlah hati dan setelah matinya
Bidzikrika yaa qoyyumu chaqqon taqowwamat
Dengan dzikirMu (mengingatMu) wahai Dzat yang Maha Tegak yang sebenar-sebenarnya (nyata-nyata) tegak
4. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,
Dan tambahkanlah keyaqinanku tetap dan teguh kepadaMu
Wathohhir bihi qolbii minarrijsi walgholat
Dan bersihkanlah dengannya (dengan dzikir kepadaMu) hatiku dari kotoran dan kesalahan (kotoran hati)
5.Wa ashmim wa abkim tsumma a'mi 'aduwwanaa,
Dan jadikan tuli, bisu serta butakan musuh kami
Wa akhrushumu yaa dzal jalaali bichausamat ¤
Dan sekali lagi bisukanlah mereka itu, wahai Tuhan Dzat yang Pencabut nyawa
6.Naruddu bikal a'daa'a minkulli wijhatin,
Dengan asma Mu tolaklah para musuh dari segala penjuru
Wa bil ismi tarmiihiim minal bu'di bisysyatat
Dengan Asma ini Engkau melempar mereka dari kejauhan dengan bercerai berai.
7. Sa altuka bil ismil mu'azdzdomi qodrohu,
Aku memohon dengan Asma yang dihormati (diagungkan) kebesarannya
Biaajin ahuujin jalla jalyuutu jaljalat
Dengan nama Alloh Yang Maha Esa,indah ciptaanNya, Yang Maha Kuasa
8. Fakun yaa ilaahi kaasyifadhdhurri walbalaa,
Maka adalah Alloh wahai Tuhanku Yang menghilangkan mudhorot (celaka) dan balak
Bihayyin jalaa hammii bihallin bihalhalat
Dengan Dzat Yang Mencukupi jelaslah cita-citaku dengan Dzat Yang Mengasihi dan Dzat Yang Maha Memperlonggar
9. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,
Dan tambahkanlah keyakinanku dengan tetap dan teguh besertaMu
Bichaqqika yaa chaqqol umuuri tayassarot
Dengan kebenaran Mu wahai Dzat Yang Maha Benar segala urusan menjadi mudah
10. Washobba 'alaa qolbii sya aabiiba rochmatin,
Dan semoga Alloh menuangkan (melimpahkan) pada hatiku curahan rochmat
Bichikmati maulaanal chakimi fa achkamat
Dengan hikmah Tuhan kami Yang Maha Bijaksana sehingga menjadi kukuh
11. Achaathot binal anwaaru minkulli jaanibin,
Cahaya-cahaya meliputi kami dari segala penjuru
Wahaibaatu maulaanal 'azdiimi binaa 'alat
Tetapi Kewibawaan Alloh Yang Maha Agung lebih tinggi bagi kami
12. Fasubchaanakallohumma yaa khoiro baari'in,
Maka Maha Suci Alloh wahai Dzat Yang Bebas
Wayaa khoiro khollaaqin wayaa khoiro mamba'ats
Dan wahai Dzat Yang sebaik-baik Pencipta dan wahai Dzat Yang sebaik-sebaik yang mengembalikan
13. 'Afuwwun ghofuurur roochimun mutafadhdhilun,
Pemaaf, Pengampun, Penyayang, Pemberi karunia
Kariimun chaliimun dzuu 'thooyaa takaatsarot
Mulia, Penyantun, empunya pemberian menjadi banyak
14. Rochiimun warochmaanun bichaqqika sayyidi,
Penyayang, Pengasih demi haqMu wahai Tuanku
Sa altuka ghufroonadz dzunuubi idzaa badat
Aku memohon pengampunan dosa-dosa jika mulai (nyata)
Alhamdulillahi Rabil Alamin
KITAB AL-KASYFI WA AT-TABYINI Karya : Al-Ghazali
1. Ghurur (tertipu) bisa terjadi pada semua mukallaf, baik kafir maupun mukmin kecuali yang dijaga oleh Allah. Tentu saja dengan tingkat yang berbeda.
2. Yang mungkin tertipu dari kalangan mukmin bisa dari :
a. kelompok ulama
b. kelompok ahli ibadah
c. kelompok pemilik harta
d. kelompok ahli tasawuf
3. Orang kafir tertipu kehidupan dunia, mereka berpendapat : “ dunia (bisa dinikmati saat ini meyakinkan) itu lebih baik dari pada akhirat (dinikmati nanti, meragukan)”.
4. Mukmin dan kafir sama-sama bisa tertipu oleh kehidupan dunia, tentu saja dengan kadar berbeda.
5. Orang yang mengenal Allah tidak akan merasa aman dari rekayasa-Nya.
6. Orang mukmin ahli maksiat tertipu dengan perkataannya : “ Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang “. Mereka mengandalkan sifat pemurah Allah., kebaikan Allah.
7. Ada pula yang mengandalkan kesalehan orang tua. Orang yang menyangka bisa selamat dengan ketaqwaan orang tuanya seperti orang yang menyangka bisa kenyang padahal orang tuanya yang makan.
8. Banyak orang mukmin yang disamping taat juga ahli maksiat, tapi maksiatnya lebih banyak. Mereka mengandalkan ampunan Allah. Perumpamaan bagi mereka : “ berharap timbangan sepuluh keping mengalahkan seribu keping “, betapa bodohnya.
9. Sebagian orang mukmin menyangka taatnya lebih banyak dari pada maksiatnya, mereka tidak instropeksi. Taatnya diingat sedangkan maksiatnya dilupakan. Padahal menjaga lisan dari maksiat lebih utama dari membaca tasbih.
10. Sekelompok ulama mengutakan ilmu syari’at dan aqliyah secara mendalam, mereka tidak menjaga diri dari maksiat dan tidak mengharuskan diri melakukan taat. Mereka tertipu dengan ilmunya. Mereka menyangka ilmunya menyelamatkannya di akherat walaupun dengan tanpa amal.
11. Sekelompok ulama yang lain mementingkan ilmu dan amal dzohir, mereka meninggalkan maksiat dzohir tetapi melupakan hati mereka. Maka mereka tidak menghapus sifat-sifat tercela seperti sombong, riya’, iri, mencari derajat dunia dan sebagainya. Mereka seperti orang yang sakit kudis oleh dokter diberi salep dan tablet. Dia mengoleskan salepnya dan membuang tabletnya.
12. Sekelompok ulama yang lain mengetahui perihal akhlaq jelek ini dalam tinjauan syara’, hanya saja mereka bersifat ujub dan menyangka telah terbebas darinya. Mereka merasa mencapai derajat lebih tinggi daripada orang awam sehingga terhindar dari akhlak jelek tersebut. Bagi mereka bukan kesombongan tetapi kemulyaan agama.
13. Sekelompok ulama lainnya mengutamakan beberapa ilmu, mensucikan anggota badan, menghiasinya dengan ta’at, menjauhi maksiat dzahir, instropeksi akhlak diri, dan membersihkan hati dari riya’, iri, sombong, dendam dan sebagainya. Tetapi mereka tertipu, karena di tepian hati masih ada sisa-sisa bujukan syetan dan nafsu yang sangat halus sehingga mereka tidak mengerti akan hal itu. Perumpamaan mereka seperti orang yang mencabuti rumput yang menjadi gulma bagi tanaman padi, mereka menyangka rumput telah bersih, hanya saja mereka tidak tahu pada rumput dalam tanah yang belum tumbuh. Kadang-kadang mereka menyepi (uzlah) karena merasa sombong, atau memandang orang lain dengan pandangan rendah.
14. Sekelompok ulama yang lain meninggalkan ilmu-ilmu yang penting dan mencukupkan diri pada ilmu fatwa, hukum, debat, muamalah yang berlaku tetapi terkadang menyia-nyiakan ilmu perbuatan dzahir dan batin, tidak instropeksi pada anggota badan, tidak menjaga lisan, perut, kaki dan hati dari yang terlarang.
15. Sekelompok ulama yang lain tersibukkan dengan ilmu kalam dan perdebatan. Tetapi mereka terbagi menjadi dua kelompok; yang satu sesat menyesatkan, yang lainnya benar. Kelompok yang pertama tertipu, menyangka dirinya selamat, mengkafirkan kelompok yang lainnya, melihat syubhat sebagai dalil dan dalil sebagai syubhat. Sedangkan kelompok kedua yang benar tertipu dari sangkaan mereka bahwa ilmunya adalah paling penting dan lebih utama-utamanya ibadah.
16. Sekelompok ulama yang lain tersibukkan dengan memberi nasehat dan meninggikan derajat orang yang membahas akhlak diri dan sifat hati berupa takut, berharap, sabar, syukur, berpasrah, zuhud, yakin, ikhlas dan jujur. Mereka tertipu dengan menyangka telah bertsifat dengan sifat di atas hanya dengan membahasnya dan mengajak manusia berhias dengan sifat-sifat tersebut.
17. Sekelompok ulama yang lain berpindah dari hal yang penting dan wajib di dalam memberi nasehat. Mereka tersibukkan dengan kalimat-kalimat yang indah dan aneh yang keluar dari aturan syara’ dan kewajaran dengan tujuan majlisnya disukai orang.
18. Sekelompok ulama yang lain mencukupkan diri dengan ucapan ahli zuhud dalam hal mencaci dunia pada hal tidak mendalami maknanya.
19. Sebagian ulama yang lain menghabiskan waktunya dalam ilmu hadits, yaitu mengumpulkan riwayat yang banyak, mencari sanad yang aneh dan tinggi dengan berkeliling negeri. Mereka seperti khimar yang membawa kitab. Padahal tujuan dari hadits adalah memahaminya dan memikirkan maknanya.
20. Sebagian ulama yang lain tersibukkan dengan ilmu nahwu, bahasa, dan syi’ir. Mereka tertipu dengan ilmu tersebut karena menyangka telah diampuni dan termasuk ulama.
21. Kelompok kedua dari orang mukmin yang tertipu adalah para ahli ibadah. Sebagian mereka ada yang tertipu di dalam shalat, membaca Al-Qur’an, haji, jihad, zuhud dan lainnya.
22. Diantara mereka ada yang meninggalkan perkara wajib dan tersibukkan dengan perkara sunah.
23. Diantara mereka ada yang tidak rela dengan najis tetapi terkadang makan perkara haram.
24. Sekelompok yang lain diganggu oleh was-was dalam niat shalat sehingga tertinggal jamaah.
25. Kelompok yang lain diganggu dengan was-was di dalam mengeluarkan huruf dari bacaan shalat.
26. Kelompok ketiga dari orang mukmin yang tertipu adalah mereka yeng memiliki harta. Diantara mereka ada yang suka membangun masjid, madrasah dan lainnya sambil menuliskan namanya dalam prasasti agar senantiasa disebut orang. Mereka menyangka telah berhak memperoleh ampunan. Padahal disamping kadang-kadang hartanya berasal dari sumber yang tidak halal juga tasarufnya kurang ikhlas.
27. Sekelompok yang lain terkadang menghasilkan harta halal dan menafkahkan untuk masjid tetapi masih tertipu dari hal riya’ dan mengharap pujian atau menasarufkan harta untuk hiasan masjid yang sebenarnya justru dilarang karena mengganggu kekhusuan.
28. Sekelompok yang lain menafkahkan harta dengan shadaqah pada fakir miskin dalam acara perayaan agar namanya terkenal. Mereka tidak mau bersedekah secara siri.
29. Sekelompok yang lain menggenggam hartanya hingga masuk kategori bakhil. Mereka tersibukkan dengan ibadah badaniyah yang tidak membutuhkan biaya seperti puasa, qiyamul lail dan menghatamkan Al-Qur’an. Mereka tertipu karena sebenarnya bakhil yang merusak telah menguasainya.
30. Sekelompok yang lain dikalahkan oleh bakhil dengan mengeluarkan zakat dengan harta berharga rendah, atau memberikan zakat itu kepada pekerjanya.
31. Sekelompok orang tertipu dengan hadir di majlis dzikir. Mereka berkeyakinan hal itu telah cukup, padahal kehadirannya tidak memiliki efek apapun pada perbaikan diri.
32. Kelompok yang lain sebenarnya telah melampaui kelompok-kelompok di atas, mereka bersungguh-sungguh dalam perjalanan ibadah, ketika sudah mendekati wushul mereka menyangka telah sampai (wushul) dan lantas berhenti pada stasionernya.
2. Yang mungkin tertipu dari kalangan mukmin bisa dari :
a. kelompok ulama
b. kelompok ahli ibadah
c. kelompok pemilik harta
d. kelompok ahli tasawuf
3. Orang kafir tertipu kehidupan dunia, mereka berpendapat : “ dunia (bisa dinikmati saat ini meyakinkan) itu lebih baik dari pada akhirat (dinikmati nanti, meragukan)”.
4. Mukmin dan kafir sama-sama bisa tertipu oleh kehidupan dunia, tentu saja dengan kadar berbeda.
5. Orang yang mengenal Allah tidak akan merasa aman dari rekayasa-Nya.
6. Orang mukmin ahli maksiat tertipu dengan perkataannya : “ Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang “. Mereka mengandalkan sifat pemurah Allah., kebaikan Allah.
7. Ada pula yang mengandalkan kesalehan orang tua. Orang yang menyangka bisa selamat dengan ketaqwaan orang tuanya seperti orang yang menyangka bisa kenyang padahal orang tuanya yang makan.
8. Banyak orang mukmin yang disamping taat juga ahli maksiat, tapi maksiatnya lebih banyak. Mereka mengandalkan ampunan Allah. Perumpamaan bagi mereka : “ berharap timbangan sepuluh keping mengalahkan seribu keping “, betapa bodohnya.
9. Sebagian orang mukmin menyangka taatnya lebih banyak dari pada maksiatnya, mereka tidak instropeksi. Taatnya diingat sedangkan maksiatnya dilupakan. Padahal menjaga lisan dari maksiat lebih utama dari membaca tasbih.
10. Sekelompok ulama mengutakan ilmu syari’at dan aqliyah secara mendalam, mereka tidak menjaga diri dari maksiat dan tidak mengharuskan diri melakukan taat. Mereka tertipu dengan ilmunya. Mereka menyangka ilmunya menyelamatkannya di akherat walaupun dengan tanpa amal.
11. Sekelompok ulama yang lain mementingkan ilmu dan amal dzohir, mereka meninggalkan maksiat dzohir tetapi melupakan hati mereka. Maka mereka tidak menghapus sifat-sifat tercela seperti sombong, riya’, iri, mencari derajat dunia dan sebagainya. Mereka seperti orang yang sakit kudis oleh dokter diberi salep dan tablet. Dia mengoleskan salepnya dan membuang tabletnya.
12. Sekelompok ulama yang lain mengetahui perihal akhlaq jelek ini dalam tinjauan syara’, hanya saja mereka bersifat ujub dan menyangka telah terbebas darinya. Mereka merasa mencapai derajat lebih tinggi daripada orang awam sehingga terhindar dari akhlak jelek tersebut. Bagi mereka bukan kesombongan tetapi kemulyaan agama.
13. Sekelompok ulama lainnya mengutamakan beberapa ilmu, mensucikan anggota badan, menghiasinya dengan ta’at, menjauhi maksiat dzahir, instropeksi akhlak diri, dan membersihkan hati dari riya’, iri, sombong, dendam dan sebagainya. Tetapi mereka tertipu, karena di tepian hati masih ada sisa-sisa bujukan syetan dan nafsu yang sangat halus sehingga mereka tidak mengerti akan hal itu. Perumpamaan mereka seperti orang yang mencabuti rumput yang menjadi gulma bagi tanaman padi, mereka menyangka rumput telah bersih, hanya saja mereka tidak tahu pada rumput dalam tanah yang belum tumbuh. Kadang-kadang mereka menyepi (uzlah) karena merasa sombong, atau memandang orang lain dengan pandangan rendah.
14. Sekelompok ulama yang lain meninggalkan ilmu-ilmu yang penting dan mencukupkan diri pada ilmu fatwa, hukum, debat, muamalah yang berlaku tetapi terkadang menyia-nyiakan ilmu perbuatan dzahir dan batin, tidak instropeksi pada anggota badan, tidak menjaga lisan, perut, kaki dan hati dari yang terlarang.
15. Sekelompok ulama yang lain tersibukkan dengan ilmu kalam dan perdebatan. Tetapi mereka terbagi menjadi dua kelompok; yang satu sesat menyesatkan, yang lainnya benar. Kelompok yang pertama tertipu, menyangka dirinya selamat, mengkafirkan kelompok yang lainnya, melihat syubhat sebagai dalil dan dalil sebagai syubhat. Sedangkan kelompok kedua yang benar tertipu dari sangkaan mereka bahwa ilmunya adalah paling penting dan lebih utama-utamanya ibadah.
16. Sekelompok ulama yang lain tersibukkan dengan memberi nasehat dan meninggikan derajat orang yang membahas akhlak diri dan sifat hati berupa takut, berharap, sabar, syukur, berpasrah, zuhud, yakin, ikhlas dan jujur. Mereka tertipu dengan menyangka telah bertsifat dengan sifat di atas hanya dengan membahasnya dan mengajak manusia berhias dengan sifat-sifat tersebut.
17. Sekelompok ulama yang lain berpindah dari hal yang penting dan wajib di dalam memberi nasehat. Mereka tersibukkan dengan kalimat-kalimat yang indah dan aneh yang keluar dari aturan syara’ dan kewajaran dengan tujuan majlisnya disukai orang.
18. Sekelompok ulama yang lain mencukupkan diri dengan ucapan ahli zuhud dalam hal mencaci dunia pada hal tidak mendalami maknanya.
19. Sebagian ulama yang lain menghabiskan waktunya dalam ilmu hadits, yaitu mengumpulkan riwayat yang banyak, mencari sanad yang aneh dan tinggi dengan berkeliling negeri. Mereka seperti khimar yang membawa kitab. Padahal tujuan dari hadits adalah memahaminya dan memikirkan maknanya.
20. Sebagian ulama yang lain tersibukkan dengan ilmu nahwu, bahasa, dan syi’ir. Mereka tertipu dengan ilmu tersebut karena menyangka telah diampuni dan termasuk ulama.
21. Kelompok kedua dari orang mukmin yang tertipu adalah para ahli ibadah. Sebagian mereka ada yang tertipu di dalam shalat, membaca Al-Qur’an, haji, jihad, zuhud dan lainnya.
22. Diantara mereka ada yang meninggalkan perkara wajib dan tersibukkan dengan perkara sunah.
23. Diantara mereka ada yang tidak rela dengan najis tetapi terkadang makan perkara haram.
24. Sekelompok yang lain diganggu oleh was-was dalam niat shalat sehingga tertinggal jamaah.
25. Kelompok yang lain diganggu dengan was-was di dalam mengeluarkan huruf dari bacaan shalat.
26. Kelompok ketiga dari orang mukmin yang tertipu adalah mereka yeng memiliki harta. Diantara mereka ada yang suka membangun masjid, madrasah dan lainnya sambil menuliskan namanya dalam prasasti agar senantiasa disebut orang. Mereka menyangka telah berhak memperoleh ampunan. Padahal disamping kadang-kadang hartanya berasal dari sumber yang tidak halal juga tasarufnya kurang ikhlas.
27. Sekelompok yang lain terkadang menghasilkan harta halal dan menafkahkan untuk masjid tetapi masih tertipu dari hal riya’ dan mengharap pujian atau menasarufkan harta untuk hiasan masjid yang sebenarnya justru dilarang karena mengganggu kekhusuan.
28. Sekelompok yang lain menafkahkan harta dengan shadaqah pada fakir miskin dalam acara perayaan agar namanya terkenal. Mereka tidak mau bersedekah secara siri.
29. Sekelompok yang lain menggenggam hartanya hingga masuk kategori bakhil. Mereka tersibukkan dengan ibadah badaniyah yang tidak membutuhkan biaya seperti puasa, qiyamul lail dan menghatamkan Al-Qur’an. Mereka tertipu karena sebenarnya bakhil yang merusak telah menguasainya.
30. Sekelompok yang lain dikalahkan oleh bakhil dengan mengeluarkan zakat dengan harta berharga rendah, atau memberikan zakat itu kepada pekerjanya.
31. Sekelompok orang tertipu dengan hadir di majlis dzikir. Mereka berkeyakinan hal itu telah cukup, padahal kehadirannya tidak memiliki efek apapun pada perbaikan diri.
32. Kelompok yang lain sebenarnya telah melampaui kelompok-kelompok di atas, mereka bersungguh-sungguh dalam perjalanan ibadah, ketika sudah mendekati wushul mereka menyangka telah sampai (wushul) dan lantas berhenti pada stasionernya.
Selasa, 29 Maret 2011
RAHASIA DI BALIK RAHASIA
TAFSIR AYAT ATTHOLAQ/12 ALLOHULLADZII KHOLAQO SAB`A
SAMAAWAATIN WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA YATANAZZALUL
AMRU BAINAHUNNA LITA`LAMUU
ANNALLOOHA `ALAA KULLI SYAI-
IN QODIIR WA ANNALLOOHA QOD AHAATHO BIKULLI SYAI-IN
`ILMAA.
( At Tholaq –Surat 65 –Ayat : 12 ). Artinya : " Allohlah yang
menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi. Perintah
Alloh berlaku padanya, agar
kamu mengetahui bahwasannya
Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Alloh,
ilmuNya benar-benar meliputi
segala sesuatu ".
Didalam Kitab Al Hikam ( kitab
tashawwuf tingkat tinggi ),
tentang tafsir ayat ini Shohabat Ibnu Abbas pernah berkata :
" Seandainya kami terangkan
dengan sejelas-jelasnya tafsirnya
ayat ini, pastilah kami akan
dituduh oleh orang mukmin
awam bahwa kami ini zindiq, kafir, bahkan mungkin darah
kami akan dihalalkan ".
Ayat ini mengandung rahasia
yang paling rahasia.
Jadi yang diterjemahkan di
terjemahan Alqur-an itu dari segi dhohirnya saja.
Kata Ibnu Abbas : Kalau
diterangkan, dibuka blak-blakan
dari segi dalamnya / bathinnya /
haqeqatnya, maka nanti leher
kami ini dipotong orang, karena orang-orang mukmin awam itu
nanti kaget. ( Umumnya orang
awam itu masih banyak yang
kagetan. Kenapa kagetan ?
Karena masih kanak-kanak,
kanak-kanak itu kan kagetan ). Jadi lebih baik tidak dibuka pada
orang awam, daripada nanti
dipukuli orang, malah dituduh
bid`ah dlolaalah, sesat
menyesatkan, kafir
mengkafirkan, zindiq menzindiqkan, maka tidak usah
diterangkan secara haqeqat,
cukup diterangkan secara kuliti
saja. SESUATU DARI BUMI YANG
SEMITSAL 7 LANGIT DAN 7
BUMI Coba direnung-renungkan ayat
tersebut diatas, hanya direnung-
renungkan saja :
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Artinya : " Dan dari bumi ada
yang semisal semuanya itu ( 7 langit dan 7 bumi ) ".
Coba direnung-renungkan ,
karena kalau tidak dianjurkan ya
tidak memikirkan, mintanya
hanya di dorong saja, tidak mau
kesulitan. WAMINAL ARDLI : " dan dari bumi
".
Padahal dari bumi itu banyak, ada
alam benda, alam tumbuh-
tumbuhan, alam hayawan, itu
semua dari bumi. Lalu manakah sesuatu dari bumi
itu yang MITSLAHUNNA , yang
sama dengan 7 langit dan 7 bumi ?
Ayat ini tidak menyebut :
" MATSALAHUNNA " tapi "
MITSLAHUNNA " . Kalau Matsal maknanya
perumpamaan.
Kalau Mitsil bukan perumpamaan
tapi dua barang yang sejenis
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Dari bumi ada sesuatu yang muncul, yang semisal semua yang
ada di 7 langit dan 7 bumi ; disitu
ada langitnya tujuh, buminya
tujuh, ada mataharinya, bulannya,
bintangnya, lautannya, hutannya,
ada percilnya, ada ularnya, ada singanya, ada setannya, ada
malaikatnya, ada iblisnya, ada
gondoruwonya, ada kuntilanak-
nya.
Coba diangan-angan yang mana
yang lengkap itu ? Kami kira anda bisa berfikir sendiri, siapa itu ?
Ayat ini :
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Kalau diterangkan di umum, kita
bisa dipukuli atau dituduh yang
bukan-bukan. Padahal Shohabat Ibnu Abbas,
yaitu seorang shohabat yang
pernah didoakan kanjeng Nabi :
" Kamu ( Ibnu Abbas ) paling tahu
rahasianya Al Qur-an ".
Apakah bila Shohabat Ibnu Abbas yang membuka rahasia ayat
tersebut juga dituduh brengsek ?
Terserah bila berani mengatakan
begitu.
Dikira kalau sudah bisa faham
terjemahan Al Qur-an yang diterjemahkan Departemen
Agama dianggap sudah selesai
tuntas. Tidak !
ALLOHULLADZII KHOLAQO SAB`A
SAMAAWAATIN WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA YATANAZZALUL AMRU BAINAHUNNA LITA`LAMUU
ANNALLOOHA `ALAA KULLI SYAI-
IN QODIIR WA ANNALLOOHA QOD
AHAATHO BIKULLI SYAI-IN
`ILMAA.
( At Tholaq –Surat 65 –Ayat : 12 ). Artinya : " Allohlah yang
menciptakan 7 langit dan seperti
itu pula bumi, perintah Alloh
berlaku padanya, agar kamu
mengetahui bahwasannya Alloh
Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Alloh, IlmuNya
benar-benar meliputi segala
sesuatu ".
Orang awam ; mengartikan
begitu saja sudah selesai.
Kalau bukan tashawwuf ya terjemahannya saja, tapi kalau
tashawwuf tidak begitu.
Kalau dimasuki melalui
tashawwuf, mungkin kami dan
anda ibaratnya masih intip-intip di
tepinya lautan, menyelam tidak berani karena kuatir akan mati,
kalau dipinggir saja mudah, tapi
tidak bisa merasakan dalamnya
lautan.
Pilih mana : Kalau ingin
merasakan dalamnya lautan maka mati, kalau ingin mudahnya
saja maka dipinggir lautan sudah
cukup tapi tidak bisa merasakan
dalamnya lautan.
Mungkin banyak yang pilih hidup
saja dari pada mati. Padahal ini : LITA`LAMUU " Supaya kamu itu mempunyai ilmu
pengetahuan.
Kembali ke persoalan tadi :
" Apakah ada yang muncul dari
bumi itu yang lengkap, ada
surganya, ada nerakanya, `arsynya, lauhil mahfudznya,
yang mana itu ? ".
Anda renung-renungkan sendiri.
Satu ayat ini mengandung
pengertian yang sangat rahasia.
Jadi ada yang dari bumi ini yang muncul yang mengandung seluruh
yang ada di alam semesta ini,
semuanya diringkas disitu ; ada
mataharinya, bulannya,
bintangnya, lautnya, daratnya,
bukitnya, telo-nya, ada anjingnya, celengnya, ularnya, ada emasnya,
peraknya, ada mekkahnya,
madinahnya, ka`bahnya, ada
kafirnya, ada muslimnya,
taqwanya. WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA Satu ayat ini saja kalau
diterangkan detail dalam buku,
maka akan jadi buku yang tebal.
Ayat inilah yang dijadikan
sumber oleh Imam Ghozali
sebagai penilaian masalah ilmu.
SAMAAWAATIN WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA YATANAZZALUL
AMRU BAINAHUNNA LITA`LAMUU
ANNALLOOHA `ALAA KULLI SYAI-
IN QODIIR WA ANNALLOOHA QOD AHAATHO BIKULLI SYAI-IN
`ILMAA.
( At Tholaq –Surat 65 –Ayat : 12 ). Artinya : " Allohlah yang
menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi. Perintah
Alloh berlaku padanya, agar
kamu mengetahui bahwasannya
Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Alloh,
ilmuNya benar-benar meliputi
segala sesuatu ".
Didalam Kitab Al Hikam ( kitab
tashawwuf tingkat tinggi ),
tentang tafsir ayat ini Shohabat Ibnu Abbas pernah berkata :
" Seandainya kami terangkan
dengan sejelas-jelasnya tafsirnya
ayat ini, pastilah kami akan
dituduh oleh orang mukmin
awam bahwa kami ini zindiq, kafir, bahkan mungkin darah
kami akan dihalalkan ".
Ayat ini mengandung rahasia
yang paling rahasia.
Jadi yang diterjemahkan di
terjemahan Alqur-an itu dari segi dhohirnya saja.
Kata Ibnu Abbas : Kalau
diterangkan, dibuka blak-blakan
dari segi dalamnya / bathinnya /
haqeqatnya, maka nanti leher
kami ini dipotong orang, karena orang-orang mukmin awam itu
nanti kaget. ( Umumnya orang
awam itu masih banyak yang
kagetan. Kenapa kagetan ?
Karena masih kanak-kanak,
kanak-kanak itu kan kagetan ). Jadi lebih baik tidak dibuka pada
orang awam, daripada nanti
dipukuli orang, malah dituduh
bid`ah dlolaalah, sesat
menyesatkan, kafir
mengkafirkan, zindiq menzindiqkan, maka tidak usah
diterangkan secara haqeqat,
cukup diterangkan secara kuliti
saja. SESUATU DARI BUMI YANG
SEMITSAL 7 LANGIT DAN 7
BUMI Coba direnung-renungkan ayat
tersebut diatas, hanya direnung-
renungkan saja :
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Artinya : " Dan dari bumi ada
yang semisal semuanya itu ( 7 langit dan 7 bumi ) ".
Coba direnung-renungkan ,
karena kalau tidak dianjurkan ya
tidak memikirkan, mintanya
hanya di dorong saja, tidak mau
kesulitan. WAMINAL ARDLI : " dan dari bumi
".
Padahal dari bumi itu banyak, ada
alam benda, alam tumbuh-
tumbuhan, alam hayawan, itu
semua dari bumi. Lalu manakah sesuatu dari bumi
itu yang MITSLAHUNNA , yang
sama dengan 7 langit dan 7 bumi ?
Ayat ini tidak menyebut :
" MATSALAHUNNA " tapi "
MITSLAHUNNA " . Kalau Matsal maknanya
perumpamaan.
Kalau Mitsil bukan perumpamaan
tapi dua barang yang sejenis
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Dari bumi ada sesuatu yang muncul, yang semisal semua yang
ada di 7 langit dan 7 bumi ; disitu
ada langitnya tujuh, buminya
tujuh, ada mataharinya, bulannya,
bintangnya, lautannya, hutannya,
ada percilnya, ada ularnya, ada singanya, ada setannya, ada
malaikatnya, ada iblisnya, ada
gondoruwonya, ada kuntilanak-
nya.
Coba diangan-angan yang mana
yang lengkap itu ? Kami kira anda bisa berfikir sendiri, siapa itu ?
Ayat ini :
WAMINAL ARDLI MITSLAHUNNA
Kalau diterangkan di umum, kita
bisa dipukuli atau dituduh yang
bukan-bukan. Padahal Shohabat Ibnu Abbas,
yaitu seorang shohabat yang
pernah didoakan kanjeng Nabi :
" Kamu ( Ibnu Abbas ) paling tahu
rahasianya Al Qur-an ".
Apakah bila Shohabat Ibnu Abbas yang membuka rahasia ayat
tersebut juga dituduh brengsek ?
Terserah bila berani mengatakan
begitu.
Dikira kalau sudah bisa faham
terjemahan Al Qur-an yang diterjemahkan Departemen
Agama dianggap sudah selesai
tuntas. Tidak !
ALLOHULLADZII KHOLAQO SAB`A
SAMAAWAATIN WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA YATANAZZALUL AMRU BAINAHUNNA LITA`LAMUU
ANNALLOOHA `ALAA KULLI SYAI-
IN QODIIR WA ANNALLOOHA QOD
AHAATHO BIKULLI SYAI-IN
`ILMAA.
( At Tholaq –Surat 65 –Ayat : 12 ). Artinya : " Allohlah yang
menciptakan 7 langit dan seperti
itu pula bumi, perintah Alloh
berlaku padanya, agar kamu
mengetahui bahwasannya Alloh
Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Alloh, IlmuNya
benar-benar meliputi segala
sesuatu ".
Orang awam ; mengartikan
begitu saja sudah selesai.
Kalau bukan tashawwuf ya terjemahannya saja, tapi kalau
tashawwuf tidak begitu.
Kalau dimasuki melalui
tashawwuf, mungkin kami dan
anda ibaratnya masih intip-intip di
tepinya lautan, menyelam tidak berani karena kuatir akan mati,
kalau dipinggir saja mudah, tapi
tidak bisa merasakan dalamnya
lautan.
Pilih mana : Kalau ingin
merasakan dalamnya lautan maka mati, kalau ingin mudahnya
saja maka dipinggir lautan sudah
cukup tapi tidak bisa merasakan
dalamnya lautan.
Mungkin banyak yang pilih hidup
saja dari pada mati. Padahal ini : LITA`LAMUU " Supaya kamu itu mempunyai ilmu
pengetahuan.
Kembali ke persoalan tadi :
" Apakah ada yang muncul dari
bumi itu yang lengkap, ada
surganya, ada nerakanya, `arsynya, lauhil mahfudznya,
yang mana itu ? ".
Anda renung-renungkan sendiri.
Satu ayat ini mengandung
pengertian yang sangat rahasia.
Jadi ada yang dari bumi ini yang muncul yang mengandung seluruh
yang ada di alam semesta ini,
semuanya diringkas disitu ; ada
mataharinya, bulannya,
bintangnya, lautnya, daratnya,
bukitnya, telo-nya, ada anjingnya, celengnya, ularnya, ada emasnya,
peraknya, ada mekkahnya,
madinahnya, ka`bahnya, ada
kafirnya, ada muslimnya,
taqwanya. WAMINAL ARDLI
MITSLAHUNNA Satu ayat ini saja kalau
diterangkan detail dalam buku,
maka akan jadi buku yang tebal.
Ayat inilah yang dijadikan
sumber oleh Imam Ghozali
sebagai penilaian masalah ilmu.
ULAMA DHOHIR VS ULAMA BHATIN
Ada sebagian umat Islam yang
menghabis kan umurnya untuk
menyelidiki makna yang dhohir,
sehingga menjadi ulama' DHOHIR. Ada sebagian umat Islam yang
khusus tenggelam menyelidiki
maknanya huruf-huruf dari segi
bathin, sehingga menjadi ulama'
BATHIN.
Mestinya Ulama' dhohir dan Ulama' bathin itu gabung.
Bertahun-tahun Ulama' Dhohir dan
Ulama' bathin tidak gabung,
hanya sendiri-sendiri, akhirnya
tumbrukkan (saling tentang) bila
ada yang memberi makna secara bathin dikatakan:
menyimpang, bid'ah dlolalah,
sesat menye satkan,neraka
Jahannam, neraka Jahim, neraka
Khuthomah, neraka Hawiyah,
neraka-neraka, dan seterusnya, yang di syurga hanya Ulama'
dhohir, (lupa kalau Adam pernah
menangis di dalam syurga).
Karena selama itu Al Qur'an
difahami dhohir saja.
Ulama' bathin dikeritik seperti itu juga merasa menggerutu
(nggresulo), ganti balik
mengkritik Ulama' dhohir.
Ulama' dhohir itu kuliti, dikira
yang berangakat itu kuliti,
padahal yang berangkat itu yang ghoib, isinya. Kalau ditinggal
isinya yang ada kulitnya
(melompong, tidak ada apa-
apanya).
Saling mengkritik antara
keduanya, sehingga tubrukan, bertengkar, marah-marah, yang
waktunya tidak sebentar, tapi
ratusan tahun, tidak akur (tidak
rukun).
ALHAMDULILLAH akhirnya muncul
tiap-tiap 100 tahun Mujadid satu. Jadi tiap-tiap 100 tahun itu muncul
satu orang yang dinamakan
MUJADIDUL ISLAM. Muncul mujadid
Imam Ghozali, kemudian
digabungkan antara Ulama'
dhohir dengan Ulama' bathin. Setelah wawuh (gabung) saling
sadar, antara yang dhohir dan
yang bathin " ee … ternyata ada keduanya".
Itulah yang menjadi sebab
pertentangan (tidak akur),
karena hanya dipandang dari
sebelah saja. CONTOH : MAKNA DHOHIR DAN
MAKNA BATHIN BISMILLAAHIR
ROHMAANIR ROOHIIM Umpama memberi makna
BISMILLAAHIR
ROHMAANIRROOHIIM, secara
dhohir :
BISMILLAAHIR : Dengan nama
Alloh ROHMAANIR : Yang maha
Penyayang
ROOHIIM : Yang Maha Pengasih
Itu kalau memberi makna secara
umum, itu dhohir, bahkan kalau
diTV-TV membaca makna: "Dengan nama Alloh Yang Maha
Penyayang dan Maha Pengasih",
dilagukan.
Ahli bathin tahu seperti itu
berkata :
" Yaa … seperti itu dhohiri, kuliti, lebay".
Tapi apabila ada yang memberi
makna secara bathin, mereka ahli
dhohir geger, dikatakan
menyimpang dari makna. Kalau
Basmalah diberi makna : BISMI : Itu nama ,
ALLOH : itu juga nama,
ARROHMAN : Maha Penyayang,
ARROHIIM : Maha Pengasih.
itu betul, itu bahasa arab. Asal
tidak diberi makna yang tidak- tidak. Itu kata ahli dhohir.
Pernah seorang kyai besar,
bernama (Kyai Munthoho), Beliau
bintangnya ilmu kalam, guru
Mursyid Thoriqot
Naqsyabandiyyah. Guru kami juga berguru / mempelajari
Thoriqot Naqsyaban diyyah
secara tuntas. Baiatannya dari
awal sampai akhir mulai baitan
Lathifah tujuh, lathifah Qolbi,
lathifah Ruh, lathifah Sirri, sampai tujuh jum'at, ditambah 21 jum'at,
sudah saya tuntaskan hingga
selesai.
Suatu saat beliau itu punya kitab
tinggalan gurunya (tiga kitab jadi
satu) namanya kitab MADNUN KABIR, MADNUN SHOGHIR dan
INSAN KAMIL, kitab haqeqat
tingkat tinggi. Banyak dari para
murid yang ingin memiliki kitab
itu, beli di toko-toko tidak ada.
Dua kitab MADNUN KABIR dan MADNUN SHOGHIR karangannya
IMAM GHOZALI dan yang kitab
INSAN KAMIL karangan ABDUL
KARIM JAELANI muridnya IBNU
AROBI tokoh Wahdatul wujud
internasional. Kyai Munthoho menawarkan pada
murid-muridnya ," Murid-murid
siapa yang ingin memiliki kitab
ini akan saya kasih, asal bisa
memberikan makna : BISMILLAAHIRROHMAANIRROHI
IM Semuanya merasa bisa, sehingga
mereka maju untuk memberi
makna, satu persatu. Maka
membaca dan memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM Dengan sarono asmo –Kang Moho Welas –Kang Moho Asih, dunyo Akhirot. Makna yang diberikan seperti itu,
dan semuanya sama, dari
masing-masing murid, secara
bergantian maju kedepan, maka
semuanya gagal tidak ada yang
dapat kitab. Kata Kyai Munthoho ," memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
seperti itu, ya tidak saya beri
kitab, tidak lulus …!" . Kemudian giliran Guru kami,
sedang waktu itu murid yang
muda itu beliau, dan beliau maju
untuk memberi makna. Murid-
murid yang lain mengatakan ,"
Saya yang menjadi murid lama (kawakan) saja gagal, apalagi
murid yang masih kencur ..!".
Dalam hati beliau , Kencur-kencur
jadi jamu.
***
Jadi itu masih makna-makna
kalimat, belum makna huruf-
hurufnya, seperti : Huruf BA' ada maknanya
sendiri.
Huruf SIN ada maknanya
sendiri.
Huruf MIM ada maknanya
sendiri. Umpama diberi makna BA' itu Bapak, SIN itu Anak, MIM itu Mak (ibu), Alloh yang menciptakan
Bapak, Anak, Mak, maka mereka
pasti ramai. Ba' kok diberi makna
Bapak, MIM kok diberi makna
mak.
Mak itu kan MA-UN dan MA-UN itu AIR, dan BA-UN itu BUMI. Dan SIN
itu rasa ghoib, pertemuannya
antara BA' dan MIM jadi anak. Ini
kalau diberi makna seperti itu
pasti ramai, dikatakan bid'ah
dlolalah. Saya tidak memberi makna seperti itu, karena
menghormati mereka-mereka.
Perkara memberi makna yang
seperti tadi, itu adalah kedalam,
tidak keluar.
Ini contoh-contoh saja mengenai keterangan makna bathin. Dan itu
baru selintas saja. Masih banyak
makna bathin dari satu kalimat
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
menghabis kan umurnya untuk
menyelidiki makna yang dhohir,
sehingga menjadi ulama' DHOHIR. Ada sebagian umat Islam yang
khusus tenggelam menyelidiki
maknanya huruf-huruf dari segi
bathin, sehingga menjadi ulama'
BATHIN.
Mestinya Ulama' dhohir dan Ulama' bathin itu gabung.
Bertahun-tahun Ulama' Dhohir dan
Ulama' bathin tidak gabung,
hanya sendiri-sendiri, akhirnya
tumbrukkan (saling tentang) bila
ada yang memberi makna secara bathin dikatakan:
menyimpang, bid'ah dlolalah,
sesat menye satkan,neraka
Jahannam, neraka Jahim, neraka
Khuthomah, neraka Hawiyah,
neraka-neraka, dan seterusnya, yang di syurga hanya Ulama'
dhohir, (lupa kalau Adam pernah
menangis di dalam syurga).
Karena selama itu Al Qur'an
difahami dhohir saja.
Ulama' bathin dikeritik seperti itu juga merasa menggerutu
(nggresulo), ganti balik
mengkritik Ulama' dhohir.
Ulama' dhohir itu kuliti, dikira
yang berangakat itu kuliti,
padahal yang berangkat itu yang ghoib, isinya. Kalau ditinggal
isinya yang ada kulitnya
(melompong, tidak ada apa-
apanya).
Saling mengkritik antara
keduanya, sehingga tubrukan, bertengkar, marah-marah, yang
waktunya tidak sebentar, tapi
ratusan tahun, tidak akur (tidak
rukun).
ALHAMDULILLAH akhirnya muncul
tiap-tiap 100 tahun Mujadid satu. Jadi tiap-tiap 100 tahun itu muncul
satu orang yang dinamakan
MUJADIDUL ISLAM. Muncul mujadid
Imam Ghozali, kemudian
digabungkan antara Ulama'
dhohir dengan Ulama' bathin. Setelah wawuh (gabung) saling
sadar, antara yang dhohir dan
yang bathin " ee … ternyata ada keduanya".
Itulah yang menjadi sebab
pertentangan (tidak akur),
karena hanya dipandang dari
sebelah saja. CONTOH : MAKNA DHOHIR DAN
MAKNA BATHIN BISMILLAAHIR
ROHMAANIR ROOHIIM Umpama memberi makna
BISMILLAAHIR
ROHMAANIRROOHIIM, secara
dhohir :
BISMILLAAHIR : Dengan nama
Alloh ROHMAANIR : Yang maha
Penyayang
ROOHIIM : Yang Maha Pengasih
Itu kalau memberi makna secara
umum, itu dhohir, bahkan kalau
diTV-TV membaca makna: "Dengan nama Alloh Yang Maha
Penyayang dan Maha Pengasih",
dilagukan.
Ahli bathin tahu seperti itu
berkata :
" Yaa … seperti itu dhohiri, kuliti, lebay".
Tapi apabila ada yang memberi
makna secara bathin, mereka ahli
dhohir geger, dikatakan
menyimpang dari makna. Kalau
Basmalah diberi makna : BISMI : Itu nama ,
ALLOH : itu juga nama,
ARROHMAN : Maha Penyayang,
ARROHIIM : Maha Pengasih.
itu betul, itu bahasa arab. Asal
tidak diberi makna yang tidak- tidak. Itu kata ahli dhohir.
Pernah seorang kyai besar,
bernama (Kyai Munthoho), Beliau
bintangnya ilmu kalam, guru
Mursyid Thoriqot
Naqsyabandiyyah. Guru kami juga berguru / mempelajari
Thoriqot Naqsyaban diyyah
secara tuntas. Baiatannya dari
awal sampai akhir mulai baitan
Lathifah tujuh, lathifah Qolbi,
lathifah Ruh, lathifah Sirri, sampai tujuh jum'at, ditambah 21 jum'at,
sudah saya tuntaskan hingga
selesai.
Suatu saat beliau itu punya kitab
tinggalan gurunya (tiga kitab jadi
satu) namanya kitab MADNUN KABIR, MADNUN SHOGHIR dan
INSAN KAMIL, kitab haqeqat
tingkat tinggi. Banyak dari para
murid yang ingin memiliki kitab
itu, beli di toko-toko tidak ada.
Dua kitab MADNUN KABIR dan MADNUN SHOGHIR karangannya
IMAM GHOZALI dan yang kitab
INSAN KAMIL karangan ABDUL
KARIM JAELANI muridnya IBNU
AROBI tokoh Wahdatul wujud
internasional. Kyai Munthoho menawarkan pada
murid-muridnya ," Murid-murid
siapa yang ingin memiliki kitab
ini akan saya kasih, asal bisa
memberikan makna : BISMILLAAHIRROHMAANIRROHI
IM Semuanya merasa bisa, sehingga
mereka maju untuk memberi
makna, satu persatu. Maka
membaca dan memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM Dengan sarono asmo –Kang Moho Welas –Kang Moho Asih, dunyo Akhirot. Makna yang diberikan seperti itu,
dan semuanya sama, dari
masing-masing murid, secara
bergantian maju kedepan, maka
semuanya gagal tidak ada yang
dapat kitab. Kata Kyai Munthoho ," memberi makna
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
seperti itu, ya tidak saya beri
kitab, tidak lulus …!" . Kemudian giliran Guru kami,
sedang waktu itu murid yang
muda itu beliau, dan beliau maju
untuk memberi makna. Murid-
murid yang lain mengatakan ,"
Saya yang menjadi murid lama (kawakan) saja gagal, apalagi
murid yang masih kencur ..!".
Dalam hati beliau , Kencur-kencur
jadi jamu.
***
Jadi itu masih makna-makna
kalimat, belum makna huruf-
hurufnya, seperti : Huruf BA' ada maknanya
sendiri.
Huruf SIN ada maknanya
sendiri.
Huruf MIM ada maknanya
sendiri. Umpama diberi makna BA' itu Bapak, SIN itu Anak, MIM itu Mak (ibu), Alloh yang menciptakan
Bapak, Anak, Mak, maka mereka
pasti ramai. Ba' kok diberi makna
Bapak, MIM kok diberi makna
mak.
Mak itu kan MA-UN dan MA-UN itu AIR, dan BA-UN itu BUMI. Dan SIN
itu rasa ghoib, pertemuannya
antara BA' dan MIM jadi anak. Ini
kalau diberi makna seperti itu
pasti ramai, dikatakan bid'ah
dlolalah. Saya tidak memberi makna seperti itu, karena
menghormati mereka-mereka.
Perkara memberi makna yang
seperti tadi, itu adalah kedalam,
tidak keluar.
Ini contoh-contoh saja mengenai keterangan makna bathin. Dan itu
baru selintas saja. Masih banyak
makna bathin dari satu kalimat
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
Senin, 28 Maret 2011
PENGERTIAN SYAHADAT
Asyahadualla ilaaha illallah ini
merupakan syahadat tauhid atau
hakekat ketuhanan yaitu diri
bathin manusia (Rohani) Wa-
asyhadu anna muhammadar rasulullah ini merupakan syahadat
rasul atau hakekat kerasulan
yaitu diri zahir manusia. (Jasmani).
Diri bathin (rohani) adalah
sebenar-benarnya diri yang
menyatakan : ..Rahasia Allah... Untuk menyatakan diri Rahasia
Allah Adalah diri zahir manusia.
Sedangkan … .. Kata Muhammad pada syahadat Rasul mengandung
arti yaitu diri zahir manusia yang
menanggung rahasia Allah.
Kejadian manusia adalah satu-
satunya kejadian yang paling rapi.
( Q.S. Attin-4) Kemulyaan manusia karena manusialah yang sanggup
menanggung rahasia Allah (Q.S. Al-
Ahzab 72). Dan karena firman
Allah dalam surat Al-Ahzab 72
inilah kita mengucapkan : “ Asyahadualla Ilaaha Illallah Wa
Asyahadu Anna Muhammadar
Rasulullah” Yang berarti : Kita bersaksi dengan diri kita sendiri
bahwa tiada yang nyata pada diri
kita sendiri hanya Allah Semata
dengan tubuh zahir
kita sebagai tempat menanggung
rahasia Allah dan akan menjaganya buat selama-
lamanya. Catatan: Jumlah dalam
kalimat tauhid itu ada 24 hurut Hal
ini mengisyaratkan kehidupan
manusia adalah 24 jam sehari
semalam. Lailaha illallah muhammad rasullullah.
merupakan syahadat tauhid atau
hakekat ketuhanan yaitu diri
bathin manusia (Rohani) Wa-
asyhadu anna muhammadar rasulullah ini merupakan syahadat
rasul atau hakekat kerasulan
yaitu diri zahir manusia. (Jasmani).
Diri bathin (rohani) adalah
sebenar-benarnya diri yang
menyatakan : ..Rahasia Allah... Untuk menyatakan diri Rahasia
Allah Adalah diri zahir manusia.
Sedangkan … .. Kata Muhammad pada syahadat Rasul mengandung
arti yaitu diri zahir manusia yang
menanggung rahasia Allah.
Kejadian manusia adalah satu-
satunya kejadian yang paling rapi.
( Q.S. Attin-4) Kemulyaan manusia karena manusialah yang sanggup
menanggung rahasia Allah (Q.S. Al-
Ahzab 72). Dan karena firman
Allah dalam surat Al-Ahzab 72
inilah kita mengucapkan : “ Asyahadualla Ilaaha Illallah Wa
Asyahadu Anna Muhammadar
Rasulullah” Yang berarti : Kita bersaksi dengan diri kita sendiri
bahwa tiada yang nyata pada diri
kita sendiri hanya Allah Semata
dengan tubuh zahir
kita sebagai tempat menanggung
rahasia Allah dan akan menjaganya buat selama-
lamanya. Catatan: Jumlah dalam
kalimat tauhid itu ada 24 hurut Hal
ini mengisyaratkan kehidupan
manusia adalah 24 jam sehari
semalam. Lailaha illallah muhammad rasullullah.
Minggu, 27 Maret 2011
ISRO MI'ROJ
Isra Mikraj . Peristiwa ini seringkali hanya dipahami
sebagai turunnya perintah sholat
lima waktu. Banyak orang yang
hanya mengambil hikmahnya
saja dari peristiwa Isra Mikraj
tapi sedikit sekali yang mau meneladaninya atau
mengalaminya langsung bertemu
dengan-Nya. Hal ini disebabkan
terpengaruh oleh pendapat ulama
yang mengatakan bahwa Isra
Mikraj cuma bisa dilakukan oleh Nabi Muhammad. Seharusnya
ulama tersebut jujur kepada diri
sendiri kalau memang belum
mampu melakukan atau
mengalami Isra Mikraj. Nah,
kalau belum mengalami seharusnya introspeksi diri
jangan lantas kemudian
mengatakan sesat jika ada orang
lain yang mampu melakukan Isra
Mikraj. Peristiwa Isra Mikraj
sama sekali bukan untuk dikagumi belaka! bukan pula
untuk dimitoskan! tapi untuk
diteladani. Sekali lagi, diteladani!.
Peristiwa Isra Mikraj dapat kita
baca dalam Al Quran,
sebagaimana dibawah ini: Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya
pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang
telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat. (Q.S Al Israa (17) :
1) Para ulama berbeda pendapat
tentang perjalanan Nabi dalam
Isra Mikraj ini. Sebagian ulama
mengatakan bahwa perjalanan
Isra Mikraj Nabi Muhammad
adalah secara fisik dan ruh, dan sebagian lagi mengatakan hanya
ruh saja yang melakukan
perjalanan. Perbedaan pendapat
ini bukanlah hal yang harus
dipersoalkan karena yang
terpenting adalah memahami hakekat Isra Mikraj itu sendiri.
Saya tetap menghargai pendapat
ulama lain meski saya sendiri
berpendapat bahwa Nabi
melakukan perjalanan secara
ruhani – bukan fisik. Tuhan adalah Maha Roh dan untuk menemui-
Nya adalah melalui ruh juga. Fisik hendaknya “ ditanggalkan ” atau dimatikan dahulu. Istilah
jawanya adalah mati sakjroning
urip (mati selagi hidup). Nabi juga
bersabda muutuu qobla an
tamuutu (matikan dirimu sebelum
mati yang sesungguhnya). Bagi sebagian ulama, perjalanan
Nabi Muhammad dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha sering
ditafsirkan secara harfiah yakni
Nabi benar-benar melakukan
perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Padahal ketika
ayat diatas turun, Masjidil Aqsha
belum ada sama sekali. Tempat
sebelum Masjidil Aqsha didirikan
adalah reruntuhan candi
Sulaiman. Masjidil Aqsha baru didirikan pada kekhalifahan Umar
bin Khattab dan baru selesai
pembangunannya pada
kekhalifahaan Abdul Malik bin
Marwan pada 68 H yakni lima
puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Jadi masjid
tersebut adalah “ simbol” yang harus dikaji maknanya lebih
mendalam. Oleh karena sulit
menjelaskan hal gaib maka
simbol diperlukan untuk
memudahkan pemahaman. Nah,
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha adalah simbol dari bayt Allah
(rumah Allah). Tentu makna
rumah Allah disini tidak diartikan
secara harfiah sebagaimana
rumah manusia karena
sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rumah. Peristiwa
Isra Mikraj adalah peristiwa
dimana Rasulullah berkunjung ke
bayt Allah. Dimana letaknya bayt
Allah? Ya di dalam diri tiap
manusia. Beliau melakukan perjalanan
ruhani ke dalam diri. Dalam
sebuah Hadistnya Nabi
mengatakan : “ Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan
mengenal Tuhannya ” . Dalam suatu riwayat lain juga
diceritakan bahwa tempat nabi
melakukan Mikraj masih hangat.
Ini artinya nabi tidak melakukan
perjalanan spiritual secara fisik
melainkan perjalanan secara ruhani yakni melalui zikir dan
tafakur. Manusia tidak perlu
melakukan perjalanan secara
fisik untuk menemui Allah karena
sesungguhnya Allah tidak berada
disuatu tempat yang terikat oleh ruang dan waktu layaknya
manusia. Allah itu meliputi segala
sesuatu. Sesungguhnya Dia meliputi segala
sesuatu. (Q.S Fushshilat (41) : 54) Dan Allah lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya. (Q.S Qaaf
(50) : 16) Dan Allah bersama kamu dimana
saja kamu berada. (Q.S Al Hadiid
(57) : 4) Dari ayat diatas, kita akan
menyadari bahwa Allah itu
tidaklah berjauhan dengan
hamba-Nya dan untuk mengenal
Allah cukup dengan mengkaji ke
dalam diri pribadi. Usaha untuk mengkaji ke dalam diri dimulai
dengan Isra. Isra adalah usaha
atau pencarian yang dilakukan
manusia untuk mencari lalu
menemui Tuhannya. Hal ini disimbolkan melalui
perjalanan malam hari dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.
Disebut perjalanan malam karena
kebanyakan manusia ini hidup
dalam kegelapan karena tidak tahu akan kemana tujuan
hidupnya. Orang yang tidak tahu tujuan
hidup disebut orang yang buta
mata batinnya. Dan barang siapa yang buta (mata
batinnya) di dunia ini, niscaya di
akherat nanti akan lebih buta lagi
dan lebih tersesat dari jalan yang
benar. (Q.S Al Israa (17) : 72) Nah, kalau di dunia saja buta kita
tidak tahu arah yang dituju
apalagi di kehidupan yang akan
datang? Ibarat mau ke Surabaya
tapi tidak punya petunjuk jalan
untuk mencapai daerah tersebut. Di perjalanan ya tentu akan
nyasar. Tersesat ke arah yang
makin kita tidak tahu dan tentu
akan membuat kita makin
menderita karena berada
ditempat yang asing. Lalu apa tujuan hidup kita
sebenarnya? Ini telah saya
jelaskan di post terdahulu yaitu
kembali kepada Allah (Ilayhi
Roji’ un). Nah agar manusia tidak tersesat (buta mata batinnya) dan
selamat sampai kepada-Nya
maka manusia harus mampu
melakukan Isra Mikraj. Dan Isra
Mikrajnya tidak perlu pergi ke
Mekkah atau Yerusalem. Tidak perlu menjual tanah. Orang
miskin harta pun bisa melakukan
Isra Mikraj asalkan ia
bersungguh-sungguh ingin
menemui-Nya. Hai Manusia, bersungguh-
sungguhlah kamu dengan
setekun-tekunnya sehingga
sampai kepada Tuhanmu lalu
kamu menemui-Nya. (Q.S Al
Insyiqaaq (84) : 6)
sebagai turunnya perintah sholat
lima waktu. Banyak orang yang
hanya mengambil hikmahnya
saja dari peristiwa Isra Mikraj
tapi sedikit sekali yang mau meneladaninya atau
mengalaminya langsung bertemu
dengan-Nya. Hal ini disebabkan
terpengaruh oleh pendapat ulama
yang mengatakan bahwa Isra
Mikraj cuma bisa dilakukan oleh Nabi Muhammad. Seharusnya
ulama tersebut jujur kepada diri
sendiri kalau memang belum
mampu melakukan atau
mengalami Isra Mikraj. Nah,
kalau belum mengalami seharusnya introspeksi diri
jangan lantas kemudian
mengatakan sesat jika ada orang
lain yang mampu melakukan Isra
Mikraj. Peristiwa Isra Mikraj
sama sekali bukan untuk dikagumi belaka! bukan pula
untuk dimitoskan! tapi untuk
diteladani. Sekali lagi, diteladani!.
Peristiwa Isra Mikraj dapat kita
baca dalam Al Quran,
sebagaimana dibawah ini: Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya
pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang
telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat. (Q.S Al Israa (17) :
1) Para ulama berbeda pendapat
tentang perjalanan Nabi dalam
Isra Mikraj ini. Sebagian ulama
mengatakan bahwa perjalanan
Isra Mikraj Nabi Muhammad
adalah secara fisik dan ruh, dan sebagian lagi mengatakan hanya
ruh saja yang melakukan
perjalanan. Perbedaan pendapat
ini bukanlah hal yang harus
dipersoalkan karena yang
terpenting adalah memahami hakekat Isra Mikraj itu sendiri.
Saya tetap menghargai pendapat
ulama lain meski saya sendiri
berpendapat bahwa Nabi
melakukan perjalanan secara
ruhani – bukan fisik. Tuhan adalah Maha Roh dan untuk menemui-
Nya adalah melalui ruh juga. Fisik hendaknya “ ditanggalkan ” atau dimatikan dahulu. Istilah
jawanya adalah mati sakjroning
urip (mati selagi hidup). Nabi juga
bersabda muutuu qobla an
tamuutu (matikan dirimu sebelum
mati yang sesungguhnya). Bagi sebagian ulama, perjalanan
Nabi Muhammad dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha sering
ditafsirkan secara harfiah yakni
Nabi benar-benar melakukan
perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Padahal ketika
ayat diatas turun, Masjidil Aqsha
belum ada sama sekali. Tempat
sebelum Masjidil Aqsha didirikan
adalah reruntuhan candi
Sulaiman. Masjidil Aqsha baru didirikan pada kekhalifahan Umar
bin Khattab dan baru selesai
pembangunannya pada
kekhalifahaan Abdul Malik bin
Marwan pada 68 H yakni lima
puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Jadi masjid
tersebut adalah “ simbol” yang harus dikaji maknanya lebih
mendalam. Oleh karena sulit
menjelaskan hal gaib maka
simbol diperlukan untuk
memudahkan pemahaman. Nah,
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha adalah simbol dari bayt Allah
(rumah Allah). Tentu makna
rumah Allah disini tidak diartikan
secara harfiah sebagaimana
rumah manusia karena
sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rumah. Peristiwa
Isra Mikraj adalah peristiwa
dimana Rasulullah berkunjung ke
bayt Allah. Dimana letaknya bayt
Allah? Ya di dalam diri tiap
manusia. Beliau melakukan perjalanan
ruhani ke dalam diri. Dalam
sebuah Hadistnya Nabi
mengatakan : “ Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan
mengenal Tuhannya ” . Dalam suatu riwayat lain juga
diceritakan bahwa tempat nabi
melakukan Mikraj masih hangat.
Ini artinya nabi tidak melakukan
perjalanan spiritual secara fisik
melainkan perjalanan secara ruhani yakni melalui zikir dan
tafakur. Manusia tidak perlu
melakukan perjalanan secara
fisik untuk menemui Allah karena
sesungguhnya Allah tidak berada
disuatu tempat yang terikat oleh ruang dan waktu layaknya
manusia. Allah itu meliputi segala
sesuatu. Sesungguhnya Dia meliputi segala
sesuatu. (Q.S Fushshilat (41) : 54) Dan Allah lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya. (Q.S Qaaf
(50) : 16) Dan Allah bersama kamu dimana
saja kamu berada. (Q.S Al Hadiid
(57) : 4) Dari ayat diatas, kita akan
menyadari bahwa Allah itu
tidaklah berjauhan dengan
hamba-Nya dan untuk mengenal
Allah cukup dengan mengkaji ke
dalam diri pribadi. Usaha untuk mengkaji ke dalam diri dimulai
dengan Isra. Isra adalah usaha
atau pencarian yang dilakukan
manusia untuk mencari lalu
menemui Tuhannya. Hal ini disimbolkan melalui
perjalanan malam hari dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.
Disebut perjalanan malam karena
kebanyakan manusia ini hidup
dalam kegelapan karena tidak tahu akan kemana tujuan
hidupnya. Orang yang tidak tahu tujuan
hidup disebut orang yang buta
mata batinnya. Dan barang siapa yang buta (mata
batinnya) di dunia ini, niscaya di
akherat nanti akan lebih buta lagi
dan lebih tersesat dari jalan yang
benar. (Q.S Al Israa (17) : 72) Nah, kalau di dunia saja buta kita
tidak tahu arah yang dituju
apalagi di kehidupan yang akan
datang? Ibarat mau ke Surabaya
tapi tidak punya petunjuk jalan
untuk mencapai daerah tersebut. Di perjalanan ya tentu akan
nyasar. Tersesat ke arah yang
makin kita tidak tahu dan tentu
akan membuat kita makin
menderita karena berada
ditempat yang asing. Lalu apa tujuan hidup kita
sebenarnya? Ini telah saya
jelaskan di post terdahulu yaitu
kembali kepada Allah (Ilayhi
Roji’ un). Nah agar manusia tidak tersesat (buta mata batinnya) dan
selamat sampai kepada-Nya
maka manusia harus mampu
melakukan Isra Mikraj. Dan Isra
Mikrajnya tidak perlu pergi ke
Mekkah atau Yerusalem. Tidak perlu menjual tanah. Orang
miskin harta pun bisa melakukan
Isra Mikraj asalkan ia
bersungguh-sungguh ingin
menemui-Nya. Hai Manusia, bersungguh-
sungguhlah kamu dengan
setekun-tekunnya sehingga
sampai kepada Tuhanmu lalu
kamu menemui-Nya. (Q.S Al
Insyiqaaq (84) : 6)
Sabtu, 26 Maret 2011
HAKEKAT BISMILLAH HURUF DEMI HURUF
Dalam suatu hadits Nabi saw.
Beliau bersabda, Setiap
kandungan dalam seluruh kitab-
kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur ’ an. Dan seluruh kandungan Al-Qur ’ an ada di datam Al-Fatihah. Dan semua
yang ada dalam Al-Fatihah ada di
dalam
Bismillnahirrahmaanirrahiim. ” Bahkan disebutkan dalam hadits
lain, “ setiap kandungan yang ada dalam
Bismillahirrahmaanirrahiim ada
di dalam huruf Baa ’ , dan setiap yang terkandung di dalam Baa ’ ada di dalam titik yang berada
dibawah Baa ’” . Sebagian para Arifin
menegaskan, “ Dalam perspektif orang yang ma ’ rifat kepada Allah,
Bismillaahirrahmaanirrahim itu
kedudukannya sama dengan
“ kun ” dari Allah ” . Perlu diketahui bahwa
pembahasan mengenai
Bismillahirrahmaanirrahiim
banyak ditinjau dari berbagai
segi, baik dari segi gramatikal
(Nahwu dan sharaf) ataupun segi bahasa (etimologis), disamping
tinjuan dari materi huruf, bentuk,
karakteristik, kedudukan,
susunannya serta
keistemewaanya atas huruf-
huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al-Qur ’ an, kristalisasi dan spesifikasi huruf-
huruf yang ada dalam huruf Baa ’ , manfaat dan rahasianya. Tujuan kami bukan mengupas
semua itu, tetapi lebih pada
esensi atau hakikat makna
terdalam yang relevan dengan
segala hal di sisi Allah swt,
Pembahasannya akan saling berkelin dan satu sama lainnya,
karena seluruh tujuannya adalah
Ma’ rifat kepada Allah swt. Kami memang berada di
gerbangNya, dan setiap ada
limpahan baru di dalam jiwa
maka ar-Ruhul Amin turun di
dalam kalbunya kertas.
Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa ’ adalah awal mula setiap surat
dan Kitab Allah Ta ’ ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun
darititik, dan sudah semestinya
setiap Surat ada huruf yang
menjadi awalnya, sedangkan
setiap huruf itu ada titik yang
menjadi awalnya huruf. Karena itu menjadi keniscayaan bahwa
titik itu sendiri adalah awal dan
pada setiap surat dan Kitab Allah
Ta’ ala. Kerangka hubungan antara huruf
Baa’ dengan Tititknya secara komprehensfih akan dijeaskan
berikut nanti. Bahwa Baa ’ dalam setiap surat itu sendiri sebagai
keharusan adanya dalam
Basmalah bagi setiap surat,
bahkan di dalam surat Al-
Baqarah. Huruf Baa ’ itu sendiri mengawali ayat dalam surat
tersebut. Karena itu dalam
konteks inilah setiap surat dalam
Al-Qur ’ an mesti diawali dengan Baa’ sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan
Al-Qur ’ an itu ada dalam surah Al- Fatihah, tersimpul lagi di dalam
Basmalah, dan tersimpul lagi
dalam Huruf Baa ’ , akhirnya pada titik. Hal yang sama , Allah SWT dengan
seluruh yang ada secara
paripurna sama sekali tidak
terbagi-bagi dan terpisah-pisah.
Titik sendiri merupakan syarat-
syarat dzat Allah Ta ’ ala yang tersembunyi dibalik khasanahnya
ketika dalam penampakkan-Nya
terhadap mahlukNya. Amboi, titik
itu tidak tampak dan tidak Layak
lagi bagi anda untuk dibaca
selamanya mengingat kediaman dan kesuciannya dari segala
batasan, dari satu makhraj ke
makhraj lainya.
Sebab ia adalah jiwa dari seluruh
huruf yang keluar dari seluruh
tempat keluarnya huruf. Maka,camkanlah, dengan adanya
batin dari Ghaibnya sifat
Ahadiyah. Misalnya anda membaca titik
menurut persekutuan, seperti
huruf Taa ’ dengan dua tik, lalu Anda menambah satu titik lagi
menjadi huruf Tsaa ’ , maka yang Anda baca tidak lain kecuali Titik
itu sendiri. Sebab Taa ’ bertitik dua, dan Tsaa’ bertitik tiga tidak terbaca,karena bentuknya satu,
yang tidak terbaca kecuali
titiknya belaka. Seandainya Anda
membaca di dalam diri titik itu
niscaya bentuk masing-masing
berbeda dengan lainnya. Karena itu dengan titik itulah masing-
masing dibedakan, sehingga
setiap huruf sebenarnya tidak
terbaca kecuali titiknya saja. Hal
yang sama dalam perspektif
makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenal kecuali Allah. Bahwa Anda mengenal-Nya dari
makhluk sesungguhnya Anda
mengenal-Nya dari Allah swt.
Hanya saja Titik pada sebagian
huruf lebih jelas satu sama
lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk
menyempurnakannya, seperti
dalam huruf-huruf yang bertitik,
kelengkapannya pada ttik
tersebut. Ada sebagian yang
tampak pada kenyataannya seperti huruf Alif dan huruf-huruf
tanpa Titik. Karena huruf tersebut
juga tersusun dari titik-titik. Oleh
sebab itulah, Alif lebih mulia
dibanding Baa’ ,karena Titiknya justru menampakkan diri dalam
wujudnya, sementara dalam Baa ’ itu sendiri tidak tampak (Titik
berdiri sendiri). Titik di dalam
huruf Baa ’ tidak akan tampak, kecuali dalam rangka
kelengkapannya menurut
perspektif penyatuan. Karena
Titik suatu huruf Merupakan
kesempurnaan huruf itu sendiri
dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara
penyatuan itu sendiri
mengindikasikan adanya faktor
lain, yaitu faktor yang
memisahkan antara huruf dengan
titiknya. Huruf Alif itu sendiri posisinya
menempati posisi tunggal dengan
sendirinya dalam setiap huruf.
Misalnya Anda bisa mengatakan
bahwa Baa ’ itu adalah Alif yang di datarkan Sedang Jiim, misalnya,
adalah Alif dibengkokkan ’ dua ujungnya. Daal adalah Alif yang
yang ditekuk tengahnya. Sedangkan Alif dalam kedudukan
titik, sebagai penyusun struktur
setiap huruf ibarat Masing-masing
huruf tersusun dari Titik.
Sementara Titik bagi setiap huruf
ibarat Neucleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri
seperti tubuh yang terstruktur.
Kedudukan Alif dengan
kerangkanya seperti kedudukan
Titik. Lalu huruf-huruf itu
tersusun dari Alif sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa ’ adalah Alif yang terdatarkan. Demikian pula Hakikat
Muhammadiyyah merupakan inti
dimana seluruh jagad raya ini
diciptakan dari Hakikat
Muhammadiyah itu. Sebagaimana
hadits riwayat Jabir, yang intinya Allah swt. menciptakan Ruh Nabi
saw dari Dzat-Nya, dan
menciptakan seluruh alam dari
Ruh Muhammad saw. Sedangkan
Muhammad saw. adalah Sifat
Dzahirnya Allah dalam makhluk melalui Nama-Nya dengan
wahana penampakan Ilahiyah. Anda masih ingat ketika Nabi
saw. diisra ’ kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan
Singgasana Ar-Rahman.
Sedangkan huruf Alif, — walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik
sepadan dengannya, dan Alif
merupakan manifestasi Titik
yang tampak di dalamnya dengan
substansinya — Alif memiliki nilai tambah dibanding yang lain.
Sebab yang tertera setelah Titik
tidak lain kecuali berada satu
derajat. Karena dua Titik
manakala disusun dua bentuk alif,
maka Alif menjadi sesuatu yang memanjang. Karena dimensi itu
terdiri dari tiga: Panjang, Lebar
dan Kedalaman. Sedangkan huruf-huruf lainnya
menyatu di dalam Alif,seperti
huruf Jiim. Pada kepala huruf Jiim
ada yang memanjang, lalu pada
pangkal juga memanjang,
tengahnya juga memanjang. Pada huruf Kaaf misalnya, ujungnya
memanjang, tengahnya juga
memanjang namun pada
pangkalnya yang pertama lebar.
Masing-masing ada tiga dimensi.
Setiap huruf selain Alif memiliki dua atau tiga jangkauan yang
membentang. Sementara Alif
sendiri lebih mendekati titik.
Sedangkan titik , tidak punya
bentangan. Hubungan Alif
diantara huruf-huruf yang Tidak bertitik, ibarat hubungan antara
Nabi Muhammad saw, dengan
para Nabi dan para pewarisnya
yang paripurna. Karenanya Alif
mendahului semua huruf. Diantara huruf-huruf itu ada yang
punya Titik di atasnya, ada pula
yang punya Titik
dibawahnya,Yang pertama (titik
di atas) menempatip osisi “ Aku tidak melihat sesuatu
sebelumnya) kecuali melihat
Allah di sana ” . Diantara huruf itu ada yang
mempunyai Titik di tengah,
seperti Titik putih dalam lobang
Huruf Mim dan Wawu serta
sejenisnya, maka posisinya pada
tahap, ” Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya. ” Karenanya titik itu berlobang,
sebab dalam lobang itu tampak
sesuatu selain titik itu sendiri
Lingkaran kepada kepala Miim
menempati tahap, “ Aku tidak melihat sesuatu” sementara Titik putih menemptai “ Kecuali aku melihat Allah di dalamnya. ” Alif menempati posisi
“ Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu
sesungguhnya mereka itu
berbaiat kepada Alllah. ” Kalimat “ sesungguhnya ” menempati posisi arti “ Tidak” , dengan uraian “ Sesungguhnya orang-orang berbaiat ” kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu tidaklah
berbaiat kepadamu, kecuali
berbaiat kepada Allah. ” Dimaklumi bahwa Nabi
Muhammad saw. dibaiat, lalu dia
bersyahadat kepada bersyahadat
kepada Allah pada dirinya
sendiri, sesungguhnya tidaklah
dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Artinya, kamu
sebenarnya tidak berbaiat
kepada Muhammad saw. tetapi
hakikat-nya berbaiat kepada
Allah swt. Itulah arti sebenarnya
dari Khilafah tersebut. (disarikan dari tafsir Al-Qur'an
karya lbnu 'Araby)
Beliau bersabda, Setiap
kandungan dalam seluruh kitab-
kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur ’ an. Dan seluruh kandungan Al-Qur ’ an ada di datam Al-Fatihah. Dan semua
yang ada dalam Al-Fatihah ada di
dalam
Bismillnahirrahmaanirrahiim. ” Bahkan disebutkan dalam hadits
lain, “ setiap kandungan yang ada dalam
Bismillahirrahmaanirrahiim ada
di dalam huruf Baa ’ , dan setiap yang terkandung di dalam Baa ’ ada di dalam titik yang berada
dibawah Baa ’” . Sebagian para Arifin
menegaskan, “ Dalam perspektif orang yang ma ’ rifat kepada Allah,
Bismillaahirrahmaanirrahim itu
kedudukannya sama dengan
“ kun ” dari Allah ” . Perlu diketahui bahwa
pembahasan mengenai
Bismillahirrahmaanirrahiim
banyak ditinjau dari berbagai
segi, baik dari segi gramatikal
(Nahwu dan sharaf) ataupun segi bahasa (etimologis), disamping
tinjuan dari materi huruf, bentuk,
karakteristik, kedudukan,
susunannya serta
keistemewaanya atas huruf-
huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al-Qur ’ an, kristalisasi dan spesifikasi huruf-
huruf yang ada dalam huruf Baa ’ , manfaat dan rahasianya. Tujuan kami bukan mengupas
semua itu, tetapi lebih pada
esensi atau hakikat makna
terdalam yang relevan dengan
segala hal di sisi Allah swt,
Pembahasannya akan saling berkelin dan satu sama lainnya,
karena seluruh tujuannya adalah
Ma’ rifat kepada Allah swt. Kami memang berada di
gerbangNya, dan setiap ada
limpahan baru di dalam jiwa
maka ar-Ruhul Amin turun di
dalam kalbunya kertas.
Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa ’ adalah awal mula setiap surat
dan Kitab Allah Ta ’ ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun
darititik, dan sudah semestinya
setiap Surat ada huruf yang
menjadi awalnya, sedangkan
setiap huruf itu ada titik yang
menjadi awalnya huruf. Karena itu menjadi keniscayaan bahwa
titik itu sendiri adalah awal dan
pada setiap surat dan Kitab Allah
Ta’ ala. Kerangka hubungan antara huruf
Baa’ dengan Tititknya secara komprehensfih akan dijeaskan
berikut nanti. Bahwa Baa ’ dalam setiap surat itu sendiri sebagai
keharusan adanya dalam
Basmalah bagi setiap surat,
bahkan di dalam surat Al-
Baqarah. Huruf Baa ’ itu sendiri mengawali ayat dalam surat
tersebut. Karena itu dalam
konteks inilah setiap surat dalam
Al-Qur ’ an mesti diawali dengan Baa’ sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan
Al-Qur ’ an itu ada dalam surah Al- Fatihah, tersimpul lagi di dalam
Basmalah, dan tersimpul lagi
dalam Huruf Baa ’ , akhirnya pada titik. Hal yang sama , Allah SWT dengan
seluruh yang ada secara
paripurna sama sekali tidak
terbagi-bagi dan terpisah-pisah.
Titik sendiri merupakan syarat-
syarat dzat Allah Ta ’ ala yang tersembunyi dibalik khasanahnya
ketika dalam penampakkan-Nya
terhadap mahlukNya. Amboi, titik
itu tidak tampak dan tidak Layak
lagi bagi anda untuk dibaca
selamanya mengingat kediaman dan kesuciannya dari segala
batasan, dari satu makhraj ke
makhraj lainya.
Sebab ia adalah jiwa dari seluruh
huruf yang keluar dari seluruh
tempat keluarnya huruf. Maka,camkanlah, dengan adanya
batin dari Ghaibnya sifat
Ahadiyah. Misalnya anda membaca titik
menurut persekutuan, seperti
huruf Taa ’ dengan dua tik, lalu Anda menambah satu titik lagi
menjadi huruf Tsaa ’ , maka yang Anda baca tidak lain kecuali Titik
itu sendiri. Sebab Taa ’ bertitik dua, dan Tsaa’ bertitik tiga tidak terbaca,karena bentuknya satu,
yang tidak terbaca kecuali
titiknya belaka. Seandainya Anda
membaca di dalam diri titik itu
niscaya bentuk masing-masing
berbeda dengan lainnya. Karena itu dengan titik itulah masing-
masing dibedakan, sehingga
setiap huruf sebenarnya tidak
terbaca kecuali titiknya saja. Hal
yang sama dalam perspektif
makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenal kecuali Allah. Bahwa Anda mengenal-Nya dari
makhluk sesungguhnya Anda
mengenal-Nya dari Allah swt.
Hanya saja Titik pada sebagian
huruf lebih jelas satu sama
lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk
menyempurnakannya, seperti
dalam huruf-huruf yang bertitik,
kelengkapannya pada ttik
tersebut. Ada sebagian yang
tampak pada kenyataannya seperti huruf Alif dan huruf-huruf
tanpa Titik. Karena huruf tersebut
juga tersusun dari titik-titik. Oleh
sebab itulah, Alif lebih mulia
dibanding Baa’ ,karena Titiknya justru menampakkan diri dalam
wujudnya, sementara dalam Baa ’ itu sendiri tidak tampak (Titik
berdiri sendiri). Titik di dalam
huruf Baa ’ tidak akan tampak, kecuali dalam rangka
kelengkapannya menurut
perspektif penyatuan. Karena
Titik suatu huruf Merupakan
kesempurnaan huruf itu sendiri
dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara
penyatuan itu sendiri
mengindikasikan adanya faktor
lain, yaitu faktor yang
memisahkan antara huruf dengan
titiknya. Huruf Alif itu sendiri posisinya
menempati posisi tunggal dengan
sendirinya dalam setiap huruf.
Misalnya Anda bisa mengatakan
bahwa Baa ’ itu adalah Alif yang di datarkan Sedang Jiim, misalnya,
adalah Alif dibengkokkan ’ dua ujungnya. Daal adalah Alif yang
yang ditekuk tengahnya. Sedangkan Alif dalam kedudukan
titik, sebagai penyusun struktur
setiap huruf ibarat Masing-masing
huruf tersusun dari Titik.
Sementara Titik bagi setiap huruf
ibarat Neucleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri
seperti tubuh yang terstruktur.
Kedudukan Alif dengan
kerangkanya seperti kedudukan
Titik. Lalu huruf-huruf itu
tersusun dari Alif sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa ’ adalah Alif yang terdatarkan. Demikian pula Hakikat
Muhammadiyyah merupakan inti
dimana seluruh jagad raya ini
diciptakan dari Hakikat
Muhammadiyah itu. Sebagaimana
hadits riwayat Jabir, yang intinya Allah swt. menciptakan Ruh Nabi
saw dari Dzat-Nya, dan
menciptakan seluruh alam dari
Ruh Muhammad saw. Sedangkan
Muhammad saw. adalah Sifat
Dzahirnya Allah dalam makhluk melalui Nama-Nya dengan
wahana penampakan Ilahiyah. Anda masih ingat ketika Nabi
saw. diisra ’ kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan
Singgasana Ar-Rahman.
Sedangkan huruf Alif, — walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik
sepadan dengannya, dan Alif
merupakan manifestasi Titik
yang tampak di dalamnya dengan
substansinya — Alif memiliki nilai tambah dibanding yang lain.
Sebab yang tertera setelah Titik
tidak lain kecuali berada satu
derajat. Karena dua Titik
manakala disusun dua bentuk alif,
maka Alif menjadi sesuatu yang memanjang. Karena dimensi itu
terdiri dari tiga: Panjang, Lebar
dan Kedalaman. Sedangkan huruf-huruf lainnya
menyatu di dalam Alif,seperti
huruf Jiim. Pada kepala huruf Jiim
ada yang memanjang, lalu pada
pangkal juga memanjang,
tengahnya juga memanjang. Pada huruf Kaaf misalnya, ujungnya
memanjang, tengahnya juga
memanjang namun pada
pangkalnya yang pertama lebar.
Masing-masing ada tiga dimensi.
Setiap huruf selain Alif memiliki dua atau tiga jangkauan yang
membentang. Sementara Alif
sendiri lebih mendekati titik.
Sedangkan titik , tidak punya
bentangan. Hubungan Alif
diantara huruf-huruf yang Tidak bertitik, ibarat hubungan antara
Nabi Muhammad saw, dengan
para Nabi dan para pewarisnya
yang paripurna. Karenanya Alif
mendahului semua huruf. Diantara huruf-huruf itu ada yang
punya Titik di atasnya, ada pula
yang punya Titik
dibawahnya,Yang pertama (titik
di atas) menempatip osisi “ Aku tidak melihat sesuatu
sebelumnya) kecuali melihat
Allah di sana ” . Diantara huruf itu ada yang
mempunyai Titik di tengah,
seperti Titik putih dalam lobang
Huruf Mim dan Wawu serta
sejenisnya, maka posisinya pada
tahap, ” Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya. ” Karenanya titik itu berlobang,
sebab dalam lobang itu tampak
sesuatu selain titik itu sendiri
Lingkaran kepada kepala Miim
menempati tahap, “ Aku tidak melihat sesuatu” sementara Titik putih menemptai “ Kecuali aku melihat Allah di dalamnya. ” Alif menempati posisi
“ Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu
sesungguhnya mereka itu
berbaiat kepada Alllah. ” Kalimat “ sesungguhnya ” menempati posisi arti “ Tidak” , dengan uraian “ Sesungguhnya orang-orang berbaiat ” kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu tidaklah
berbaiat kepadamu, kecuali
berbaiat kepada Allah. ” Dimaklumi bahwa Nabi
Muhammad saw. dibaiat, lalu dia
bersyahadat kepada bersyahadat
kepada Allah pada dirinya
sendiri, sesungguhnya tidaklah
dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Artinya, kamu
sebenarnya tidak berbaiat
kepada Muhammad saw. tetapi
hakikat-nya berbaiat kepada
Allah swt. Itulah arti sebenarnya
dari Khilafah tersebut. (disarikan dari tafsir Al-Qur'an
karya lbnu 'Araby)
MEMAHAMI SHOLAT DAIM
Sebelum kita memahami
Shalat Daim, ada baiknya
kita memahami apa
sebenarnya arti dari kata
Shalat itu. Arti daripada
shalat adalah mengingat- ingat GUSTI ALLAH
(Dzikrullah) di waktu duduk,
berdiri dan melakukan
aktivitas dalam kehidupan
ini. Sedangkan kata Daim itu
memiliki arti terus-menerus ataupun tak pernah putus. Jadi, jika kedua kata itu
digabungkan maka Shalat Daim
itu berarti mengingat-ingat GUSTI
ALLAH tanpa pernah putus. Atau
Dzikrullah secara terus menerus.
Salah satu contoh dari Shalat Daim dapat kita tauladani dari sejarah
saat Sunan Bonang
menggembleng Raden Mas Syahid
sebelum bergelar Sunan Kalijaga. Saat itu Sunan Bonang sudah
mengajarkan apa yang
dinamakan Shalat Daim pada
Raden Mas Syahid. Bagaimana
Shalat Daim itu? Pertama kali
Sunan Bonang menyuruh Raden Mas Syahid untuk duduk, diam
dan berusaha untuk mengalahkan
hawa nafsunya sendiri. Menurut ajaran dari Sunan
Bonang, Shalat Daim itu hanya
duduk, diam, hening, pasrah pada
kehendak GUSTI ALLAH. Raden
Mas Syahid tidak disuruh untuk
dzikir ataupun melakukan ritual apapun. Apa rahasia dibalik
duduk diam tersebut? Cobalah
Anda duduk dan berdiam diri.
Maka hawa nafsu Anda akan
berbicara sendiri. Ia akan
melaporkan hal-hal yang bersifat duniawi pada diri Anda. Hal itu
semata-mata terjadi karena
hawa nafsu kita mengajak kita
untuk terus terikat dengan segala
hal yang berbau dunia. Awalnya, orang diam pikirannya
kemana-mana. Namun setelah
sekian waktu diam di tempat,
akal dan keinginannya akhirnya
melemas dan benar-benar tidak
memiliki daya untuk berpikir, energi keinginan duniawinya
lepas dan lenyap. Dalam kondisi
demikian, manusia akan berada
dalam kondisi nol atau suwung
total. Karena ego dan hawa nafsu
sudah terkalahkan. Demikian juga dengan kondisi
Raden Mas Syahid ketika bertapa
di pinggir kali. Ia hanya pasrah
dan tidak melakukan ritual
apapun. Hanya diam dan hening.
Hingga akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan GURU SEJATINYA. “ BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA,
KANG SUKSMA PURBA WASESA,
KUMEBUL TANPA GENI, WANGI
TANPA GANDA, AKU SAJATINE
ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH,
LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA
WUTA, WONG SEWU PADA TURU,
AMONG AKU ORA TURU,
PINANGERAN YITNA KABEH … .” Lewat Suluk Wujil, Sunan Bonang
sudah menjelaskan perihal Shalat
Daim yaitu UTAMANING SARIRA PUNIKI,
ANGRAWUHANA JATINING SALAT,
SEMBAH LAWAN PUJINE,
JATINING SALAT IKU,
DUDU NGISA TUWIN MAGERIB,
SEMBAH ARANEKA, WENANGE PUNIKU, LAMUN
ARANANA SALAT,
PAN MINANGKA KEKEMBANGING
SALAT DAIM, INGARAN TATA
KRAMA. (Keutamaan diri ini adalah
mengetahui HAKIKAT SALAT,
sembah dan pujian. Salat yang
sesungguhnya bukanlah
mengerjakan salat Isya atau
maghrib (shalat 5 waktu). Itu namanya sembahyang. Apabila
disebut salat, maka itu hanya
hiasan dari SALAT DAIM, hanya
tata krama). Shalat sejati tidak hanya
mengerjakan sembah raga atau
tataran syariat mengerjakan
sholat lima waktu. Shalat sejati
adalah SHALAT DAIM, yaitu
bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-
Nya dengan kalimat penyaksian
bahwa yang suci di dunia ini
hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA
ALLAH. Hu saat menarik nafas
dan Allah saat mengeluarkan nafas. Lebih lanjut Sunan Bonang juga
menjelaskan tentang cara
melakukan Shalat Daim lewat
Suluk Wujil, yaitu PANGABEKTINE INGKANG UTAMI,
NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA,
PUNIKA MANGKA SEMBAHE
MENENG MUNI PUNIKU,
SASOLAHE RAGANIREKI,
TAN SIMPANG DADI SEMBAH, TEKENG WULUNIPUN,
TINJA TURAS DADI SEMBAH,
IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI,
PUJI TAN PAPEGETAN. (Berbakti yang utama tidak
mengenal waktu. Semua tingkah
lakunya itulah menyembah. Diam,
bicara, dan semua gerakan tubuh
merupakan kegiatan
menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan
menyembah. Itulah niat sejati.
Pujian yang tidak pernah
berakhir
Shalat Daim, ada baiknya
kita memahami apa
sebenarnya arti dari kata
Shalat itu. Arti daripada
shalat adalah mengingat- ingat GUSTI ALLAH
(Dzikrullah) di waktu duduk,
berdiri dan melakukan
aktivitas dalam kehidupan
ini. Sedangkan kata Daim itu
memiliki arti terus-menerus ataupun tak pernah putus. Jadi, jika kedua kata itu
digabungkan maka Shalat Daim
itu berarti mengingat-ingat GUSTI
ALLAH tanpa pernah putus. Atau
Dzikrullah secara terus menerus.
Salah satu contoh dari Shalat Daim dapat kita tauladani dari sejarah
saat Sunan Bonang
menggembleng Raden Mas Syahid
sebelum bergelar Sunan Kalijaga. Saat itu Sunan Bonang sudah
mengajarkan apa yang
dinamakan Shalat Daim pada
Raden Mas Syahid. Bagaimana
Shalat Daim itu? Pertama kali
Sunan Bonang menyuruh Raden Mas Syahid untuk duduk, diam
dan berusaha untuk mengalahkan
hawa nafsunya sendiri. Menurut ajaran dari Sunan
Bonang, Shalat Daim itu hanya
duduk, diam, hening, pasrah pada
kehendak GUSTI ALLAH. Raden
Mas Syahid tidak disuruh untuk
dzikir ataupun melakukan ritual apapun. Apa rahasia dibalik
duduk diam tersebut? Cobalah
Anda duduk dan berdiam diri.
Maka hawa nafsu Anda akan
berbicara sendiri. Ia akan
melaporkan hal-hal yang bersifat duniawi pada diri Anda. Hal itu
semata-mata terjadi karena
hawa nafsu kita mengajak kita
untuk terus terikat dengan segala
hal yang berbau dunia. Awalnya, orang diam pikirannya
kemana-mana. Namun setelah
sekian waktu diam di tempat,
akal dan keinginannya akhirnya
melemas dan benar-benar tidak
memiliki daya untuk berpikir, energi keinginan duniawinya
lepas dan lenyap. Dalam kondisi
demikian, manusia akan berada
dalam kondisi nol atau suwung
total. Karena ego dan hawa nafsu
sudah terkalahkan. Demikian juga dengan kondisi
Raden Mas Syahid ketika bertapa
di pinggir kali. Ia hanya pasrah
dan tidak melakukan ritual
apapun. Hanya diam dan hening.
Hingga akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan GURU SEJATINYA. “ BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA,
KANG SUKSMA PURBA WASESA,
KUMEBUL TANPA GENI, WANGI
TANPA GANDA, AKU SAJATINE
ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH,
LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA
WUTA, WONG SEWU PADA TURU,
AMONG AKU ORA TURU,
PINANGERAN YITNA KABEH … .” Lewat Suluk Wujil, Sunan Bonang
sudah menjelaskan perihal Shalat
Daim yaitu UTAMANING SARIRA PUNIKI,
ANGRAWUHANA JATINING SALAT,
SEMBAH LAWAN PUJINE,
JATINING SALAT IKU,
DUDU NGISA TUWIN MAGERIB,
SEMBAH ARANEKA, WENANGE PUNIKU, LAMUN
ARANANA SALAT,
PAN MINANGKA KEKEMBANGING
SALAT DAIM, INGARAN TATA
KRAMA. (Keutamaan diri ini adalah
mengetahui HAKIKAT SALAT,
sembah dan pujian. Salat yang
sesungguhnya bukanlah
mengerjakan salat Isya atau
maghrib (shalat 5 waktu). Itu namanya sembahyang. Apabila
disebut salat, maka itu hanya
hiasan dari SALAT DAIM, hanya
tata krama). Shalat sejati tidak hanya
mengerjakan sembah raga atau
tataran syariat mengerjakan
sholat lima waktu. Shalat sejati
adalah SHALAT DAIM, yaitu
bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-
Nya dengan kalimat penyaksian
bahwa yang suci di dunia ini
hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA
ALLAH. Hu saat menarik nafas
dan Allah saat mengeluarkan nafas. Lebih lanjut Sunan Bonang juga
menjelaskan tentang cara
melakukan Shalat Daim lewat
Suluk Wujil, yaitu PANGABEKTINE INGKANG UTAMI,
NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA,
PUNIKA MANGKA SEMBAHE
MENENG MUNI PUNIKU,
SASOLAHE RAGANIREKI,
TAN SIMPANG DADI SEMBAH, TEKENG WULUNIPUN,
TINJA TURAS DADI SEMBAH,
IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI,
PUJI TAN PAPEGETAN. (Berbakti yang utama tidak
mengenal waktu. Semua tingkah
lakunya itulah menyembah. Diam,
bicara, dan semua gerakan tubuh
merupakan kegiatan
menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan
menyembah. Itulah niat sejati.
Pujian yang tidak pernah
berakhir
104 KITAB SUCI (BISMILLAH 1)
RAHASIA DAN INTI KITABULLOH DI
DALAM
BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM
Dasar mengungkap rahasia
Bismillahirrohmaanirrohiim,
Shohabat Abi Dzar Al Ghifari tanya kepada Nabi Muhammad
SAW :
YAA ROSULULLOH, KAM AN-
ZALALLOHU MIN KITAABIN, QOOLA
MI-ATU KITAABIN WA-ARBA'ATU
KUTUBIN. Kitab yang diturunkan dari langit
ada 104 kitab. Kitab-kitab Alloh
104 kitab itu diturunkan kepada:
1. Nabiyulloh Syits AS 50 kitab.
2. Nabiyulloh Idris AS 30 kitab.
3. Nabiyulloh Ibrohim AS 10 kitab. 4. Nabiyulloh Musa AS , sebelum
Taurot 10 kitab.
5. Turun kepada Nabiyulloh Musa
AS satu kitab Taurot.
6. Turun kepada Nabiyulloh
Dawud AS satu kitab Zabur. 7. Turun kepada Nabiyulloh Isa AS
satu kitab Injil.
8. Turun kepada Nabiyulloh
Muhammad SAW satu kitab Al
Qur'an.
Kalau dijumlah 50 + 30 + 10 + 10 + 1 + 1 + 1 + 1 = 104, itu kitab yang
diturunkan dari langit pada para
Nabi-Nabi semuanya. Kitab-kitab
itu semuanya turun didalam bulan
Romadlon, seperti disebutkan
didalam Hadits yang artinya : " Suhuf Ibrohim AS 10 kitab, turun
ditanggal 1 malam Bulan
Romadlon. Kitab Taurot turun
pada Nabi Musa AS di tanggal 6
malam Bulan Romadlon. Kitab
Zabur turun pada Nabi Dawud AS ditangggal 12 malam bulan
Romadlon, Kitab Injil turun pada
Nabi Isa ditanggal 18 malam
bulan Romadlon, Kitab AL Qur'an
turun pada Nabi Muhammad SAW
ditanggal 27 malam bulan Romadlon".
"Jarak turunnya shuhuf Ibrohim
dan kitab Taurot 700 tahun,
Antara kitab Taurot (Musa AS )
dan Zabur ( Dawud AS ) jaraknya
500 tahun. Antara kitab Zabur dan Injil pada Nabi Isa AS jaraknya
1200 tahun, kitab Injil dan Al
Qur'an 620 tahun".
Kitab 104 itu, yang 103 maknanya
diringkas / diperas dikitab Al
Qur'an. ROSUULUM MINALLOOHI YATLUU
SHUHUFAM MUTHOH-HAROH,
FIIHAA KUTUBUNG QOYYI MAH.
Al Qur-an diperas lagi intinya
didalan surat al Fatihah, maka
kemudian Rosululloh dawuh : MAN QORO'A FATIHATUL KITAAB
FAKA-ANNAMAA QORO'AT
TAUROOTA WAL INJIILA WAZ-
ZABUURO WAL QUR-ANA.
Artinya: " Maka barang siapa
yang membaca Fatihah sama halnnya dengan membaca Taurot,
Zabur, Injil dan Al Qur''an ".
Jadi maknanya semua kitab-kitab
itu terkumpul didalam surat Al
Fatihah. Surat Al Fatihah diperas
lagi didalam : Jadi 103 kitab itu diperas di Al
Qur'an.
Al Qur'an intinya termuat di
surat Al Fatihah.
Dan surat al Fatihah diperas
lagi, intinya didalam: Bismillahirrohmaanirrohiim
DALAM
BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM
Dasar mengungkap rahasia
Bismillahirrohmaanirrohiim,
Shohabat Abi Dzar Al Ghifari tanya kepada Nabi Muhammad
SAW :
YAA ROSULULLOH, KAM AN-
ZALALLOHU MIN KITAABIN, QOOLA
MI-ATU KITAABIN WA-ARBA'ATU
KUTUBIN. Kitab yang diturunkan dari langit
ada 104 kitab. Kitab-kitab Alloh
104 kitab itu diturunkan kepada:
1. Nabiyulloh Syits AS 50 kitab.
2. Nabiyulloh Idris AS 30 kitab.
3. Nabiyulloh Ibrohim AS 10 kitab. 4. Nabiyulloh Musa AS , sebelum
Taurot 10 kitab.
5. Turun kepada Nabiyulloh Musa
AS satu kitab Taurot.
6. Turun kepada Nabiyulloh
Dawud AS satu kitab Zabur. 7. Turun kepada Nabiyulloh Isa AS
satu kitab Injil.
8. Turun kepada Nabiyulloh
Muhammad SAW satu kitab Al
Qur'an.
Kalau dijumlah 50 + 30 + 10 + 10 + 1 + 1 + 1 + 1 = 104, itu kitab yang
diturunkan dari langit pada para
Nabi-Nabi semuanya. Kitab-kitab
itu semuanya turun didalam bulan
Romadlon, seperti disebutkan
didalam Hadits yang artinya : " Suhuf Ibrohim AS 10 kitab, turun
ditanggal 1 malam Bulan
Romadlon. Kitab Taurot turun
pada Nabi Musa AS di tanggal 6
malam Bulan Romadlon. Kitab
Zabur turun pada Nabi Dawud AS ditangggal 12 malam bulan
Romadlon, Kitab Injil turun pada
Nabi Isa ditanggal 18 malam
bulan Romadlon, Kitab AL Qur'an
turun pada Nabi Muhammad SAW
ditanggal 27 malam bulan Romadlon".
"Jarak turunnya shuhuf Ibrohim
dan kitab Taurot 700 tahun,
Antara kitab Taurot (Musa AS )
dan Zabur ( Dawud AS ) jaraknya
500 tahun. Antara kitab Zabur dan Injil pada Nabi Isa AS jaraknya
1200 tahun, kitab Injil dan Al
Qur'an 620 tahun".
Kitab 104 itu, yang 103 maknanya
diringkas / diperas dikitab Al
Qur'an. ROSUULUM MINALLOOHI YATLUU
SHUHUFAM MUTHOH-HAROH,
FIIHAA KUTUBUNG QOYYI MAH.
Al Qur-an diperas lagi intinya
didalan surat al Fatihah, maka
kemudian Rosululloh dawuh : MAN QORO'A FATIHATUL KITAAB
FAKA-ANNAMAA QORO'AT
TAUROOTA WAL INJIILA WAZ-
ZABUURO WAL QUR-ANA.
Artinya: " Maka barang siapa
yang membaca Fatihah sama halnnya dengan membaca Taurot,
Zabur, Injil dan Al Qur''an ".
Jadi maknanya semua kitab-kitab
itu terkumpul didalam surat Al
Fatihah. Surat Al Fatihah diperas
lagi didalam : Jadi 103 kitab itu diperas di Al
Qur'an.
Al Qur'an intinya termuat di
surat Al Fatihah.
Dan surat al Fatihah diperas
lagi, intinya didalam: Bismillahirrohmaanirrohiim
HAKEKAT SEMBAHYANG
Berdiri menyaksikan diri
sendiri, kita bersaksi dengan
diri kita sendiri, bahwa tiada
yang nyata pada diri kita … hanya diri bathin (Allah) dan diri
zahir kita (Muhammad) adalah
yang membawa dan
menanggung rahasia Allah SWT. Hal ini terkandung dalam surat
Al-Fatehah yaitu : Alhamdu (Alif, Lam, Ha, Mim,
Dal) Kalimat alhamdu ini diterima
ketika rasulullah isra ’ dan mi’ raj dan mengambil pengertian akan hakekat
manusia pertama yang
diciptakan Allah SWT. Yaitu :
Adam AS. Tatkala Roh (diri
bathin) Adam AS. Sampai
ketahap dada, Adam AS pun bersin dan berkata
alhamdulillah artinya : segala
puji bagi Allah Apa yang di puji … . Adalah : zat (Allah) , Sifat (Muhammad),
Asma ’ (Adam) dan Af ’ al (Manusia): Jadi sembahyang itu bukan sekali-kali berarti : Menyembah, tapi suatu istiadat
penyaksian diri sendiri dan
sesungguhnya tiada diri kita itu
adalah diri Allah semata.Kita
menyaksikan bahwa diri kitalah
yang membawa dan menanggung rahasia Allah SWT.
Dan tiada sesuatu pada diri kita
hanya rahasia Allah semata
serta.. tiada sesuatu yang kita
punya : kecuali Hak Allah
semata. Sesuai dengan firman Allah
dalam surat Al-Ahzab 72 Inna
‘ aradnal amanata ‘ alas samawati wal ardi wal jibal. Fa
abaina anyah milnaha
wa ’ asfakna minha wahamalahal insanu. Artinya : “ sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat
kepada langit, bumi dan gunung-
gunung tapi mereka enggan
menerimannya (memikulnya)
karena merasa tidak akan
sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya ” Dan karena firman Allah inilah
kita mengucap : “ Asyahadualla Ilaaha Illallah Wa Asyahadu Anna Muhammadar
Rasulullah” Yang berarti : Kita bersaksi dengan diri kita
sendiri bahwa tiada yang nyata
pada diri kita sendiri hanya
Allah Semata dengan tubuh zahir
kita sebagai tempat
menanggung rahasia Allah dan akan menjaganya sampai
dengan tanggal yang telah
ditentukan. Manusia akan berguna disisi
Allah jika ia dapat menjaga
amanah Rahasia Allah dan
berusaha mengenal dirinya
sendiri. Karena bila manusia dapat
mengenal dirinya, maka dengan
itu pulalah ia dapat mengenal
Allah. Hadits Qudsi… . “ MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU ” Artinya : Barang siapa mengenal
dirinya maka ia akan mengenal
Allah ALIF ITU ARTINYA : NIAT
SEMBAHYANG LAM ITU ARTINYA : BERDIRI HA ITU ARTINYA : RUKU ’ MIM ITU ARTINYA : DUDUK Perkataan pertama dalam
sembahyang itu adalah : Allahu
Akbar (Allah Maha Besar)
Perkata ini diambil dari
peringatan ketika sempurnanya
roh diri Rahasia Allah itu dimasukkan kedalam tubuh
Adam AS. Adam AS. Pun
berusaha berdiri sambil
menyaksikan keindahan
tubuhnya dan berkata : Allahu
Akbar (Allah Maha Besar). Dalam sembahyang harus
memenuhi 3 syarat : 1. Fiqli (perbuatan) 2. Qauli (bacaan) 3. Qalbi (Hati atau roh atau qalbu) Mengapa kita sembahyang
sehari semalam 17 rakaat : Adalah mengambil pengertian
sebagai berikut : Hawa, Adam, Muhammad, Allah
dan Ah 1. Ah Itu Menandakan Sembahyang Subuh
Rakaat Yaitu Zat Dan Sifat 2. Allah Itu Menandakan Sembahyang Zohor
Rakaat Yaitu : Wujud, Alam, Nur Dan Shahadat. 3. Muhammad Itu Menandakan
Sembahyang Asar
Rakaat Yaitu : Tanah, Air, Api, Dan Angin 4. Adam Itu Menandakan Sembahyang Maghrib
Rakaat Yaitu : Ahda, Wahda, Dan Wahdia 5. Hawa Itu Menandakan Sembahyang Isya
Rakaat Yaitu : Mani’ , Manikam, Madi, Dan Di MENGAPA KITA SEMBAHYANG SEHARI SEMALAM 17 RAKAAT : Adalah mengambil pengertian sebagai berikut :
Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah ( )
1. AH ( ) itu menandakan sembahyang
subuh.......” 2” rakaat yaitu … Zat dan Sifat 2. ALLAH itu menandakan
sembahyang Zohor “ 4” rakaat
yaitu :Wujud,Alam,Nur dan Syahadat.
3. MUHAMMAD itu menandakan
sembahyang Asar “ 4” rakaat yaitu : Tanah,Air,Api dan Angin.
4. Adam itu menandakan sembahyang Magrib “ 3” rakaat
yaitu :Ahda,Wahda,dan Wahdia.
5. HAWA itu menandakan sembahyang Isya “ 4” rakaat yaitu : Mani,Manikam,Madi dan DI. MENGAPA KITA MENGUCAP
DUA KALIMAH SYAHADAT 9
KALI DALAM 5 WAKTU
SEMBAHYANG Sebab diri bathin manusia
mempunyai 9 wajah. Dua kalimah syahadat pada : 1. Sembahyang SUBUH 1 kali itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIRUSIR (Rahasia didalam Rahasia) 2. Sembahyang ZOHOR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR dan AHDAH 3. Sembahyang ASAR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat WAHDA dan WAHDIA 4. Sembahyang MAGHRIB 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat AHAD dan MUHAMMAD 5. Sembahyang ISYA 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat MUSTAFA dan MUHAMMAD MENGAPA KITA HARUS
BERNIAT DALAM
SEMBAHYANG Karena : niat itu merupakan
kepala sembahyang. Hakekat niat letaknya pada
martabat alif dan ataupun kalbu
manusia didalam sembahyang
itu kita lapazkan didalam hati : Niat sbb : “ aku hendak sembahyang menyaksikan diriku karena
Allah semata-mata. ” Dalilnya : 1. LA SHALATAN ILLA BI
HUDURIL QALBI
Artinya : Tidak Sah
Shalat Nya Kalau Tidak
Hadir Hatinya (Qalbunya) 2. LAYASUL SHALAT ILLA
BIN MA ’ RIFATULLAH Artinya : Tidak Syah
Sholat Tanpa Mengenal
Allah 3. WAKALBUL MU ’ MININ BAITULLAH
Artinya : Jiwa Orang
Mu’ min Itu Rumahnya Allah 4. WANAHNU AKRABI MIN
HABIL WARIZ
Artinya : Aku (Allah)
Lebih Dekat Dari Urat
Nadi Lehermu 5. IN NAMAS SHALATU
TAMAS KUNU TAWADU ’ U Artinya : Hubungan
Antara Manusia Dengan
Tuhannya Adalah Cinta.
Cintailah Allah Yang
Karena Allah Engkau
Hidup Dan Kepada Allah Engkau Kembali. (H.R.
Tarmizi ) 6. AKI MIS SHALATA LI ZIKRI
Artinya : Dirikan Shalat
Untuk Mengingat Allah
(QS. Taha : 145) Sedangkan : 1. Al-Fatehah ialah merupakan tubuh sembahyang 2. Tahayat ialah merupakan hati sembahyang 3. Salam ialah merupakan kaki tangan sembahyan HAKEKAT AL-FATEHA DALAM SHALAT 1. Membersihkan hati dari syirik kepada Allah SWT 2. Mengingat kita bahwa tubuh manusia itu mempunyai 7 lapis susunan jasad yaitu : 1. Bulu 2. Kulit 3. Daging 4. Darah 5. Tulang 6. Lemak 7. Lendir 3. 7 ayat dalam Al-Fatehah merupakan tawaf 7 kali keliling ka ’ bah. HAKEKAT ALLAHU AKBAR DALAM SHALAT IALAH : “ Mengambil magna ucapan Nabi Adam AS. Ketika berdiri
menyaksikan dirinya sendiri
dan Nabi Adam AS. Mengucap
kalimah Allahu Akbar. Peristiwa ini merupakan tajali
(perpindahan) diri rahasia Allah
sehingga dapat di tanggung oleh
manusia dengan 4 perkara
yaitu : 1. Wujud 2. Ilmu 3. Nur 4.
Syahadat Perkataan Allah pada Allahu
Akbar mengandung magna atau
martabat zat sedangkan
perkataan “ Akbar ” pada Allahu Akbar mengandung magna atau
martabat : sifat. Jadi zat dan sifat itu tidak boleh
berpisah, zat dan sifat sama-
sama saling puji memuji DALAM SHALAT ITU JUGA MENGANDUNG HAKEKAT ZAKAT. Hakekat zakat dalam shalat
ialah : Mengandung makna “ Pembersih hati “ dari pada syirik kepada Allah SWT. “ Iiya Kanak Budu Wa Iiya Kanasta ’ in” Hanya kepada Allah lah aku
menyembah dan hanya kepada
Allah lah aku mohon
pertolongan HAKEKAT PUASA DALAM SHALAT : 1. Tidak Boleh Makan Dan Minum 2. Mata Berpuasa 3. Telinga Berpuasa 4. Kulit Berpuasa 5. Hati Berpuasa
sendiri, kita bersaksi dengan
diri kita sendiri, bahwa tiada
yang nyata pada diri kita … hanya diri bathin (Allah) dan diri
zahir kita (Muhammad) adalah
yang membawa dan
menanggung rahasia Allah SWT. Hal ini terkandung dalam surat
Al-Fatehah yaitu : Alhamdu (Alif, Lam, Ha, Mim,
Dal) Kalimat alhamdu ini diterima
ketika rasulullah isra ’ dan mi’ raj dan mengambil pengertian akan hakekat
manusia pertama yang
diciptakan Allah SWT. Yaitu :
Adam AS. Tatkala Roh (diri
bathin) Adam AS. Sampai
ketahap dada, Adam AS pun bersin dan berkata
alhamdulillah artinya : segala
puji bagi Allah Apa yang di puji … . Adalah : zat (Allah) , Sifat (Muhammad),
Asma ’ (Adam) dan Af ’ al (Manusia): Jadi sembahyang itu bukan sekali-kali berarti : Menyembah, tapi suatu istiadat
penyaksian diri sendiri dan
sesungguhnya tiada diri kita itu
adalah diri Allah semata.Kita
menyaksikan bahwa diri kitalah
yang membawa dan menanggung rahasia Allah SWT.
Dan tiada sesuatu pada diri kita
hanya rahasia Allah semata
serta.. tiada sesuatu yang kita
punya : kecuali Hak Allah
semata. Sesuai dengan firman Allah
dalam surat Al-Ahzab 72 Inna
‘ aradnal amanata ‘ alas samawati wal ardi wal jibal. Fa
abaina anyah milnaha
wa ’ asfakna minha wahamalahal insanu. Artinya : “ sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat
kepada langit, bumi dan gunung-
gunung tapi mereka enggan
menerimannya (memikulnya)
karena merasa tidak akan
sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya ” Dan karena firman Allah inilah
kita mengucap : “ Asyahadualla Ilaaha Illallah Wa Asyahadu Anna Muhammadar
Rasulullah” Yang berarti : Kita bersaksi dengan diri kita
sendiri bahwa tiada yang nyata
pada diri kita sendiri hanya
Allah Semata dengan tubuh zahir
kita sebagai tempat
menanggung rahasia Allah dan akan menjaganya sampai
dengan tanggal yang telah
ditentukan. Manusia akan berguna disisi
Allah jika ia dapat menjaga
amanah Rahasia Allah dan
berusaha mengenal dirinya
sendiri. Karena bila manusia dapat
mengenal dirinya, maka dengan
itu pulalah ia dapat mengenal
Allah. Hadits Qudsi… . “ MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU ” Artinya : Barang siapa mengenal
dirinya maka ia akan mengenal
Allah ALIF ITU ARTINYA : NIAT
SEMBAHYANG LAM ITU ARTINYA : BERDIRI HA ITU ARTINYA : RUKU ’ MIM ITU ARTINYA : DUDUK Perkataan pertama dalam
sembahyang itu adalah : Allahu
Akbar (Allah Maha Besar)
Perkata ini diambil dari
peringatan ketika sempurnanya
roh diri Rahasia Allah itu dimasukkan kedalam tubuh
Adam AS. Adam AS. Pun
berusaha berdiri sambil
menyaksikan keindahan
tubuhnya dan berkata : Allahu
Akbar (Allah Maha Besar). Dalam sembahyang harus
memenuhi 3 syarat : 1. Fiqli (perbuatan) 2. Qauli (bacaan) 3. Qalbi (Hati atau roh atau qalbu) Mengapa kita sembahyang
sehari semalam 17 rakaat : Adalah mengambil pengertian
sebagai berikut : Hawa, Adam, Muhammad, Allah
dan Ah 1. Ah Itu Menandakan Sembahyang Subuh
Rakaat Yaitu Zat Dan Sifat 2. Allah Itu Menandakan Sembahyang Zohor
Rakaat Yaitu : Wujud, Alam, Nur Dan Shahadat. 3. Muhammad Itu Menandakan
Sembahyang Asar
Rakaat Yaitu : Tanah, Air, Api, Dan Angin 4. Adam Itu Menandakan Sembahyang Maghrib
Rakaat Yaitu : Ahda, Wahda, Dan Wahdia 5. Hawa Itu Menandakan Sembahyang Isya
Rakaat Yaitu : Mani’ , Manikam, Madi, Dan Di MENGAPA KITA SEMBAHYANG SEHARI SEMALAM 17 RAKAAT : Adalah mengambil pengertian sebagai berikut :
Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah ( )
1. AH ( ) itu menandakan sembahyang
subuh.......” 2” rakaat yaitu … Zat dan Sifat 2. ALLAH itu menandakan
sembahyang Zohor “ 4” rakaat
yaitu :Wujud,Alam,Nur dan Syahadat.
3. MUHAMMAD itu menandakan
sembahyang Asar “ 4” rakaat yaitu : Tanah,Air,Api dan Angin.
4. Adam itu menandakan sembahyang Magrib “ 3” rakaat
yaitu :Ahda,Wahda,dan Wahdia.
5. HAWA itu menandakan sembahyang Isya “ 4” rakaat yaitu : Mani,Manikam,Madi dan DI. MENGAPA KITA MENGUCAP
DUA KALIMAH SYAHADAT 9
KALI DALAM 5 WAKTU
SEMBAHYANG Sebab diri bathin manusia
mempunyai 9 wajah. Dua kalimah syahadat pada : 1. Sembahyang SUBUH 1 kali itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIRUSIR (Rahasia didalam Rahasia) 2. Sembahyang ZOHOR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR dan AHDAH 3. Sembahyang ASAR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat WAHDA dan WAHDIA 4. Sembahyang MAGHRIB 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat AHAD dan MUHAMMAD 5. Sembahyang ISYA 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat MUSTAFA dan MUHAMMAD MENGAPA KITA HARUS
BERNIAT DALAM
SEMBAHYANG Karena : niat itu merupakan
kepala sembahyang. Hakekat niat letaknya pada
martabat alif dan ataupun kalbu
manusia didalam sembahyang
itu kita lapazkan didalam hati : Niat sbb : “ aku hendak sembahyang menyaksikan diriku karena
Allah semata-mata. ” Dalilnya : 1. LA SHALATAN ILLA BI
HUDURIL QALBI
Artinya : Tidak Sah
Shalat Nya Kalau Tidak
Hadir Hatinya (Qalbunya) 2. LAYASUL SHALAT ILLA
BIN MA ’ RIFATULLAH Artinya : Tidak Syah
Sholat Tanpa Mengenal
Allah 3. WAKALBUL MU ’ MININ BAITULLAH
Artinya : Jiwa Orang
Mu’ min Itu Rumahnya Allah 4. WANAHNU AKRABI MIN
HABIL WARIZ
Artinya : Aku (Allah)
Lebih Dekat Dari Urat
Nadi Lehermu 5. IN NAMAS SHALATU
TAMAS KUNU TAWADU ’ U Artinya : Hubungan
Antara Manusia Dengan
Tuhannya Adalah Cinta.
Cintailah Allah Yang
Karena Allah Engkau
Hidup Dan Kepada Allah Engkau Kembali. (H.R.
Tarmizi ) 6. AKI MIS SHALATA LI ZIKRI
Artinya : Dirikan Shalat
Untuk Mengingat Allah
(QS. Taha : 145) Sedangkan : 1. Al-Fatehah ialah merupakan tubuh sembahyang 2. Tahayat ialah merupakan hati sembahyang 3. Salam ialah merupakan kaki tangan sembahyan HAKEKAT AL-FATEHA DALAM SHALAT 1. Membersihkan hati dari syirik kepada Allah SWT 2. Mengingat kita bahwa tubuh manusia itu mempunyai 7 lapis susunan jasad yaitu : 1. Bulu 2. Kulit 3. Daging 4. Darah 5. Tulang 6. Lemak 7. Lendir 3. 7 ayat dalam Al-Fatehah merupakan tawaf 7 kali keliling ka ’ bah. HAKEKAT ALLAHU AKBAR DALAM SHALAT IALAH : “ Mengambil magna ucapan Nabi Adam AS. Ketika berdiri
menyaksikan dirinya sendiri
dan Nabi Adam AS. Mengucap
kalimah Allahu Akbar. Peristiwa ini merupakan tajali
(perpindahan) diri rahasia Allah
sehingga dapat di tanggung oleh
manusia dengan 4 perkara
yaitu : 1. Wujud 2. Ilmu 3. Nur 4.
Syahadat Perkataan Allah pada Allahu
Akbar mengandung magna atau
martabat zat sedangkan
perkataan “ Akbar ” pada Allahu Akbar mengandung magna atau
martabat : sifat. Jadi zat dan sifat itu tidak boleh
berpisah, zat dan sifat sama-
sama saling puji memuji DALAM SHALAT ITU JUGA MENGANDUNG HAKEKAT ZAKAT. Hakekat zakat dalam shalat
ialah : Mengandung makna “ Pembersih hati “ dari pada syirik kepada Allah SWT. “ Iiya Kanak Budu Wa Iiya Kanasta ’ in” Hanya kepada Allah lah aku
menyembah dan hanya kepada
Allah lah aku mohon
pertolongan HAKEKAT PUASA DALAM SHALAT : 1. Tidak Boleh Makan Dan Minum 2. Mata Berpuasa 3. Telinga Berpuasa 4. Kulit Berpuasa 5. Hati Berpuasa
SIFAT 20 BERSAMBUNG
sifat 20 pada marifat
Bahwasanya keyakinan kita kepada Tuhan, sejauh mana pengenalan kita akan sifat sifat Tuhan, sehingga kecenderungan hati itulah yang akan menjadikan sangka kita kepada segala sesuatu nya. Pertama orang yang mempunyai kecenderungan hati sedemikian rupa hingga mencapai ketulusan, dimana tak ada lagi sesuatu yang ghaib bagi nya sehingga benar benar dapat menjadi hadir dengan jelas di depan penglihatan mereka karena keada’an telah tersingkapnya tabir sehingga mampu mencapai pandangan langsung ( Al Kasyf wal ‘Iyaan ) yang mana pada tahap ini telah di masuki oleh para nabi dan pewaris mereka yang sempurna ( Ash Shiddiqun ). Seperti dalam isyarat firman Tuhan yang berbunyi : ” Ketahuilah sesungguhnya wali wali Allah itu tidak merasa takut dan tidak merasa duka cita. Yaitu mereka beriman dan taqwa kepada Allah. Untuk mereka ada khabar gembira untuk hidup di dunia dan di akhirat. Tiada lah pernah bertukar kalimah kalimah Allah. Itulah dia kemenangan yang besar ” ( Q. S. 10 Yunus 62 – 64 ).
Sesungguh nya pada tahap ini telah mereka capai dengan bimbingan rahasia illahi karena adanya gerak ikhtiar dan tarikan Robbani, seperti firman Tuhan
” Barangsiapa yang memusuhi kekasih Ku, Aku telah mengumumkan perang padanya. Tidak ada cara ber taqarrub seorang hamba kepada Ku yang lebih kusukai melainkan melaksanakan kewajiban kewajiban yang telah Ku fardhukan kepadanya. Namun senantiasa hamba Ku itu berusaha mendekatkan diri kepada Ku dengan melakukan hal hal yang sunnah, sehingga Aku pun mencintai. Apabila ia telah Ku cintai, Aku menjadi alat pendengarnya yang dengannya ia mendengar, alat penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memukul keras dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada Ku sungguh akan Ku kurniai dirinya dan jika ia memohon perlindungan Ku, Aku akan melindunginya. Dan tak penah Aku ragu ragu pada sesuatu di sa’at Aku akan melakukannya seperti ragu Ku untuk mengambil jiwa Orang Mu’min yang enggan mati sedang Aku tidak suka mengganggunya “dan juga dalam Q. S 2 Al Baqarah 25″ Sampaikanlah khabar gembira kepada orang orang yang beriman dan beramal shalÃh ( yang telah mengerjakan perbuatan yang baik ) sesungguhnya untuk mereka ada taman ( surga ) yang mengalir sungai sungai di dalamnya. Setiap mereka beroleh pemberian di dalam surga dari semacam buah buahan, mereka mengatakan ” inilah pemberian yang telah kita terka dahulu ” (bahwa pemberian itu sesuai dengan apa yang telah dijanjikan dahulu lepada mereka di dunia ) dan kepada mereka diberikan pemberian yang serupa. Dan untuk mereka di dalam surga ada jodoh yang bersih suci dan mereka hidup kekal didalamnya
Kemudian yang ke dua ada pula orang yang mempunyai kecenderungan hati yang mana sesuatu yang ghaib menjadi seakan akan dengan jelasnya di hadapan penglihatan sehingga tumbuh lah keyakinan yang sedemikian rupa sehingga mampu menguasai hati secara penuh sehingga tidak mungkin terjadi yang berlawanan dengannya, walaupun bahkan tidak dapat dibayangkan wujudnya apalagi kemungkinan terjadinya. Inilah golongan orang yang di dekatkan ( Muqarrobin ) Firman Allah ( Q. S. At Taghabun : 11 ) ” Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan menunjuki hatinya ‘ Dan yang terakhir ádalah orang yang mempunyai kecenderungan hati dengan kepercaya’an yang pasti dan kuat namun masih bisa disertai kemungkinan timbulnya keraguan dan guncangan apabila datang hal yang dapat mempengaruhinya. Keada’an seperti ini biasa disebut ke Imanan. Inilah golongan orang Abrar.Seperti yang telah di isyarat kan Allah dalam firman Nya ” Dan di antara manusia ada yang berkata ” kami beriman kepada Allah “. Tatapi apabila mendapat gangguan dan rintangan dalam melaksanakan perintah Allah, dia menganggap gangguan ( fitnah ) itu seakan akan siksa’an dari Allah dan jika datang pertolongan dari Allah, mereka pasti berkata ” Susungguhnya kami beserta kalian ( kaum mukmin )”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia ? dan sesungguhnya Allah mengetahui orang orang yang beriman dan benar benar mengetahui orang orang yang munafiq ” ( Q. S. 29 Al Ankabut : 10 – 11 )Ketahui lah bahwa sesungguh nya Maha Suci Allah dari segala bentuk dan sifat karena Dzat Nya yang Laisa Kamislihi, maka tak pantas Tuhan yang Maha, memiliki kesama’an dengan Makhluk yang baharu dan binasa. Tetapi karena akal kita menuntut menyembah Tuhan yang di atas, maka menjadikan kita mengharus kan Tuhan memiliki sifat sifat yang berlawanan dengan kita dengan cara memandang ke dhaif an setiap makhluk. Dan karena Kasih Allah Ta’ala tadi lah yang memberikan ilmu rahasia kepada para nabi dan pewaris mereka yang sempurna untuk mengenal kan rahasia illahiah untuk menambahkan keyakinan dan ke imanan kepada setiap hamba. Maka oleh kita menjadikan Tuhan itu yang wajib adanya yang mula mula ialah yaituYaitu keadaan Allah yang berkehendak mustahil keadaan Nya yang dipaksa, yaitu melazimkan Iradat artinya tidak dikatakan Kaunuhu Muridan melainkan kemudian mendirikan Iradat itu pada Dzat
KAUNUHU SAMII’AN
Yaitu keadaan yang mendengar mustahil keadaan Nya yang tuli, artinya Kaunuhu Samii’an melazimkan Sama karena tidak dikatakan Kaunuhu Samii’an melainkan kemudian mendirikan Sama itu pada Dzat
KAUNUHU BASHIRAN
Yaitu keadaan yang melihat mustahil keadaan Nya yang buta, yaitu melazimkan Bashar, artinya tidak dikatakan Kaunuhu Bashiiran melainkan kemudian mendirikan Bashar itu pada Dzat
KAUNUHU MUTAKALLIMAN
Yaitu keadaan Allah yang berkata kata mustahil keadaan Nya yang bisu, yaitu melazimkan Kalam artinya tidak dikatakan Kaunuhu Mutakalliman melainkan kemudian mendirikan Kalam itu pada Dzat
Dan dalil bagi ke tujuh kaunuhu itu adalah sekalian makhluk ini
Kaunuhu adalah untuk menjelaskan sifat yang tujuh dan inilah yang dinamakan hal sifat Maanawiah
Oleh karena itu didalam sifat Maanawiah itu terdapat Hal Kekayaan, Hal Kebesaran, Hal Ketinggian dan juga Hal Keelokan yang semuanya keluar daripada sifat Maanawiah
Dan juga menghadap wajah Allah itu dengan martabat Afaal, Asma, Sifat dan Dzat, karena martabat Allah itu juga empat yaitu Afal dimana pada pihak perbuatan Nya, Asma dimana pada pihak Nama Nya, Sifat dimana pada pihak Sifat Nya dan Dzat dimana pada pihak Dzat Nya. Inilah yang dikatakan liput atau Se Dzat, Se Sifat, Se Asma dan Se Afal, maka nyatalah kata LAA itu pada Dzat, kata ILAAHA itu pada Sifat, kata ILLAA itu pada Asma dan ALLAH itu pada Afaal
Dan bila keluar empat itu, itulah yang dikatakan dengan Syariat yaitu Iman, Tarekat yaitu Islam, Hakikat yaitu Tauhid dan Marifat yaitu Marifat yang mana kesemuanya itu terbit di ISLAM. Pada huruf Alif itu Iman, pada huruf Sin itu Islam, pada huruf Lam itu Tauhid dan pada huruf Mim itu Marifat.
Sifat Dua Puluh ini terbagi menjadi empat bahagian yang tujuannya adalah untuk memasukan ke dalam kalimah Laa Ilaha Illaa Allah
WUJUD 1 SIFAT NAFSI
Nafsi atau nama bagi Dzat maka maujud pada Zihin dalam i’tikad, yaitu majud pada Dzat yang tak nyata pada alam, karena Dzat dan Sifat tak berpisah. Maka Wujud itu terbagi kepada 3 Adam yakni Adam Thabit yaitu Tidak ada permula’an, Adam Lahit yaitu tidak akan binasa dan Adam Mumasalah yaitu tidak ada bandingan selama lamanya.
QIDAM 5 SIFAT SALBIAH
Maka maujud pada khabar, yaitu berkhabar barang yang tidak patut atau layak bagi Dzat yaitu Dzat yang bersifat Qidam menolak pemula’an, Dzat yang bersifat Baqa menolak kesudahan, Dzat yang bersifat Mukhalafatuhu lil Hawadith menolak menyamai segala sesuatu dan Dzat yang bersifat Qiamuhu binafsih menolak berhajat pada Dzat, Sifat, Asma dan Af’al orang lain dan Dzat yang bersifat Wahdaniat menolak berdua, bertiga atau ada yang lain
Dan Qidam 5 ini adalah Sifat Jalalullah.
Sifat martabat Dzat yakni Wujud 1 dan Qidam 5
Sifat martabat Sifat yakni Hayat 7
Sifat martabat Asma yakni Hayyun 7
HAYAT 7 SIFAT MA’ANI
Maujud pada zihin yaitu maujud pada Dzat yakni tak nyata pada alam dan maujud pada kharij yaitu memberi bekas pada sekalian alam yakni nyata pada alam karena sifat yang berdiri pada Dzat lah yang menjadikan alam ini.
Dalam sifat Maani ini takluk 6 sifat saja tanpa sifat Hayat yakni pertama Qudrat dan Iradat yaitu takluk pada sekalian mumkin, dan mumkin ini terbagi menjadi 4 bagian yang mana termasuk di dalam kalimah Laa yaitu Mumkin Maujud dikatakan Takluk Ma’yah yakni menyertai, dalam kalimah Ilaaha yaitu Mumkin Adam Ba’dal Maujud dikatakan Takluk Taksir yakni hari yang akan telah lalu, dalam kalimah Illaa yaitu Mumkin Sayyujad dikatakan Takluk Bil Quah yakni hari yang akan datang hingga Qiamat dan dalam kalimah Allah yaitu Ilmullah innahu lam yujat dikatakan Takluk Hikmiah yakni akan datang masuk syurga dan neraka. Kedua Sama dan Basar yaitu takluk sekalian maujudat dan yang ketiga Ilmu dan Kalam yaitu takluk pada hukum aqal yang 3.
Oleh karena itu Allah menjadikan makhluk ini dengan 4 sifat Nya yaitu Hayat, Ilmu, Qudrat dan Iradat dan menerima sekalian kejadian ini dengan Sama, Basar dan Kalam.
Yang perlu di ingat bahwa sifat Nafsi maujud pada zihin dan sifat Maanawiah maujud pada zihin juga tetapi keduanya tetap berbeda karena sifat Nafsi halnya tidak ada karena dengan suatu karena sementara sifat Ma’anawiah halnya ada karena dengan suatu karena, sebab kenyataan bagi sifat Ma’anawiah tak ada.
WUJUD
Yaitu wajib ada mustahil tiada nyatanya dengan memandang makhluk. Wujud Dzat Allah yaitu tanpa di karena kan dengan suatu karena dan tiada serupa dengan segala sesuatu rupa dan tiada bagai dengan suatu bagai juga, tiada banding dengan suatu banding, tiada bermasa dan bertempat, didalam maupun di luar karena segala sesuatu haqiqat nya di liputi oleh Nya.
Oleh karena itu lah sebenar benarnya Wujud Dzat Allah itu bendahara dari segala sesuatu nya. Dan Ada nya Alam dengan adanya Allah karena Allah tetap lah Wujud meskipun tiada alam ini, sehingga mustahil Allah memerlukan dalil akan keberada’an Nya dengan mengharuskan pandangan adanya alam. Maha Suci Allah dari segala dalil
QIDAM
Yaitu sedia mustahil baharu nyata juga dengan memandang makhluk. Sedia nya Dzat Allah dengan tiada ber awal maupun dengan tiada kesudahan walaupun dengan bermula adanya makhluk, maka wajib lah Allah karena Wujud harus bersifat Qidam
BAQA
Yaitu kekal mustahil berkesudahan atau binasa seperti makhluk. Adapun makna kekal yaitu tidak mendahului makhluk yang dahulu maupun tidak berakhir dengan makhluk yang akan kemudian. Dan sifat Baqa ini menunjukan daripada keharusan sifat Qidam
MUKHALLAFATUHU LIL HAWADITH
Yaitu berbeda mustahil serupa dengan segala makhluk, baik pada Dzat, Sifat maupun Af’al.
Berbeda Dzat yaitu karena perbendahara’an Allah segala sesuatu yang lain, Dan tak ada satupun makhluk yang bukan dari perbendahara’an Nya.
begitupun berbeda Sifat karena bergantung segala sesuatu nya kepada Nya juga berbeda Af’al karena maha suci Dia dari memerlukan sesuatu alat dalam perbuatan Nya.
Pandang pada Dzat Allah bukan kah kita dibawah perintah, pandang pada Sifat Allah ternyata kita di dalam milik, pandang Asma Allah bukan kah kita hamba
dan juga pandang pada Af’al Allah kita adalah terjadi. Oleh karena itu kita tidak mempunyai apa apa melainkan hak Allah SWT semata mata.
QIAMUHU BINAFSIH
Yaitu berdiri sendiri mustahil berhajat pada yang lain, baik pada Dzat, Sifat maupun Af’al.
Berdiri Dzat dengan sendiri karena tiada berkehendak pada mengadakan Nya, berdiri Sifat dengan sendiri juga karena tiada berkehendak pada menjadikan Nya dan bediri Af’al dengan sendiri karena tiada berhajat pada menolong kan Nya. Maka kita pandang pada Wujud yaitu makna Adanya Allah itu tidak ada suatu sebab oleh karena suatu sebab, disinilah dalil yang membuktikan adanya Dia Qiamuhu Binafsih.
Allah ada sendiri karena diri Dzat itu Qadim lagi azali maka hak Qadim lah Baqa, dan Allah tidak mengadakan diri sendiri karena apabila Ia mengadakan diri sendiri maka Ia berhajat pada sesuatu untuk mengadakan Nya dan Dia karena ada sesuatu yang dahulu maka baru membuat dan itu mustahil karena kalau ada permulaan maka batal lah Qidam dan kalau berhajat sesuatu mengadakan Nya maka batallah Mukhlafah dan bila gugur Qiyamuhu maka gugurlah 4 ( empat ) yang diatas.
WAHDNIAT
Yaitu esa mustahil berbilang bilang baik esa pada Dzat, esa pada Sifat maupun esa pada Af’al karena sesungguh nya esa Se Dzat atau ketunggalan Dzat itu tidak bersusun susun, bersuku suku ataupun terbagi bagi karena maha suci Dzat Allah itu tidak lah berbenda atau berbentuk. Sedangkan esa se Sifat yaitu se Qudrat, se Iradat dan se Ilmu dan yang berbilang bilang itu liput daripada Allah dan takluk Nya daripada Nya. Dan esa se Af’al ialah tidak ada sekutu dalam perbuatan Allah selama lamanya karena segala sesuatu tak akan memberi bekas
HAYAT
Yaitu hidup selama lama nya mustahil mati, dan hidup nya Allah tidak dengan roh dan jasad maupun tidak dengan nyawa dan nafas terlebih tidak karena unsur yang empat seperti Api, Angin, Air dan Tanah karena hidup Allah SWT Qadim lagi Azali.
Dan Hayat Allah pasti tak pernah lalai dan ingat karena sesuatu pun, maka wajib lah Ia Hidup karena mustahil dengan Wujud Nya itu yang Baqa ia bisa Binasa
ILMU
Yaitu mengetahui mustahil jahil, yaitu Ilmu Allah tidak dengan karena suatu perantara dan hajat sehingga pasti Ia mengetahui tidak dengan belajar dan di ajar baik dengan mudah maupun susah, karena Tahu Allah itu terbuka dan nyata yang tiada oleh karena mudah dan susah nya sesuatu maka dia Tahu.
QUDRAT
Yaitu berkuasa mustahil lemah, yaitu kuasa Allah mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan menjadikan yang ada agar tiada tanpa ada sesuatupun yang dapat mencegah, membatal kan atau melemahkan kuasa Allah. Karena kuasa Allah adalah kuasa yang berdiri bagi Dzat seperti dalam Innallaah ha ghaniyyu ‘alal ‘aalamiin
IRADAT
Yaitu berkehendak mustahil dipaksa, dan kehendak Nya ialah menjadikan segala sesuatu dengan kehendak tidak dengan lalai, lupa, tabiat ataupun untuk mengambil faedah. Karena Allah lah yang menentukan segala sesuatu
SAMA
Yaitu mendengar mustahil tuli, yaitu tidak dengan telinga ataupun tujuh anggota tubuh, tidak dengan sebab jauh dekat, dilindung atau didinding, karena Allah mendengar Dzat, Sifat, Asma dan Af’al Nya
BASAR
Yaitu melihat mustahil buta, karena melihat Allah tidak dengan melihat biji mata, maka melihat Allah tidak dengan didindingi oleh kantuk, oleh puas dan bosan, benci dan kasih, tidak dengan sebab buruk dan baik, tidak dengan sebab kebajikan dan kejahatan.
KALAM
Yaitu berkata kata mustahil bisu, yaitu berkata kata tidak dengan lidah di mulut, tidak ada huruf dan suara, tidak di dahului dan tidak kemudian tiada tersalah atau terlancar, oleh karena berkata kata Allah itu takluk pada tiga hukum aqal yaitu wajib yaitu tidak ada Tuhan melainkan Dia, mustahil yailtu mustahil Tuhan salah satu daripada tiga dan harus yaitu Allah yang menjadikan kamu dan segala yang kamu perbuat.
KAUNUHU HAYYUN
Yaitu keadaan Allah yang hidup mustahil berkeadaan mati, yaitu melazimkan Hayat. Artinya tidak dikatakan Kaunuhu Hayyun melainkan kemudian mendirikan Hayat itu pada Zat. Hayyun menerangkan atau menjelaskan bahwa Hayat itu sebenarnya ada dan Hayyun adalah saksi adanya Hayat pada Dzat
KAUNUHU ‘AALIMAN
Yaitu keadaan Allah yang mengetahui mustahil keadaan Nya yang jahil, yaitu melazimkan Ilmu artinya tidak dikatakan kaunuhu ‘Aaliman melainkan kemudian mendirikan Ilmu itu pada Dzat
KAUNUHU QAADIRAN
Yaitu keadaan Allah yang berkuasa mustahil keadaan Nya yang lemah, artinya Kaunuhu Qaadiran melazimkan Qudrat karena tidak dikatakan Kaunuhu Qaadiran melainkan kemudian mendirikan Qudrat itu pada Dzat
Bahwasanya keyakinan kita kepada Tuhan, sejauh mana pengenalan kita akan sifat sifat Tuhan, sehingga kecenderungan hati itulah yang akan menjadikan sangka kita kepada segala sesuatu nya. Pertama orang yang mempunyai kecenderungan hati sedemikian rupa hingga mencapai ketulusan, dimana tak ada lagi sesuatu yang ghaib bagi nya sehingga benar benar dapat menjadi hadir dengan jelas di depan penglihatan mereka karena keada’an telah tersingkapnya tabir sehingga mampu mencapai pandangan langsung ( Al Kasyf wal ‘Iyaan ) yang mana pada tahap ini telah di masuki oleh para nabi dan pewaris mereka yang sempurna ( Ash Shiddiqun ). Seperti dalam isyarat firman Tuhan yang berbunyi : ” Ketahuilah sesungguhnya wali wali Allah itu tidak merasa takut dan tidak merasa duka cita. Yaitu mereka beriman dan taqwa kepada Allah. Untuk mereka ada khabar gembira untuk hidup di dunia dan di akhirat. Tiada lah pernah bertukar kalimah kalimah Allah. Itulah dia kemenangan yang besar ” ( Q. S. 10 Yunus 62 – 64 ).
Sesungguh nya pada tahap ini telah mereka capai dengan bimbingan rahasia illahi karena adanya gerak ikhtiar dan tarikan Robbani, seperti firman Tuhan
” Barangsiapa yang memusuhi kekasih Ku, Aku telah mengumumkan perang padanya. Tidak ada cara ber taqarrub seorang hamba kepada Ku yang lebih kusukai melainkan melaksanakan kewajiban kewajiban yang telah Ku fardhukan kepadanya. Namun senantiasa hamba Ku itu berusaha mendekatkan diri kepada Ku dengan melakukan hal hal yang sunnah, sehingga Aku pun mencintai. Apabila ia telah Ku cintai, Aku menjadi alat pendengarnya yang dengannya ia mendengar, alat penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memukul keras dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada Ku sungguh akan Ku kurniai dirinya dan jika ia memohon perlindungan Ku, Aku akan melindunginya. Dan tak penah Aku ragu ragu pada sesuatu di sa’at Aku akan melakukannya seperti ragu Ku untuk mengambil jiwa Orang Mu’min yang enggan mati sedang Aku tidak suka mengganggunya “dan juga dalam Q. S 2 Al Baqarah 25″ Sampaikanlah khabar gembira kepada orang orang yang beriman dan beramal shalÃh ( yang telah mengerjakan perbuatan yang baik ) sesungguhnya untuk mereka ada taman ( surga ) yang mengalir sungai sungai di dalamnya. Setiap mereka beroleh pemberian di dalam surga dari semacam buah buahan, mereka mengatakan ” inilah pemberian yang telah kita terka dahulu ” (bahwa pemberian itu sesuai dengan apa yang telah dijanjikan dahulu lepada mereka di dunia ) dan kepada mereka diberikan pemberian yang serupa. Dan untuk mereka di dalam surga ada jodoh yang bersih suci dan mereka hidup kekal didalamnya
Kemudian yang ke dua ada pula orang yang mempunyai kecenderungan hati yang mana sesuatu yang ghaib menjadi seakan akan dengan jelasnya di hadapan penglihatan sehingga tumbuh lah keyakinan yang sedemikian rupa sehingga mampu menguasai hati secara penuh sehingga tidak mungkin terjadi yang berlawanan dengannya, walaupun bahkan tidak dapat dibayangkan wujudnya apalagi kemungkinan terjadinya. Inilah golongan orang yang di dekatkan ( Muqarrobin ) Firman Allah ( Q. S. At Taghabun : 11 ) ” Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan menunjuki hatinya ‘ Dan yang terakhir ádalah orang yang mempunyai kecenderungan hati dengan kepercaya’an yang pasti dan kuat namun masih bisa disertai kemungkinan timbulnya keraguan dan guncangan apabila datang hal yang dapat mempengaruhinya. Keada’an seperti ini biasa disebut ke Imanan. Inilah golongan orang Abrar.Seperti yang telah di isyarat kan Allah dalam firman Nya ” Dan di antara manusia ada yang berkata ” kami beriman kepada Allah “. Tatapi apabila mendapat gangguan dan rintangan dalam melaksanakan perintah Allah, dia menganggap gangguan ( fitnah ) itu seakan akan siksa’an dari Allah dan jika datang pertolongan dari Allah, mereka pasti berkata ” Susungguhnya kami beserta kalian ( kaum mukmin )”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia ? dan sesungguhnya Allah mengetahui orang orang yang beriman dan benar benar mengetahui orang orang yang munafiq ” ( Q. S. 29 Al Ankabut : 10 – 11 )Ketahui lah bahwa sesungguh nya Maha Suci Allah dari segala bentuk dan sifat karena Dzat Nya yang Laisa Kamislihi, maka tak pantas Tuhan yang Maha, memiliki kesama’an dengan Makhluk yang baharu dan binasa. Tetapi karena akal kita menuntut menyembah Tuhan yang di atas, maka menjadikan kita mengharus kan Tuhan memiliki sifat sifat yang berlawanan dengan kita dengan cara memandang ke dhaif an setiap makhluk. Dan karena Kasih Allah Ta’ala tadi lah yang memberikan ilmu rahasia kepada para nabi dan pewaris mereka yang sempurna untuk mengenal kan rahasia illahiah untuk menambahkan keyakinan dan ke imanan kepada setiap hamba. Maka oleh kita menjadikan Tuhan itu yang wajib adanya yang mula mula ialah yaituYaitu keadaan Allah yang berkehendak mustahil keadaan Nya yang dipaksa, yaitu melazimkan Iradat artinya tidak dikatakan Kaunuhu Muridan melainkan kemudian mendirikan Iradat itu pada Dzat
KAUNUHU SAMII’AN
Yaitu keadaan yang mendengar mustahil keadaan Nya yang tuli, artinya Kaunuhu Samii’an melazimkan Sama karena tidak dikatakan Kaunuhu Samii’an melainkan kemudian mendirikan Sama itu pada Dzat
KAUNUHU BASHIRAN
Yaitu keadaan yang melihat mustahil keadaan Nya yang buta, yaitu melazimkan Bashar, artinya tidak dikatakan Kaunuhu Bashiiran melainkan kemudian mendirikan Bashar itu pada Dzat
KAUNUHU MUTAKALLIMAN
Yaitu keadaan Allah yang berkata kata mustahil keadaan Nya yang bisu, yaitu melazimkan Kalam artinya tidak dikatakan Kaunuhu Mutakalliman melainkan kemudian mendirikan Kalam itu pada Dzat
Dan dalil bagi ke tujuh kaunuhu itu adalah sekalian makhluk ini
Kaunuhu adalah untuk menjelaskan sifat yang tujuh dan inilah yang dinamakan hal sifat Maanawiah
Oleh karena itu didalam sifat Maanawiah itu terdapat Hal Kekayaan, Hal Kebesaran, Hal Ketinggian dan juga Hal Keelokan yang semuanya keluar daripada sifat Maanawiah
Dan juga menghadap wajah Allah itu dengan martabat Afaal, Asma, Sifat dan Dzat, karena martabat Allah itu juga empat yaitu Afal dimana pada pihak perbuatan Nya, Asma dimana pada pihak Nama Nya, Sifat dimana pada pihak Sifat Nya dan Dzat dimana pada pihak Dzat Nya. Inilah yang dikatakan liput atau Se Dzat, Se Sifat, Se Asma dan Se Afal, maka nyatalah kata LAA itu pada Dzat, kata ILAAHA itu pada Sifat, kata ILLAA itu pada Asma dan ALLAH itu pada Afaal
Dan bila keluar empat itu, itulah yang dikatakan dengan Syariat yaitu Iman, Tarekat yaitu Islam, Hakikat yaitu Tauhid dan Marifat yaitu Marifat yang mana kesemuanya itu terbit di ISLAM. Pada huruf Alif itu Iman, pada huruf Sin itu Islam, pada huruf Lam itu Tauhid dan pada huruf Mim itu Marifat.
Sifat Dua Puluh ini terbagi menjadi empat bahagian yang tujuannya adalah untuk memasukan ke dalam kalimah Laa Ilaha Illaa Allah
WUJUD 1 SIFAT NAFSI
Nafsi atau nama bagi Dzat maka maujud pada Zihin dalam i’tikad, yaitu majud pada Dzat yang tak nyata pada alam, karena Dzat dan Sifat tak berpisah. Maka Wujud itu terbagi kepada 3 Adam yakni Adam Thabit yaitu Tidak ada permula’an, Adam Lahit yaitu tidak akan binasa dan Adam Mumasalah yaitu tidak ada bandingan selama lamanya.
QIDAM 5 SIFAT SALBIAH
Maka maujud pada khabar, yaitu berkhabar barang yang tidak patut atau layak bagi Dzat yaitu Dzat yang bersifat Qidam menolak pemula’an, Dzat yang bersifat Baqa menolak kesudahan, Dzat yang bersifat Mukhalafatuhu lil Hawadith menolak menyamai segala sesuatu dan Dzat yang bersifat Qiamuhu binafsih menolak berhajat pada Dzat, Sifat, Asma dan Af’al orang lain dan Dzat yang bersifat Wahdaniat menolak berdua, bertiga atau ada yang lain
Dan Qidam 5 ini adalah Sifat Jalalullah.
Sifat martabat Dzat yakni Wujud 1 dan Qidam 5
Sifat martabat Sifat yakni Hayat 7
Sifat martabat Asma yakni Hayyun 7
HAYAT 7 SIFAT MA’ANI
Maujud pada zihin yaitu maujud pada Dzat yakni tak nyata pada alam dan maujud pada kharij yaitu memberi bekas pada sekalian alam yakni nyata pada alam karena sifat yang berdiri pada Dzat lah yang menjadikan alam ini.
Dalam sifat Maani ini takluk 6 sifat saja tanpa sifat Hayat yakni pertama Qudrat dan Iradat yaitu takluk pada sekalian mumkin, dan mumkin ini terbagi menjadi 4 bagian yang mana termasuk di dalam kalimah Laa yaitu Mumkin Maujud dikatakan Takluk Ma’yah yakni menyertai, dalam kalimah Ilaaha yaitu Mumkin Adam Ba’dal Maujud dikatakan Takluk Taksir yakni hari yang akan telah lalu, dalam kalimah Illaa yaitu Mumkin Sayyujad dikatakan Takluk Bil Quah yakni hari yang akan datang hingga Qiamat dan dalam kalimah Allah yaitu Ilmullah innahu lam yujat dikatakan Takluk Hikmiah yakni akan datang masuk syurga dan neraka. Kedua Sama dan Basar yaitu takluk sekalian maujudat dan yang ketiga Ilmu dan Kalam yaitu takluk pada hukum aqal yang 3.
Oleh karena itu Allah menjadikan makhluk ini dengan 4 sifat Nya yaitu Hayat, Ilmu, Qudrat dan Iradat dan menerima sekalian kejadian ini dengan Sama, Basar dan Kalam.
Yang perlu di ingat bahwa sifat Nafsi maujud pada zihin dan sifat Maanawiah maujud pada zihin juga tetapi keduanya tetap berbeda karena sifat Nafsi halnya tidak ada karena dengan suatu karena sementara sifat Ma’anawiah halnya ada karena dengan suatu karena, sebab kenyataan bagi sifat Ma’anawiah tak ada.
WUJUD
Yaitu wajib ada mustahil tiada nyatanya dengan memandang makhluk. Wujud Dzat Allah yaitu tanpa di karena kan dengan suatu karena dan tiada serupa dengan segala sesuatu rupa dan tiada bagai dengan suatu bagai juga, tiada banding dengan suatu banding, tiada bermasa dan bertempat, didalam maupun di luar karena segala sesuatu haqiqat nya di liputi oleh Nya.
Oleh karena itu lah sebenar benarnya Wujud Dzat Allah itu bendahara dari segala sesuatu nya. Dan Ada nya Alam dengan adanya Allah karena Allah tetap lah Wujud meskipun tiada alam ini, sehingga mustahil Allah memerlukan dalil akan keberada’an Nya dengan mengharuskan pandangan adanya alam. Maha Suci Allah dari segala dalil
QIDAM
Yaitu sedia mustahil baharu nyata juga dengan memandang makhluk. Sedia nya Dzat Allah dengan tiada ber awal maupun dengan tiada kesudahan walaupun dengan bermula adanya makhluk, maka wajib lah Allah karena Wujud harus bersifat Qidam
BAQA
Yaitu kekal mustahil berkesudahan atau binasa seperti makhluk. Adapun makna kekal yaitu tidak mendahului makhluk yang dahulu maupun tidak berakhir dengan makhluk yang akan kemudian. Dan sifat Baqa ini menunjukan daripada keharusan sifat Qidam
MUKHALLAFATUHU LIL HAWADITH
Yaitu berbeda mustahil serupa dengan segala makhluk, baik pada Dzat, Sifat maupun Af’al.
Berbeda Dzat yaitu karena perbendahara’an Allah segala sesuatu yang lain, Dan tak ada satupun makhluk yang bukan dari perbendahara’an Nya.
begitupun berbeda Sifat karena bergantung segala sesuatu nya kepada Nya juga berbeda Af’al karena maha suci Dia dari memerlukan sesuatu alat dalam perbuatan Nya.
Pandang pada Dzat Allah bukan kah kita dibawah perintah, pandang pada Sifat Allah ternyata kita di dalam milik, pandang Asma Allah bukan kah kita hamba
dan juga pandang pada Af’al Allah kita adalah terjadi. Oleh karena itu kita tidak mempunyai apa apa melainkan hak Allah SWT semata mata.
QIAMUHU BINAFSIH
Yaitu berdiri sendiri mustahil berhajat pada yang lain, baik pada Dzat, Sifat maupun Af’al.
Berdiri Dzat dengan sendiri karena tiada berkehendak pada mengadakan Nya, berdiri Sifat dengan sendiri juga karena tiada berkehendak pada menjadikan Nya dan bediri Af’al dengan sendiri karena tiada berhajat pada menolong kan Nya. Maka kita pandang pada Wujud yaitu makna Adanya Allah itu tidak ada suatu sebab oleh karena suatu sebab, disinilah dalil yang membuktikan adanya Dia Qiamuhu Binafsih.
Allah ada sendiri karena diri Dzat itu Qadim lagi azali maka hak Qadim lah Baqa, dan Allah tidak mengadakan diri sendiri karena apabila Ia mengadakan diri sendiri maka Ia berhajat pada sesuatu untuk mengadakan Nya dan Dia karena ada sesuatu yang dahulu maka baru membuat dan itu mustahil karena kalau ada permulaan maka batal lah Qidam dan kalau berhajat sesuatu mengadakan Nya maka batallah Mukhlafah dan bila gugur Qiyamuhu maka gugurlah 4 ( empat ) yang diatas.
WAHDNIAT
Yaitu esa mustahil berbilang bilang baik esa pada Dzat, esa pada Sifat maupun esa pada Af’al karena sesungguh nya esa Se Dzat atau ketunggalan Dzat itu tidak bersusun susun, bersuku suku ataupun terbagi bagi karena maha suci Dzat Allah itu tidak lah berbenda atau berbentuk. Sedangkan esa se Sifat yaitu se Qudrat, se Iradat dan se Ilmu dan yang berbilang bilang itu liput daripada Allah dan takluk Nya daripada Nya. Dan esa se Af’al ialah tidak ada sekutu dalam perbuatan Allah selama lamanya karena segala sesuatu tak akan memberi bekas
HAYAT
Yaitu hidup selama lama nya mustahil mati, dan hidup nya Allah tidak dengan roh dan jasad maupun tidak dengan nyawa dan nafas terlebih tidak karena unsur yang empat seperti Api, Angin, Air dan Tanah karena hidup Allah SWT Qadim lagi Azali.
Dan Hayat Allah pasti tak pernah lalai dan ingat karena sesuatu pun, maka wajib lah Ia Hidup karena mustahil dengan Wujud Nya itu yang Baqa ia bisa Binasa
ILMU
Yaitu mengetahui mustahil jahil, yaitu Ilmu Allah tidak dengan karena suatu perantara dan hajat sehingga pasti Ia mengetahui tidak dengan belajar dan di ajar baik dengan mudah maupun susah, karena Tahu Allah itu terbuka dan nyata yang tiada oleh karena mudah dan susah nya sesuatu maka dia Tahu.
QUDRAT
Yaitu berkuasa mustahil lemah, yaitu kuasa Allah mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan menjadikan yang ada agar tiada tanpa ada sesuatupun yang dapat mencegah, membatal kan atau melemahkan kuasa Allah. Karena kuasa Allah adalah kuasa yang berdiri bagi Dzat seperti dalam Innallaah ha ghaniyyu ‘alal ‘aalamiin
IRADAT
Yaitu berkehendak mustahil dipaksa, dan kehendak Nya ialah menjadikan segala sesuatu dengan kehendak tidak dengan lalai, lupa, tabiat ataupun untuk mengambil faedah. Karena Allah lah yang menentukan segala sesuatu
SAMA
Yaitu mendengar mustahil tuli, yaitu tidak dengan telinga ataupun tujuh anggota tubuh, tidak dengan sebab jauh dekat, dilindung atau didinding, karena Allah mendengar Dzat, Sifat, Asma dan Af’al Nya
BASAR
Yaitu melihat mustahil buta, karena melihat Allah tidak dengan melihat biji mata, maka melihat Allah tidak dengan didindingi oleh kantuk, oleh puas dan bosan, benci dan kasih, tidak dengan sebab buruk dan baik, tidak dengan sebab kebajikan dan kejahatan.
KALAM
Yaitu berkata kata mustahil bisu, yaitu berkata kata tidak dengan lidah di mulut, tidak ada huruf dan suara, tidak di dahului dan tidak kemudian tiada tersalah atau terlancar, oleh karena berkata kata Allah itu takluk pada tiga hukum aqal yaitu wajib yaitu tidak ada Tuhan melainkan Dia, mustahil yailtu mustahil Tuhan salah satu daripada tiga dan harus yaitu Allah yang menjadikan kamu dan segala yang kamu perbuat.
KAUNUHU HAYYUN
Yaitu keadaan Allah yang hidup mustahil berkeadaan mati, yaitu melazimkan Hayat. Artinya tidak dikatakan Kaunuhu Hayyun melainkan kemudian mendirikan Hayat itu pada Zat. Hayyun menerangkan atau menjelaskan bahwa Hayat itu sebenarnya ada dan Hayyun adalah saksi adanya Hayat pada Dzat
KAUNUHU ‘AALIMAN
Yaitu keadaan Allah yang mengetahui mustahil keadaan Nya yang jahil, yaitu melazimkan Ilmu artinya tidak dikatakan kaunuhu ‘Aaliman melainkan kemudian mendirikan Ilmu itu pada Dzat
KAUNUHU QAADIRAN
Yaitu keadaan Allah yang berkuasa mustahil keadaan Nya yang lemah, artinya Kaunuhu Qaadiran melazimkan Qudrat karena tidak dikatakan Kaunuhu Qaadiran melainkan kemudian mendirikan Qudrat itu pada Dzat
ASAL USUL MAKRIFAT
Bermulanya usul ma’rifat ini ialah untuk mentakrifkan hal keadaan kita di dalam masa kita beramal. Sesudah kita faham di atas segala- gala rukun dan jalan-jalan di dalam hal keadaan agama Islam, barulah kita memulakan segala amalan. Seperti sabda Rasulullah SAW, ertinya :
“Bermula sembahyang (solat) itu ada tiga bahagian :
1. Sembahyang orang-orang Mubtadi
Yakni semata-mata ia untuk menutupkan fitnah dunia. Dan sekadar mengetahui akan segala rukun-rukun dan waktu serta berpakaian bersih dan mengetahui wajib dan sunat semata-mata ia untuk mendapat pahala. Maka amalan ini syirik semata-mata.
2. Sembahyang orang Mutawasit
Menyempurnakan perintah Allah semata-mata hatinya berhadapkan Allah. Tiada ia mengira dosa dan pahala. Semata-mata ia berserah kepada Allah. Maka di atas amalan ini adalah lebih baik daripada yang pertama itu, tidaklah ia terkena syirik.
3. Sembahyang orang Mumtahi
Tiada ia sembahyang dengan sebenar-benarnya melainkan Allah, kerana ditilik pada dirinya adalah golongan dhoif, fakir, hina dan lemah.
Semata-mata pandangan di dalam sembahyang itu tiada dengan kehendaknya melainkan Kehendak
Allah.
La’ maujud bila’ hakikat ilallah : “Tiada maujud bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ haiyyun bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang hidup bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ ‘alimun bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang mengetahui bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ qadirun bila’ hakikat ialallah : “Tiada yang berkuasa bagi hakikat ku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ iradatun bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang berkehendak bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ sami’un bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang mendengar bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ basirun bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang melihat bagi hakikat ku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
Wa la’ mutakallimun bila’ hakikat ilallah :“Tiada yang berkata-kata bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah.
Maka inilah yang sebenar-benarnya sembahyang seperti sabda Abu Hurairah r.a.
:
“Sembahyanglah kamu seperti Rasulullah SAW sembahyang katanya :
Takbirlah kamu seperti Rasulullah SAW takbir.
Qiyamlah kamu seperti Rasulullah SAW qiyam.
Ruku’lah kamu seperti Rasulullah SAW ruku’.
Sujudlah kamu seperti Rasulullah SAW sujud.
Tahiyyatlah kamu seperti Rasulullah SAW tahiyyat.
Salamlah kamu seperti Rasulullah SAW salam.”
Begitulah seterusnya di dalam amalan. Janganlah sekali-kali kita buat tanpa mempelajari, nanti sia-sia sahaja amalan kita itu. Bak kata pepatah “Kalau berdayung biarlah di air. Lambat laun kita akan sampai jua”.
Maka sesudah kita ketahui akan segala rukunnya, maka wajiblah kita mengetahui akan segala bermula niat terlebih dahulu. Sebabnya niat itu bukannya mudah untuk kita memahaminya. Kerana yang dikatakan niat itu ialah tiada berhuruf, tiada berupa dan tiada bersuara.
Mana yang dinamakan niat, jikalau ada huruf boleh dibaca. Jikalau ada suara boleh didengar. Jikalau ada rupa boleh dipandang. Jikalau dapat nyata ia di atas huruf, rupa dan ada suara, maka ini bukannya niat lagi.
Seperti sabda Rasulullah SAW :
“Qasdu syai-in muktarinan bi fiklihi”
Ertinya : “Menyehaja sesuatu hal keadaan dipersertakan dengan perbuatan.”
Dan satu lagi Hadis mengatakan :
“An niatu bilqalbi bila’ sautin wala’ harfin”
Ertinya : “Bahawasanya niat itu di dalam hati, tiada suara dan tiada berhuruf.”
Jikalau niat itu kita kata di dalam hati, umpamanya tatkala mengata “Allahu Akbar” : Aku sembahyang fardhu Zohor atau fardhu Asar umpamanya di dalam huruf yang lapan
itu. Maka ini dinamakan dia niat ‘arfiah. Inilah niat bagi kedudukan orang-orang awam yakni di atas mereka baru menuntut ilmu.
Adapun yang dikatakan niat itu terbahagi ia kepada tiga :
1 – Qasad : Menyatakan pada “usalli fardhu” menandakan ada waktu pada hamba yang taat.
2 – Ta’rad : Menyatakan pada “arba’a raka’at” menandakan ada rukun, yakni bersedia hamba untuk menunaikan.
3 – Ta’yin : menyatakan pada “Lillah Ta’ala” menandakan suruhan Allah yakni menghadapi kiblat hati.
Maka sesudah nyata Qasad, Ta’rad, Ta’yin bererti telah nyatalah
kiblat dada kepada Baitullah.
Kiblat hati kepada nyawa
zat memandang zat.
Sifat memandang sifat.
Baharulah kita mengatakan “Allahu Akbar”.
Serta hadir mata hati musyahadah kepada Zat Allah Ta’ala semata-mata. Maka inilah dinamakan niat. Seperti yang dinyatakan di dalam Hadis Imam al-Gahazali r.a. katanya, “Adapun kedudukan usalli, fardhu, rakaat, lillah ta’ala, Allahu Akbar.” ialah seperti berikut;
1. Usalli – maksudnya amanah Tuhan terhadap hamba, maka tatkala hambaNya telah menerima syariatNya, maka wajiblah kembalikan kepadaNya dengan keadaan yang sempurna.
2. Rakaat - menyatakan hal kelakuanNya. Maka hilangkanlah kehendakmu di dalam halNya dan hapuskanlah fe’el mu di dalam kelakuanNya baharulah sah amalannya.
3. Lillahi ta’ala - Menyatakan sirNya (rahsia). Maka fana’lah sir iktikad cinta rasa dan berahi mu di dalam sir Allah. Baharulah nyata ada kiblat bagi kamu.
4. Allahu Akbar - menyatakan kaya Tuhan terhadap hamba. Kerana hamba sampai kepada seruan Allah Ta’ala kerananya Allah Ta’ala esa, Muhammad yatim, hamba dhoif. Tiap-tiap yang datang mesti akan kembali. Maka kembali sekalian hamba-hamba itu di dalam seruan Allahu Akbar. Maka bergemalah suara-suara hambamu yang taat itu mengatakan dan memuji akan nama Allahu Akbar dan terlintaslah suara mu’minnya terus tujuh petala langit dan terus tujuh petala bumi. Maka bersahut-sahut akan roh-roh Anbia’ dan Aulia’ serta Malaikat dengan katanya, “Sejahteralah umat-umat mu ya Muhammad!”.
5. Fardhu – sah dan nyata. Bersifat di atasnya hamba. Maka tiap-tiap yang bersifat hamba mestilah ada yang empunya hak. Maka kembalilah sifat-sifat mu kepada yang berhak. Cara-cara hendak kembalikan kepada yang berhak, itulah sebabnya diwajibkan kepada fardhu. Tiap-tiap perbuatan ataupun amalan adalah dengan fardhu. Tanpa dengan niat fardhu perbuatan itu sia-sia sahaja. Maka tidak berertilah kamu beramal. Kerana fardhu itu berpandukan kepada sifat Wahdaniah. Umpamanya kita mesti ketahui mana dia yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dinamai fardhu di dalam fardhu dan di mana terletaknya fardhu di akhir fardhu. Oleh itu kita seharusnya mencari kesimpulan ini jika kita mahu sempurnakan amalan kita.
Jalan sudah ada. Kepada saudara ku maka sayugialah mencari maksud pengajaran ini.
Umpamanya kita mesti ketahui mana dia yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dinamai fardhu di dalam fardhu dan di mana terletaknya fardhu di akhir fardhu. Oleh itu kita seharusnya mencari kesimpulan ini jika kita mahu sempurnakan amalan kita.
Penerangan lanjut kepada perkara yang berkaitan dengan Fardu.
Seperti yang sudah diketahui, “Fardhu” membawa maksud kepada “sah dan nyata”.
Dan fardhu itu berpandukan kepada sifat Wahdaniah. Seperti yang diketahui pula, sifat Wahdaniah itu ertinya Esa zat Allah Ta’ala, mustahil berbilang-bilang.
Inilah yang wajib kita fahami mengapa sesuatu perbuatan yang wajib itu difardhukan.
MAKSUD “Umpamanya kita mesti mengetahui mana dia yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dikatakan fardhu di dalam fardhu dan di mana terletaknya fardhu diakhir fardhu?”
Aku sebenarnya ingin mengajak saudara berdua kepada teori dan praktikal di dalam sesutau amal perbuatan itu mesti disahkan dan nyata ilmu tersebut oleh guru dan ada kebenarannya di sisi Allah Ta’ala.
Aku ingin mengambil satu contoh. Umpamanya di dalam solat, rata-rata kita mengetahui hukum-hakamnya daripada berdiri betul sehingga diakhiri dengan memberi salam. Semua orang yang beragama Islam pasti tahu aturannya, hatta budak-budak sekolah tadika pun tahu bagaimana melakukan solat.
Sebelum solat pula, adalah terlebih dahulu kita wajib berwudhu’. Bagaimana pula dengan kifiat berwudhu’??? Timbul lagi persoalan!
TETAPI apa yang aku maksudkan, sudahkah kita dapat petua-petua yang sebenar di dalam fardhu-fardhu tersebut??? Bagimana yang dikatakan berdiri betul, bagaimana yang dikatakan niat, seterusnya sehingga memberi salam. Ini yang aku nak saudara-saudara ku fahami.
Perbuatan solat tersebutlah yang wajib disahkan dan nyata! Aku sering menekankan persoalan berilmu dan beramal, yakni ilmu yang wajib disertakan dengan amal perbuatan. Kalau tidak amalan kita akan menjadi sia-sia.
Bagi ku persoalan solat itu adalah begitu penting. Dengan sebab itu, mendirikan solat itu dikatakan sebagai tiang agama. Tapi bagi aku mendirikan solat itu sebagai “Tiang Arash”!
Sebab apa aku berkata demikian, kerana seperti yang sudah aku perkatakan pada saudara Habib bahawa “di dalam solatlah kita boleh di-ISRA’ dan di-MI’RAJ-kan. Kita boleh merasai pengalaman-pengalaman tersebut. Inilah yang dikatakan hakikat di dalam perbuatan solat.
Pengalaman yang bagaimana??? Hanya diri saudara-saudara ku sendiri yang boleh menjawabnya. Bukan diri aku, aku hanya sekadar “MERIWAYATKAN” amanah Allah SWT!
Sabda Rasulullah SAW :
LA TASIHHU’L-SALATU ILLA BI’L-MA’RIFAH
Bermaksud : “Tiada sah solat melainkan dengan ma’rifat.”
AL-MA’RIFATU SIRRI
Bermaksud : “Yang ma’rifat itu rahsiaku.”
Sebagai “Talib” yakni orang yang menuntut ilmu itu, kita akan melalui dua kategori iaitu :
1. SALIK
2. SALIK MAJZUB
Dengan sebab itu aku mengatakan, “setiap individu itu mempunyai satu Tuhan”.
Membawa maksud ” ma’rifat di antara kita (setiap individu) di dalam meng-ESA-kan Allah Ta’ala itu adalah berbeza.”
Perkara ini aku berpegang kepada pertanyaan yang diajukan oleh Saidina Abu Bakar As-Siddiq kepada Rasulullah SAW semasa baginda turun daripada Mi’raj bertemu Allah Ta’ala.
Tanya Saidina Abu Bakar kepada Rasulullah SAW, “Bagaimana engkau melihat dan kenal Allah Ta’ala, ya Muhammad???
Jawab Rasulullah SAW, “‘Araftu rabbi bi rabbi!” yakni “Aku kenal Tuhan ku dengan Tuhan ku!”
Sungguh simbolik, tetapi itulah jawapan yang paling mampu Rasulullah SAW gambarkan.
Apabila lain daripada Allah tiada dilihatnya, maka fana’ hukumnya pada ibarat ini. Perkataan ini terlalu mushkil. Oleh itu saudara-saudaraku hendaklah benar-benar tahkik mengetahuinya.
Saudara Suluk dan Habib sendiri aku pasti sedia maklum apa yang dikatakan atau bagaimana yang dikatakan “Kalam Allah” – “Tiada berhuruf dan tiada bersuara.” Dengan sebab itulah Rasulullah SAW ditajallikan sebagai seorang hamba yang “Tiada tahu menulis dan tiada tahu membaca!”
Di dalam konsep penerimaan wahyu oleh Rasulullah SAW sendiri, baginda “gementar” untuk menerimanya apatah lagi bagaimana untuk menyampaikan kepada ummat yang lain agar ummat-ummat ketika itu faham, tahkik dan boleh menerima setiap rahsia dan perkhabaran dari wahyu yang “Tiada berhuruf dan tiada bersuara.”
Itu ummat Islam generasi Rasulullah SAW! Berhadapan (berhadap terus) dengan Rasulullah SAW! Tiada hijab dengan Rasulullah SAW!
Bagaimana pula dengan “Ummat Muhammad Akhir Zaman”??? Bertimpa-timpa hijabnya. Langsung tidak dapat “membayangi” kelibat Rasulullah SAW!!!
Saudara-saudara Ku,
Sedikit hendak menambah, sekadar mencari kesesuaian.
Tetakala seseorang itu mengangkat takbir dengan lafas “Allahu Akbar” maka telah ada 3 ilmu padanya iaitu:
1. Usuluddin
2. Fekah
3. Tasauf
Adapun had ilmu yang tiga itu ialah:
Usuludin – mengetahui yang wajib, mustahil dan harus
Fekah – mengetahui segala rukun, syarat dan yang membatalkan
Tasauf – mengetahui segala yang membatalkan amalan pahala seperti riak, taksud dll.
Manakah yang dinamakan Syariat, Tarikat, Hakikat & Makrifat di dalam sholat?.
Syariat – adalah tubuh iaitu segala gerakan dan perbuatan yang dilakunkan.
Tarikat – adalah hati iaitu mengingatkan kerja-kerjanya satu persatu.
Hakikat - hanya kepada Allah sahaja.
Makrifat – adalah Rahsia seiring dengan Hakikat …
Jadi martabat orang sembahyang itu ada 3.
1. Martabat syariat
2. Martabat sembahyang orang tarikat
3. Sembahyang orang Hakikat
Rupa sembahyang orang syariat dan hukumnya.
Adapun sembahyang orang syariat itu, ialah orang yang memandang daripadanya kepada Allah serta suci daripada riak dan seumpamanya. Semata-mata kerana harap dapat pahala dan takut akan azab. Diketahuinya akan segala syarat dan rukun serta yang membatalkan dia. Hukumnya orang ini syirik semata-mata. Bermula amal syariat tiada sekali-kali diterima amalnya walaupun sebesar
bukit. Wallahualam.
Rupa sembahyang orang tarikat dan hukumnya.
Adapun sembahyang orang tarikat itu, iktikatnya hadir Allah Taala pada hadapannya. Melihat akan segala perbuatan dan mendengar akan segala bacaannya. Maka terdorong ia kepada kusyuk kerana Allah Taala hadir pada hadapannya. Suci daripada riak dan tiada harap akan pahala dan tiada takut
akan siksa. Hanya memandang dirinya hamba. Mengerjakan yang disuruh dan meninggalkan yang ditegah. Orang ini hanya diterima amalnya daripada sekadar hadir hatinya kepada Allah Taala dalam sembahyang. Orang ini memandang daripada Allah kepadanya. Hukumnya syirik juga akan tetapi alas (kecil) syiriknya.
Rupa sembahyang orang hakikat dan hukumnya.
Adapun sembahyang orang hakikat itu ialah orang yang tiada memandang bagi dirinya amal. Hanya memandang feel kelakuan Allah Taala yang berlakun pada dirinya yang ditakdirkan pada azali sebelum dijadikan dia. Yang dipandangnya ialah segala amalnya daripada Allah dengan Allah bagi Allah. Inilah orang yang lepas daripada syirik. Inilah yang sebenarnya sembahyang.
Jadi sembahyang yang dikehendaki di sini ialah sembahyang yang meliputi tubuh dan nyawa atau jasad dan roh. Sekiranya seorang itu tiada nyawa, bukan manusia namanya dan sudah pasti tiada ia dapat beramal. Sedangkan, sebenarnya dia tiada dapat pandang yang beramal dan yang empunya amal. Kerana dengan adanya roh baru jasad dapat beramal. Sedangkan roh itu Sifatullah atau Sirrullah dan roh itu tiada akan dapat beramal sekiranya tiada serta dengan Zatullah. Maka barulah benar yang beramal itu Sifat bagi Dzat dan yang empunya amal itu adalah Dzat. Oleh kerana itulah sembahyang orang syariat dihukumkan syirik. Wallahualam.
Setelah nyata kezahiran kalimah tersebut, barulah didatangkan nyawa. Maka bersuaralah Ia dengan nama kebesaran Zat tuhannya – “Allahu Akbar”. Tetakala ini karamlah aku didalam kebesarannya.
Kemudian diikuti dengan tujuh kesempurnaan Takbir iaitu;
La Hayun,
La Alimun,
La Samiun,
La Kadirun,
La Basirun,
LaMuridun,
La Mutakalimun bilhaqi Ilallah.
Maka bersuaralah Ia dengan nama kebesaran Zat tuhannya – “Allahu Akbar”. Mengeletarlah diri ini, karam didalam kebesarannya. Sungguh cantik dan indah bagi mereka yang mengetahui rahsia dan perbuatan sholat itu. Segala-galanya tersirat disebalik firman Allah yang bermaksud:
“Jika Engkau mengasihi Allah, Ikutilah Aku. Nescaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa mu”.
“Bermula sembahyang (solat) itu ada tiga bahagian :
1. Sembahyang orang-orang Mubtadi
Yakni semata-mata ia untuk menutupkan fitnah dunia. Dan sekadar mengetahui akan segala rukun-rukun dan waktu serta berpakaian bersih dan mengetahui wajib dan sunat semata-mata ia untuk mendapat pahala. Maka amalan ini syirik semata-mata.
2. Sembahyang orang Mutawasit
Menyempurnakan perintah Allah semata-mata hatinya berhadapkan Allah. Tiada ia mengira dosa dan pahala. Semata-mata ia berserah kepada Allah. Maka di atas amalan ini adalah lebih baik daripada yang pertama itu, tidaklah ia terkena syirik.
3. Sembahyang orang Mumtahi
Tiada ia sembahyang dengan sebenar-benarnya melainkan Allah, kerana ditilik pada dirinya adalah golongan dhoif, fakir, hina dan lemah.
Semata-mata pandangan di dalam sembahyang itu tiada dengan kehendaknya melainkan Kehendak
Allah.
La’ maujud bila’ hakikat ilallah : “Tiada maujud bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ haiyyun bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang hidup bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ ‘alimun bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang mengetahui bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ qadirun bila’ hakikat ialallah : “Tiada yang berkuasa bagi hakikat ku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ iradatun bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang berkehendak bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ sami’un bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang mendengar bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
La’ basirun bila’ hakikat ilallah : “Tiada yang melihat bagi hakikat ku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah”.
Wa la’ mutakallimun bila’ hakikat ilallah :“Tiada yang berkata-kata bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah.
Maka inilah yang sebenar-benarnya sembahyang seperti sabda Abu Hurairah r.a.
:
“Sembahyanglah kamu seperti Rasulullah SAW sembahyang katanya :
Takbirlah kamu seperti Rasulullah SAW takbir.
Qiyamlah kamu seperti Rasulullah SAW qiyam.
Ruku’lah kamu seperti Rasulullah SAW ruku’.
Sujudlah kamu seperti Rasulullah SAW sujud.
Tahiyyatlah kamu seperti Rasulullah SAW tahiyyat.
Salamlah kamu seperti Rasulullah SAW salam.”
Begitulah seterusnya di dalam amalan. Janganlah sekali-kali kita buat tanpa mempelajari, nanti sia-sia sahaja amalan kita itu. Bak kata pepatah “Kalau berdayung biarlah di air. Lambat laun kita akan sampai jua”.
Maka sesudah kita ketahui akan segala rukunnya, maka wajiblah kita mengetahui akan segala bermula niat terlebih dahulu. Sebabnya niat itu bukannya mudah untuk kita memahaminya. Kerana yang dikatakan niat itu ialah tiada berhuruf, tiada berupa dan tiada bersuara.
Mana yang dinamakan niat, jikalau ada huruf boleh dibaca. Jikalau ada suara boleh didengar. Jikalau ada rupa boleh dipandang. Jikalau dapat nyata ia di atas huruf, rupa dan ada suara, maka ini bukannya niat lagi.
Seperti sabda Rasulullah SAW :
“Qasdu syai-in muktarinan bi fiklihi”
Ertinya : “Menyehaja sesuatu hal keadaan dipersertakan dengan perbuatan.”
Dan satu lagi Hadis mengatakan :
“An niatu bilqalbi bila’ sautin wala’ harfin”
Ertinya : “Bahawasanya niat itu di dalam hati, tiada suara dan tiada berhuruf.”
Jikalau niat itu kita kata di dalam hati, umpamanya tatkala mengata “Allahu Akbar” : Aku sembahyang fardhu Zohor atau fardhu Asar umpamanya di dalam huruf yang lapan
itu. Maka ini dinamakan dia niat ‘arfiah. Inilah niat bagi kedudukan orang-orang awam yakni di atas mereka baru menuntut ilmu.
Adapun yang dikatakan niat itu terbahagi ia kepada tiga :
1 – Qasad : Menyatakan pada “usalli fardhu” menandakan ada waktu pada hamba yang taat.
2 – Ta’rad : Menyatakan pada “arba’a raka’at” menandakan ada rukun, yakni bersedia hamba untuk menunaikan.
3 – Ta’yin : menyatakan pada “Lillah Ta’ala” menandakan suruhan Allah yakni menghadapi kiblat hati.
Maka sesudah nyata Qasad, Ta’rad, Ta’yin bererti telah nyatalah
kiblat dada kepada Baitullah.
Kiblat hati kepada nyawa
zat memandang zat.
Sifat memandang sifat.
Baharulah kita mengatakan “Allahu Akbar”.
Serta hadir mata hati musyahadah kepada Zat Allah Ta’ala semata-mata. Maka inilah dinamakan niat. Seperti yang dinyatakan di dalam Hadis Imam al-Gahazali r.a. katanya, “Adapun kedudukan usalli, fardhu, rakaat, lillah ta’ala, Allahu Akbar.” ialah seperti berikut;
1. Usalli – maksudnya amanah Tuhan terhadap hamba, maka tatkala hambaNya telah menerima syariatNya, maka wajiblah kembalikan kepadaNya dengan keadaan yang sempurna.
2. Rakaat - menyatakan hal kelakuanNya. Maka hilangkanlah kehendakmu di dalam halNya dan hapuskanlah fe’el mu di dalam kelakuanNya baharulah sah amalannya.
3. Lillahi ta’ala - Menyatakan sirNya (rahsia). Maka fana’lah sir iktikad cinta rasa dan berahi mu di dalam sir Allah. Baharulah nyata ada kiblat bagi kamu.
4. Allahu Akbar - menyatakan kaya Tuhan terhadap hamba. Kerana hamba sampai kepada seruan Allah Ta’ala kerananya Allah Ta’ala esa, Muhammad yatim, hamba dhoif. Tiap-tiap yang datang mesti akan kembali. Maka kembali sekalian hamba-hamba itu di dalam seruan Allahu Akbar. Maka bergemalah suara-suara hambamu yang taat itu mengatakan dan memuji akan nama Allahu Akbar dan terlintaslah suara mu’minnya terus tujuh petala langit dan terus tujuh petala bumi. Maka bersahut-sahut akan roh-roh Anbia’ dan Aulia’ serta Malaikat dengan katanya, “Sejahteralah umat-umat mu ya Muhammad!”.
5. Fardhu – sah dan nyata. Bersifat di atasnya hamba. Maka tiap-tiap yang bersifat hamba mestilah ada yang empunya hak. Maka kembalilah sifat-sifat mu kepada yang berhak. Cara-cara hendak kembalikan kepada yang berhak, itulah sebabnya diwajibkan kepada fardhu. Tiap-tiap perbuatan ataupun amalan adalah dengan fardhu. Tanpa dengan niat fardhu perbuatan itu sia-sia sahaja. Maka tidak berertilah kamu beramal. Kerana fardhu itu berpandukan kepada sifat Wahdaniah. Umpamanya kita mesti ketahui mana dia yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dinamai fardhu di dalam fardhu dan di mana terletaknya fardhu di akhir fardhu. Oleh itu kita seharusnya mencari kesimpulan ini jika kita mahu sempurnakan amalan kita.
Jalan sudah ada. Kepada saudara ku maka sayugialah mencari maksud pengajaran ini.
Umpamanya kita mesti ketahui mana dia yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dinamai fardhu di dalam fardhu dan di mana terletaknya fardhu di akhir fardhu. Oleh itu kita seharusnya mencari kesimpulan ini jika kita mahu sempurnakan amalan kita.
Penerangan lanjut kepada perkara yang berkaitan dengan Fardu.
Seperti yang sudah diketahui, “Fardhu” membawa maksud kepada “sah dan nyata”.
Dan fardhu itu berpandukan kepada sifat Wahdaniah. Seperti yang diketahui pula, sifat Wahdaniah itu ertinya Esa zat Allah Ta’ala, mustahil berbilang-bilang.
Inilah yang wajib kita fahami mengapa sesuatu perbuatan yang wajib itu difardhukan.
MAKSUD “Umpamanya kita mesti mengetahui mana dia yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dikatakan fardhu di dalam fardhu dan di mana terletaknya fardhu diakhir fardhu?”
Aku sebenarnya ingin mengajak saudara berdua kepada teori dan praktikal di dalam sesutau amal perbuatan itu mesti disahkan dan nyata ilmu tersebut oleh guru dan ada kebenarannya di sisi Allah Ta’ala.
Aku ingin mengambil satu contoh. Umpamanya di dalam solat, rata-rata kita mengetahui hukum-hakamnya daripada berdiri betul sehingga diakhiri dengan memberi salam. Semua orang yang beragama Islam pasti tahu aturannya, hatta budak-budak sekolah tadika pun tahu bagaimana melakukan solat.
Sebelum solat pula, adalah terlebih dahulu kita wajib berwudhu’. Bagaimana pula dengan kifiat berwudhu’??? Timbul lagi persoalan!
TETAPI apa yang aku maksudkan, sudahkah kita dapat petua-petua yang sebenar di dalam fardhu-fardhu tersebut??? Bagimana yang dikatakan berdiri betul, bagaimana yang dikatakan niat, seterusnya sehingga memberi salam. Ini yang aku nak saudara-saudara ku fahami.
Perbuatan solat tersebutlah yang wajib disahkan dan nyata! Aku sering menekankan persoalan berilmu dan beramal, yakni ilmu yang wajib disertakan dengan amal perbuatan. Kalau tidak amalan kita akan menjadi sia-sia.
Bagi ku persoalan solat itu adalah begitu penting. Dengan sebab itu, mendirikan solat itu dikatakan sebagai tiang agama. Tapi bagi aku mendirikan solat itu sebagai “Tiang Arash”!
Sebab apa aku berkata demikian, kerana seperti yang sudah aku perkatakan pada saudara Habib bahawa “di dalam solatlah kita boleh di-ISRA’ dan di-MI’RAJ-kan. Kita boleh merasai pengalaman-pengalaman tersebut. Inilah yang dikatakan hakikat di dalam perbuatan solat.
Pengalaman yang bagaimana??? Hanya diri saudara-saudara ku sendiri yang boleh menjawabnya. Bukan diri aku, aku hanya sekadar “MERIWAYATKAN” amanah Allah SWT!
Sabda Rasulullah SAW :
LA TASIHHU’L-SALATU ILLA BI’L-MA’RIFAH
Bermaksud : “Tiada sah solat melainkan dengan ma’rifat.”
AL-MA’RIFATU SIRRI
Bermaksud : “Yang ma’rifat itu rahsiaku.”
Sebagai “Talib” yakni orang yang menuntut ilmu itu, kita akan melalui dua kategori iaitu :
1. SALIK
2. SALIK MAJZUB
Dengan sebab itu aku mengatakan, “setiap individu itu mempunyai satu Tuhan”.
Membawa maksud ” ma’rifat di antara kita (setiap individu) di dalam meng-ESA-kan Allah Ta’ala itu adalah berbeza.”
Perkara ini aku berpegang kepada pertanyaan yang diajukan oleh Saidina Abu Bakar As-Siddiq kepada Rasulullah SAW semasa baginda turun daripada Mi’raj bertemu Allah Ta’ala.
Tanya Saidina Abu Bakar kepada Rasulullah SAW, “Bagaimana engkau melihat dan kenal Allah Ta’ala, ya Muhammad???
Jawab Rasulullah SAW, “‘Araftu rabbi bi rabbi!” yakni “Aku kenal Tuhan ku dengan Tuhan ku!”
Sungguh simbolik, tetapi itulah jawapan yang paling mampu Rasulullah SAW gambarkan.
Apabila lain daripada Allah tiada dilihatnya, maka fana’ hukumnya pada ibarat ini. Perkataan ini terlalu mushkil. Oleh itu saudara-saudaraku hendaklah benar-benar tahkik mengetahuinya.
Saudara Suluk dan Habib sendiri aku pasti sedia maklum apa yang dikatakan atau bagaimana yang dikatakan “Kalam Allah” – “Tiada berhuruf dan tiada bersuara.” Dengan sebab itulah Rasulullah SAW ditajallikan sebagai seorang hamba yang “Tiada tahu menulis dan tiada tahu membaca!”
Di dalam konsep penerimaan wahyu oleh Rasulullah SAW sendiri, baginda “gementar” untuk menerimanya apatah lagi bagaimana untuk menyampaikan kepada ummat yang lain agar ummat-ummat ketika itu faham, tahkik dan boleh menerima setiap rahsia dan perkhabaran dari wahyu yang “Tiada berhuruf dan tiada bersuara.”
Itu ummat Islam generasi Rasulullah SAW! Berhadapan (berhadap terus) dengan Rasulullah SAW! Tiada hijab dengan Rasulullah SAW!
Bagaimana pula dengan “Ummat Muhammad Akhir Zaman”??? Bertimpa-timpa hijabnya. Langsung tidak dapat “membayangi” kelibat Rasulullah SAW!!!
Saudara-saudara Ku,
Sedikit hendak menambah, sekadar mencari kesesuaian.
Tetakala seseorang itu mengangkat takbir dengan lafas “Allahu Akbar” maka telah ada 3 ilmu padanya iaitu:
1. Usuluddin
2. Fekah
3. Tasauf
Adapun had ilmu yang tiga itu ialah:
Usuludin – mengetahui yang wajib, mustahil dan harus
Fekah – mengetahui segala rukun, syarat dan yang membatalkan
Tasauf – mengetahui segala yang membatalkan amalan pahala seperti riak, taksud dll.
Manakah yang dinamakan Syariat, Tarikat, Hakikat & Makrifat di dalam sholat?.
Syariat – adalah tubuh iaitu segala gerakan dan perbuatan yang dilakunkan.
Tarikat – adalah hati iaitu mengingatkan kerja-kerjanya satu persatu.
Hakikat - hanya kepada Allah sahaja.
Makrifat – adalah Rahsia seiring dengan Hakikat …
Jadi martabat orang sembahyang itu ada 3.
1. Martabat syariat
2. Martabat sembahyang orang tarikat
3. Sembahyang orang Hakikat
Rupa sembahyang orang syariat dan hukumnya.
Adapun sembahyang orang syariat itu, ialah orang yang memandang daripadanya kepada Allah serta suci daripada riak dan seumpamanya. Semata-mata kerana harap dapat pahala dan takut akan azab. Diketahuinya akan segala syarat dan rukun serta yang membatalkan dia. Hukumnya orang ini syirik semata-mata. Bermula amal syariat tiada sekali-kali diterima amalnya walaupun sebesar
bukit. Wallahualam.
Rupa sembahyang orang tarikat dan hukumnya.
Adapun sembahyang orang tarikat itu, iktikatnya hadir Allah Taala pada hadapannya. Melihat akan segala perbuatan dan mendengar akan segala bacaannya. Maka terdorong ia kepada kusyuk kerana Allah Taala hadir pada hadapannya. Suci daripada riak dan tiada harap akan pahala dan tiada takut
akan siksa. Hanya memandang dirinya hamba. Mengerjakan yang disuruh dan meninggalkan yang ditegah. Orang ini hanya diterima amalnya daripada sekadar hadir hatinya kepada Allah Taala dalam sembahyang. Orang ini memandang daripada Allah kepadanya. Hukumnya syirik juga akan tetapi alas (kecil) syiriknya.
Rupa sembahyang orang hakikat dan hukumnya.
Adapun sembahyang orang hakikat itu ialah orang yang tiada memandang bagi dirinya amal. Hanya memandang feel kelakuan Allah Taala yang berlakun pada dirinya yang ditakdirkan pada azali sebelum dijadikan dia. Yang dipandangnya ialah segala amalnya daripada Allah dengan Allah bagi Allah. Inilah orang yang lepas daripada syirik. Inilah yang sebenarnya sembahyang.
Jadi sembahyang yang dikehendaki di sini ialah sembahyang yang meliputi tubuh dan nyawa atau jasad dan roh. Sekiranya seorang itu tiada nyawa, bukan manusia namanya dan sudah pasti tiada ia dapat beramal. Sedangkan, sebenarnya dia tiada dapat pandang yang beramal dan yang empunya amal. Kerana dengan adanya roh baru jasad dapat beramal. Sedangkan roh itu Sifatullah atau Sirrullah dan roh itu tiada akan dapat beramal sekiranya tiada serta dengan Zatullah. Maka barulah benar yang beramal itu Sifat bagi Dzat dan yang empunya amal itu adalah Dzat. Oleh kerana itulah sembahyang orang syariat dihukumkan syirik. Wallahualam.
Setelah nyata kezahiran kalimah tersebut, barulah didatangkan nyawa. Maka bersuaralah Ia dengan nama kebesaran Zat tuhannya – “Allahu Akbar”. Tetakala ini karamlah aku didalam kebesarannya.
Kemudian diikuti dengan tujuh kesempurnaan Takbir iaitu;
La Hayun,
La Alimun,
La Samiun,
La Kadirun,
La Basirun,
LaMuridun,
La Mutakalimun bilhaqi Ilallah.
Maka bersuaralah Ia dengan nama kebesaran Zat tuhannya – “Allahu Akbar”. Mengeletarlah diri ini, karam didalam kebesarannya. Sungguh cantik dan indah bagi mereka yang mengetahui rahsia dan perbuatan sholat itu. Segala-galanya tersirat disebalik firman Allah yang bermaksud:
“Jika Engkau mengasihi Allah, Ikutilah Aku. Nescaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa mu”.
GAMBARAN MAKRIFAT
Ini dalam memperkatakan tentang makrifat tentang gambaran makrifat tetapi tidak dikatakan makrifat dan tidak dihuraikan secara terus terang sebaliknya diperkatakan sebagai ahwal. Ahwal adalah jamak bagi perkataan hal. Hikmat ini membawa erti hal membentuk keadaan amal. Amal adalah perbuatan atau kelakuan lahiriah dan hal adalah suasana atau kelakuan hati. Amal berkaitan dengan “lahiriah” manakala hal berkaitan dengan “batiniah.” Oleh kerana hati menguasai sekalian anggota maka kelakuan hati iaitu hal menentukan bentuk amal iaitu perbuatan lahiriah.
Dalam pandangan tasauf, hal diertikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat. Hal merupakan zauk atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah s.w.t). Oleh itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak diperolehi makrifat. Ahli ilmu membina makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasauf bermakrifat melalui pengalaman langsung tentang hakikat.
Sebelum memperolehi pengalaman hakikat, ahli kerohanian terlebih dahulu memperolehi kasyaf iaitu terbuka keghaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk ghaib seperti jin. Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya syaitan yang bersembunyi dalam berbagai-bagai bentuk dan suasana dunia ini. Kasyaf yang menerima hakikat sesuatu, walau apa jua rupa yang dihadapi, penting bagi pengembara kerohanian. Rasulullah s.a.w sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibrail a.s dalam rupanya yang asli dua kali sahaja, walaupun pada setiap kali Jibrail a.s menemui Rasulullah s.a.w dengan rupa yang berbeza-beza, Rasulullah s.a.w tetap mengenalinya sebagai Jibrail a.s. Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya syaitan yang menjelma dalam berbagai-bagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa seorang yang kelihatan alim dan warak.
Bila seseorang ahli kerohanian memperolehi kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau zauk iaitu pengalaman kerohanian tentang hakikat ketuhanan. Hal tidak mungkin diperolehi dengan beramal dan menuntut ilmu. Sebelum ini pernah dinyatakan bahawa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat. Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai hampir dengan pintu gerbangnya. Apabila sampai di situ seseorang hanya menanti kurniaan Allah s.w.t, semata-mata kurniaan Allah s.w.t yang membawa makrifat kepada hamba-hamba-Nya. Kurniaan Allah s.w.t yang mengandungi makrifat itu dinamakan hal. Allah s.w.t memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahawa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi kesannya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil hingga dia jatuh pengsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau zauk atau merasai keperkasaan Allah s.w.t dan pengalaman ini dinamakan hakikat, iaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allah s.w.t. Pengalaman hati tersebut membuatnya berpengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperolehi daripada zauk hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu dinamakan makrifat. Orang yang berkenaan dikatakan bermakrifat terhadap keperkasaan Allah s.w.t. Oleh itu untuk mencapai makrifat seseorang itu haruslah mengalami hakikat. Inilah jenis makrifat yang tertinggi. Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu. Makrifat secara ilmu boleh didapati dengan belajar, sementara secara zauk didapati tanpa belajar (laduni). Ahli tasauf tidak berhenti setakat makrifat secara ilmu malah mereka mempersiapkan hati mereka agar sesuai menerima kedatangan makrifat secara zauk.
Ada orang yang memperolehi hal sekali sahaja dan dikuasai oleh hal dalam tempuh yang tertentu sahaja dan ada juga yang berkekalan di dalam hal. Hal yang berterusan atau berkekalan dinamakan wisal iaitu penyerapan hal secara berterusan, kekal atau baqa. Orang yang mencapai wisal akan terus hidup dengan cara hal yang berkenaan. Hal-hal (ahwal) dan wisal boleh dibahagikan kepada lima jenis:
1 .Abid
Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau zauk yang membuat dia merasakan secara bersangatan bahawa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mempunyai sebarang daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, keupayaan, bakat-bakat dan apa sahaja yang ada dengannya adalah daya dan upaya yang daripada Allah s.w.t. Semuanya itu adalah kurniaan-Nya semata-mata. Allah s.w.t sebagai Pemilik yang sebenar, apabila Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali pada bila-bila masa yang Dia kehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah s.w.t hinggakan sekiranya dia melepaskan sandaran itu dia akan jatuh, tidak bermaya, tidak boleh bergerak, kerana dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah s.w.t. Hal atau suasana yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau kelakuan sangat kuat beribadat, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak mengambil bahagian dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah s.w.t dan gemar bersendirian. Dia merasakan apa sahaja yang selain Allah s.w.t akan menjauhkan dirinya daripada Allah s.w.t.
2. Asyikin
Asyikin ialah orang yang mendapat asyik dengan sifat Keindahan Allah s.w.t. Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya kerana apa sahaja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah s.w.t di dalamnya. Amal atau kelakuan asyikin ialah gemar merenung alam maya dan memuji Keindahan Allah s.w.t pada apa yang disaksikannya. Dia boleh duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa berasa jemu. Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang kelihatan adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah s.w.t. Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan peraturan masyarakat. Kesedarannya bukan lagi pada alam ini. Dia mempunyai alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah s.w.t.
3 .Muttakhaliq
Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan bertukar sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana Qurbi Faraidh atau Qurbi Nawafil. Dalam Qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah s.w.t menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang mahu terjadi pada kelakuan dan perbuatannya. Dia menjadi orang yang berpisah daripada dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengawal atau mempengaruhinya. Hal Qurbi Faraidh adalah dia melihat bahawa Allah s.w.t melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah s.w.t, dan diamnya juga adalah gerakan Allah s.w.t. Orang ini tidak mempunyai kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan tadbir. Apa yang mengenai dirinya, seperti perkataan dan perbuatan, berlaku secara spontan. Kelakuan atau amal Qurbi Faraidh ialah bercampur-campur di antara logik dengan tidak logik, mengikut adat dengan merombak adat, kelakuan alim dengan jahil. Dalam banyak perkara penjelasan yang boleh diberikannya ialah, “Tidak tahu! Allah s.w.t berbuat apa yang Dia kehendaki”.
Dalam suasana Qurbi Nawafil, pula muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah s.w.t yang menguasai bakat dan keupayaan pada sekalian anggotanya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, iaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal Qurbi Nawafil ialah berbuat dengan izin Allah s.w.t kerana Allah s.w.t mengurniakan kepadanya kebolehan untuk berbuat sesuatu. Contoh Qurbi Nawafil adalah kelakuan Nabi Isa a.s yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah s.w.t, juga kelakuan beliau a.s menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa a.s melihat sifat-sifat Allah s.w.t yang diizinkan menjadi bakat dan keupayaan beliau a.s, sebab itu beliau a.s tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah s.w.t.
4.Muwahhid
Muwahhid fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid ialah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah s.w.t. Orang ini telah putus hubungannya dengan kesedaran basyariah dan sekalian maujud. Kelakuan atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa kerana dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Ahmad, dan jika ditanya kepadanya di manakah Ahmad, maka dia akan menjawab Ahmad tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke‘Ahmad-an’ dan benar-benar dikuasai oleh ke‘Allah-an’. Ketika dia dikuasai oleh hal dia terlepas daripada beban hukum syarak. Dia mungkin melaungkan, “Akulah Allah! Maha Suci Aku! Sembahlah Aku!” Dia telah fana dari ‘aku’ dirinya dan dikuasai oleh kewujudan ‘Aku Hakiki’. Walau bagaimana pun sikap dan kelakuannya dia tetap dalam keredaan Allah s.w.t. Apabila dia tidak dikuasai oleh hal, kesedarannya kembali dan dia menjadi ahli syariat yang taat. Perlu diketahui bahawa hal tidak boleh dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak berupaya menahannya. Ahli hal karam dalam lakuan Allah s.w.t. Bila dia melaungkan , “Akulah Allah!” bukan bermakna dia mengaku telah menjadi Tuhan, tetapi dirinya telah fana, apa yang terucap melalui lidahnya sebenarnya adalah dari Allah s.w.t. Allah s.w.t yang mengatakan Dia adalah Tuhan dengan menggunakan lidah muwahhid yang sedang fana itu.
Berbeza pula golongan mulhid. Si mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada zauk, tetapi berkelakuan dan bercakap seperti orang yang di dalam zauk. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat bukan mengalami hakikat secara zauk. Si mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata-mata. Dia berpuas hati bercakap tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini bercakap sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesedaran kemanusiaan, masih gelojoh dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi bersepakat mengatakan bahawa sesiapa yang mengatakan,” Ana al-Haq “. sedangkan dia masih sedar tentang dirinya maka orang berkenaan adalah sesat dan kufur!
5.Mutahaqqiq
Mutahaqqiq ialah orang yang setelah fana dalam zat turun kembali kepada kesedaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diuruskan. Dalam kesedaran zat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah s.w.t dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. Sebab itu orang yang demikian tidak boleh dijadikan pemimpin. Dia mesti turun kepada kesedaran sifat baharulah dia boleh memimpin orang lain. Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disedarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang dilantik oleh Allah s.w.t menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah s.w.t dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diredai Allah s.w.t. Orang inilah yang menjadi ahli makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, ahli tarekat yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani. Insan Rabbani peringkat tertinggi ialah para nabi-nabi dan Allah s.w.t kurniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi dilantik sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.
Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeza-beza, dengan itu akan mencetuskan kelakuan amal yang berbeza-beza. Ahwal mesti difahami dengan sebenar-benarnya oleh orang yang memasuki latihan tarekat kerohanian, supaya dia mengetahui, dalam amal yang bagaimanakah dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan sembahyang, zikir atau puasa. Dia mesti berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia cepat dan selamat sampai ke puncak.
1:Gambaran, ingatan, tarikan dan keinginan terhadap benda-benda alam seperti harta, perempuan, pangkat dan lain-lain.
2: Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada apa yang dikehendaki.
3: Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah s.w.t.
4: Dosa yang tidak dibasuh dengan taubat masih mengotorkan hati.
Diri manusia tersusun daripada anasir
i.tanah
ii.air
iii.api
iv.angin.
Ia juga diresapi oleh unsur-unsur alam seperti galian, tumbuh-tumbuhan, haiwan, syaitan dan malaikat. Tiap-tiap anasir dan unsur itu menarik hati kepada diri masing-masing. Tarik menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu pula menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima sinaran nur yang melahirkan iman dan tauhid. Mengubati kekacauan hati adalah penting untuk membukakannya bagi menerima maklumat dari Alam Malakut. Hati yang kacau itu boleh distabilkan dengan cara menundukkan semua anasir dan unsur tadi kepada syariat. Syariat menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang cuba menawan hati. Penting bagi seorang murid yang menjalani jalan kerohanian menjadikan syariat sebagai payung yang mengharmonikan perjalanan anasir-anasir dan daya-daya yang menyerap ke dalam diri agar cermin hatinya bebas daripada gambar-gambar alam maya. Bila cermin hati sudah bebas daripada gambar-gambar dan tarikan tersebut, hati dapat menghadap ke Hadrat Ilahi.
Selain tarikan benda-benda alam, hati boleh juga tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan sahaja rangsangan hawa nafsu yang rendah. Semua bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah s.w.t adalah syahwat. Kerja syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan peraturan Allah s.w.t serta membangkang takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak reda dengan keputusan Allah s.w.t. Seseorang yang mahu menuju Allah s.w.t perlulah melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan kehendak diri sendiri, lalu masuk ke dalam benteng aslim iaitu berserah diri kepada Allah s.w.t dan reda dengan takdir-Nya.
Perkara seterusnya yang yang diperkatakan sebagai ilmu hikmatialah junub batin tidak suci dan dilarang melakukan ibadat atau memasuki masjid. Orang yang berjunub batin pula tertegah dari memasuki Hadrat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin iaitu lalai hati, kedudukannya seperti orang yang berjunub zahir, di mana amal ibadatnya tidak diterima. Allah s.w.t mengancam untuk mencampakkan orang yang bersembahyang dengan lalai (dalam keadaan berjunub batin) ke dalam neraka wil. Begitu hebat sekali ancaman Allah s.w.t kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.
Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah s.w.t kepada orang yang lalai? Bayangkan hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita yang zahir. Hati yang khusyuk adalah umpama orang yang menghadap Allah s.w.t dengan mukanya, duduk dengan tertib, bercakap dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Maharaja Yang Maha Agung. Hati yang lalai pula adalah umpama orang yang menghadap dengan belakangnya, duduk secara biadab, bertutur kata tidak tentu hujung pangkal dan kelakuannya sangat tidak bersopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Jika raja didunia murka dengan perbuatan demikian maka Raja kepada sekalian raja-raja lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang biadab itu dan layaklah jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wil. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu bersopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke Hadrat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu bersopan santun tidak layak mendekati-Nya.
Perkara yang ke empat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia menghalang seseorang daripada memahami rahsia-rahsia yang halus-halus. Pintu kepada Perbendaharaan Allah s.w.t yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyuci-bersihkan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahsia Allah s.w.t selagi dia belum bertaubat, samalah seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan hutangnya terpaksa menunggu di luar syurga. Jika dia mahu masuk ke dalam Perbendaharaan Allah s.w.t yang tersembunyi yang mengandungi rahsia yang halus-halus wajiblah bertaubat. Taubat itu sendiri merupakan rahsia yang halus. Orang yang tidak memahami rahsia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah s.a.w yang tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon keampunan sedangkan sekalipun baginda s.a.w berdosa semuanya diampunkan Allah s.w.t. Adakah Rasulullah s.a.w tidak yakin bahawa Allah s.w.t mengampunkan semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan baginda s.a.w (jika ada)?
Maksud taubat ialah kembali, iaitu kembali kepada Allah s.w.t. Orang yang melakukan dosa tercampak jauh daripada Allah s.w.t. Walaupun orang ini sudah berhenti melakukan dosa malah dia sudah melakukan amal ibadat dengan banyaknya namun, tanpa taubat dia tetap tinggal berjauhan dari Allah s.w.t. Dia telah masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih tetapi yang berjauhan bukan berdekatan dengan Allah s.w.t. Taubat yang lebih halus ialah penghayatan kalimat:
“Laa Hau la wala quwata illa billah.” Tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah s.w.t.
“Inna Lillillahi wa-inna ilai-irajiun” Kami datang dari Allah s.w.t dan kepada Allah s.w.t kami kembali.
Segala sesuatu datangnya dari Allah s.w.t, baik kehendak mahupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa sahaja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa sahaja yang terbit dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah membekalkan kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. Jadi, ubudiyah berkewajipan mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon keampunan dan bertaubat sebagai menampung kecacatan. Segala urusan dikembalikan kepada Allah s.w.t. Semakin tinggi makrifat seseorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin kerap dia memohon keampunan dari Allah s.w.t, mengembalikan setiap urusan kepada Allah s.w.t, sumber datangnya segala urusan.
Apabila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah s.w.t maka Allah s.w.t sendiri yang akan mengajarkan Ilmu-Nya yang halus-halus agar kehendak hamba itu bersesuaian dengan Iradat Allah s.w.t, kuasa hamba sesuai dengan Kudrat Allah s.w.t, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah s.w.t dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah s.w.t, dengan itu jadilah hamba mendengar kerana Sama’ Allah s.w.t, melihat kerana Basar Allah s.w.t dan berkata-kata kerana Kalam Allah s.w.t. Apabila semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahsia Allah s.w.t).
MAHA SUCI ALLAH YANG MENUTUPI RAHSIA KEISTIMEWAAN (PARA WALI) DENGAN DIPERLIHATKAN SIFAT KEMANUSIAAN BIASA KEPADA ORANG RAMAI DAN TERNYATA KEBESARAN KETUHANAN ALLAH S.W.T DALAM MEMPERLIHATKAN SIFAT KEHAMBAAN (PADA PARA WALI-NYA). Orang yang jahil dan lemah imannya mudah terlintas sangkaan apabila berhadapan kejadian yang luar biasa yang terzahir daripada seseorang manusia. Nabi Ia a.s dilahirkan secara luar biasa, dan padanya terzahir mukjizat yang luar biasa, menyebabkan segolongan manusia menganggap beliau a.s sebagai anak Tuhan. Uzair yang ditidurkan oleh Allah s.w.t selama seratus tahun dan dijagakan di kalangan generasi yang sudah melupai Kitab Taurat, lalu Uzair membacakan isi Kitab Taurat dengan lancar. Orang ramai pun menganggap Uzair sebagai luar biasa, lalu mengangkatnya sebagai anak Tuhan. Orang ramai sering mengagungkan manusia yang memiliki kebolehan yang luar biasa. Kadang-kadang cara pengagungan itu sangat keterlaluan sehingga orang yang diagungkan itu didudukkan pada taraf yang melebihi taraf manusia. Selain dianggap sebagai anak Tuhan, ada juga yang dianggap sebagai penjelmaan Tuhan. Timbul juga penabalan sebagai Imam Mahadi yang dijanjikan Tuhan. Kesan pemujaan sesama manusia banyak terdapat pada lembaran sejarah. Pemujaan yang demikian disifatkan Allah s.w.t sebagai mempertuhankan makhluk. Perkara ini berlaku kerana salah mentafsirkan kejadian luar biasa yang terzahir pada orang berkenaan, walaupun mereka tidak meminta diagungkan. Perkara luar biasa yang terjadi pada nabi-nabi dinamakan mukjizat dan yang terjadi pada wali-wali dinamakan keramat.
Mukjizat menjadi sebahagian daripada bukti atau hujah kepada orang ramai tentang kebenaran kenabian. Fungsi utama mukjizat adalah memperkuatkan keyakinan orang ramai kepada seseorang nabi itu. Sesuai dengan fungsinya mukjizat berlaku secara terbuka dan diketahui umum. Keramat pula merupakan kurniaan khusus kepada para wali. Tujuan utamanya adalah untuk menambahkan keyakinan wali itu sendiri. Ia bukan bertujuan untuk membuktikan kedudukan wali itu kepada orang ramai.
Kekeramatan banyak berlaku pada zaman akhir ini, jarang berlaku pada zaman Rasulullah s.a.w dan para sahabat, sedangkan para sahabat baginda s.a.w adalah aulia Allah yang agung. Sebahagian daripada mereka telah pun diistiharkan sebagai ahli syurga ketika mereka masih hidup lagi. Mereka sudah memiliki iman yang sangat teguh, tidak perlu kepada kekeramatan untuk menguatkannya. Jaminan syurga yang diberikan oleh Rasulullah s.a.w tidak membuat mereka mengurangkan khidmat bakti mereka kepada Allah s.w.t. Umat yang akhir ini tidak memiliki hati sebagaimana umat pada zaman Rasulullah s.a.w. Umat zaman akhir ini memerlukan kekeramatan sebagai penawar yang menguatkan hati mereka.
Oleh sebab kekeramatan itu lebih berguna untuk diri sendiri, maka ia lebih banyak berlaku secara tersembunyi, hanya sebilangan kecil yang menyaksikannya atau kadang-kadang tidak ada yang melihatnya. Sifat kewalian dizahirkan kepada wali Allah itu sendiri sedangkan kepada orang ramai dizahirkan sifat manusia biasa, hinggakan orang ramai tidak mengetahui kedudukannya yang sebenar. Dengan demikian seseorang wali Allah itu diberi layanan sebagai manusia biasa. Dia perlu hidup dan menguruskan kehidupan seperti orang ramai. Perilakunya yang memakai sifat kemanusiaan biasa menjadi contoh kepada orang ramai, bagaimana mahu menjalani kehidupan di dunia dengan mentaati Allah s.w.t.
Rasulullah s.a.w menjalani kehidupan sebagai manusia biasa di mana baginda s.a.w terpaksa mengikat perut dengan kain bagi menahan lapar, padahal dengan hanya berdoa kepada Allah s.w.t baginda s.a.w boleh menjadi kenyang tanpa makan. Para nabi dan para wali adalah manusia yang menjadi model untuk diikuti oleh orang ramai. Jika mereka hidup secara istimewa seperti bergerak secepat kilat dan kenyang tanpa makan, sudah tentu tidak ada manusia yang dapat mengikut mereka. Oleh itu apabila Allah s.w.t memakaikan sifat kehambaan seperti orang ramai kepada para nabi dan para wali-Nya itu adalah bagi kebaikan manusia umum. Orang ramai boleh mengikut contoh yang mudah dan tidak timbul pemujaan sesama manusia yang boleh membawa kepada syirik.
Dalam pandangan tasauf, hal diertikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat. Hal merupakan zauk atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah s.w.t). Oleh itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak diperolehi makrifat. Ahli ilmu membina makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasauf bermakrifat melalui pengalaman langsung tentang hakikat.
Sebelum memperolehi pengalaman hakikat, ahli kerohanian terlebih dahulu memperolehi kasyaf iaitu terbuka keghaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk ghaib seperti jin. Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya syaitan yang bersembunyi dalam berbagai-bagai bentuk dan suasana dunia ini. Kasyaf yang menerima hakikat sesuatu, walau apa jua rupa yang dihadapi, penting bagi pengembara kerohanian. Rasulullah s.a.w sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibrail a.s dalam rupanya yang asli dua kali sahaja, walaupun pada setiap kali Jibrail a.s menemui Rasulullah s.a.w dengan rupa yang berbeza-beza, Rasulullah s.a.w tetap mengenalinya sebagai Jibrail a.s. Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya syaitan yang menjelma dalam berbagai-bagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa seorang yang kelihatan alim dan warak.
Bila seseorang ahli kerohanian memperolehi kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau zauk iaitu pengalaman kerohanian tentang hakikat ketuhanan. Hal tidak mungkin diperolehi dengan beramal dan menuntut ilmu. Sebelum ini pernah dinyatakan bahawa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat. Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai hampir dengan pintu gerbangnya. Apabila sampai di situ seseorang hanya menanti kurniaan Allah s.w.t, semata-mata kurniaan Allah s.w.t yang membawa makrifat kepada hamba-hamba-Nya. Kurniaan Allah s.w.t yang mengandungi makrifat itu dinamakan hal. Allah s.w.t memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahawa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi kesannya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil hingga dia jatuh pengsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau zauk atau merasai keperkasaan Allah s.w.t dan pengalaman ini dinamakan hakikat, iaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allah s.w.t. Pengalaman hati tersebut membuatnya berpengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperolehi daripada zauk hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu dinamakan makrifat. Orang yang berkenaan dikatakan bermakrifat terhadap keperkasaan Allah s.w.t. Oleh itu untuk mencapai makrifat seseorang itu haruslah mengalami hakikat. Inilah jenis makrifat yang tertinggi. Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu. Makrifat secara ilmu boleh didapati dengan belajar, sementara secara zauk didapati tanpa belajar (laduni). Ahli tasauf tidak berhenti setakat makrifat secara ilmu malah mereka mempersiapkan hati mereka agar sesuai menerima kedatangan makrifat secara zauk.
Ada orang yang memperolehi hal sekali sahaja dan dikuasai oleh hal dalam tempuh yang tertentu sahaja dan ada juga yang berkekalan di dalam hal. Hal yang berterusan atau berkekalan dinamakan wisal iaitu penyerapan hal secara berterusan, kekal atau baqa. Orang yang mencapai wisal akan terus hidup dengan cara hal yang berkenaan. Hal-hal (ahwal) dan wisal boleh dibahagikan kepada lima jenis:
1 .Abid
Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau zauk yang membuat dia merasakan secara bersangatan bahawa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mempunyai sebarang daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, keupayaan, bakat-bakat dan apa sahaja yang ada dengannya adalah daya dan upaya yang daripada Allah s.w.t. Semuanya itu adalah kurniaan-Nya semata-mata. Allah s.w.t sebagai Pemilik yang sebenar, apabila Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali pada bila-bila masa yang Dia kehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah s.w.t hinggakan sekiranya dia melepaskan sandaran itu dia akan jatuh, tidak bermaya, tidak boleh bergerak, kerana dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah s.w.t. Hal atau suasana yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau kelakuan sangat kuat beribadat, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak mengambil bahagian dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah s.w.t dan gemar bersendirian. Dia merasakan apa sahaja yang selain Allah s.w.t akan menjauhkan dirinya daripada Allah s.w.t.
2. Asyikin
Asyikin ialah orang yang mendapat asyik dengan sifat Keindahan Allah s.w.t. Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya kerana apa sahaja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah s.w.t di dalamnya. Amal atau kelakuan asyikin ialah gemar merenung alam maya dan memuji Keindahan Allah s.w.t pada apa yang disaksikannya. Dia boleh duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa berasa jemu. Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang kelihatan adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah s.w.t. Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan peraturan masyarakat. Kesedarannya bukan lagi pada alam ini. Dia mempunyai alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah s.w.t.
3 .Muttakhaliq
Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan bertukar sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana Qurbi Faraidh atau Qurbi Nawafil. Dalam Qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah s.w.t menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang mahu terjadi pada kelakuan dan perbuatannya. Dia menjadi orang yang berpisah daripada dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengawal atau mempengaruhinya. Hal Qurbi Faraidh adalah dia melihat bahawa Allah s.w.t melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah s.w.t, dan diamnya juga adalah gerakan Allah s.w.t. Orang ini tidak mempunyai kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan tadbir. Apa yang mengenai dirinya, seperti perkataan dan perbuatan, berlaku secara spontan. Kelakuan atau amal Qurbi Faraidh ialah bercampur-campur di antara logik dengan tidak logik, mengikut adat dengan merombak adat, kelakuan alim dengan jahil. Dalam banyak perkara penjelasan yang boleh diberikannya ialah, “Tidak tahu! Allah s.w.t berbuat apa yang Dia kehendaki”.
Dalam suasana Qurbi Nawafil, pula muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah s.w.t yang menguasai bakat dan keupayaan pada sekalian anggotanya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, iaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal Qurbi Nawafil ialah berbuat dengan izin Allah s.w.t kerana Allah s.w.t mengurniakan kepadanya kebolehan untuk berbuat sesuatu. Contoh Qurbi Nawafil adalah kelakuan Nabi Isa a.s yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah s.w.t, juga kelakuan beliau a.s menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa a.s melihat sifat-sifat Allah s.w.t yang diizinkan menjadi bakat dan keupayaan beliau a.s, sebab itu beliau a.s tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah s.w.t.
4.Muwahhid
Muwahhid fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid ialah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah s.w.t. Orang ini telah putus hubungannya dengan kesedaran basyariah dan sekalian maujud. Kelakuan atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa kerana dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Ahmad, dan jika ditanya kepadanya di manakah Ahmad, maka dia akan menjawab Ahmad tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke‘Ahmad-an’ dan benar-benar dikuasai oleh ke‘Allah-an’. Ketika dia dikuasai oleh hal dia terlepas daripada beban hukum syarak. Dia mungkin melaungkan, “Akulah Allah! Maha Suci Aku! Sembahlah Aku!” Dia telah fana dari ‘aku’ dirinya dan dikuasai oleh kewujudan ‘Aku Hakiki’. Walau bagaimana pun sikap dan kelakuannya dia tetap dalam keredaan Allah s.w.t. Apabila dia tidak dikuasai oleh hal, kesedarannya kembali dan dia menjadi ahli syariat yang taat. Perlu diketahui bahawa hal tidak boleh dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak berupaya menahannya. Ahli hal karam dalam lakuan Allah s.w.t. Bila dia melaungkan , “Akulah Allah!” bukan bermakna dia mengaku telah menjadi Tuhan, tetapi dirinya telah fana, apa yang terucap melalui lidahnya sebenarnya adalah dari Allah s.w.t. Allah s.w.t yang mengatakan Dia adalah Tuhan dengan menggunakan lidah muwahhid yang sedang fana itu.
Berbeza pula golongan mulhid. Si mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada zauk, tetapi berkelakuan dan bercakap seperti orang yang di dalam zauk. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat bukan mengalami hakikat secara zauk. Si mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata-mata. Dia berpuas hati bercakap tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini bercakap sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesedaran kemanusiaan, masih gelojoh dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi bersepakat mengatakan bahawa sesiapa yang mengatakan,” Ana al-Haq “. sedangkan dia masih sedar tentang dirinya maka orang berkenaan adalah sesat dan kufur!
5.Mutahaqqiq
Mutahaqqiq ialah orang yang setelah fana dalam zat turun kembali kepada kesedaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diuruskan. Dalam kesedaran zat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah s.w.t dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. Sebab itu orang yang demikian tidak boleh dijadikan pemimpin. Dia mesti turun kepada kesedaran sifat baharulah dia boleh memimpin orang lain. Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disedarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang dilantik oleh Allah s.w.t menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah s.w.t dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diredai Allah s.w.t. Orang inilah yang menjadi ahli makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, ahli tarekat yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani. Insan Rabbani peringkat tertinggi ialah para nabi-nabi dan Allah s.w.t kurniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi dilantik sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.
Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeza-beza, dengan itu akan mencetuskan kelakuan amal yang berbeza-beza. Ahwal mesti difahami dengan sebenar-benarnya oleh orang yang memasuki latihan tarekat kerohanian, supaya dia mengetahui, dalam amal yang bagaimanakah dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan sembahyang, zikir atau puasa. Dia mesti berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia cepat dan selamat sampai ke puncak.
1:Gambaran, ingatan, tarikan dan keinginan terhadap benda-benda alam seperti harta, perempuan, pangkat dan lain-lain.
2: Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada apa yang dikehendaki.
3: Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah s.w.t.
4: Dosa yang tidak dibasuh dengan taubat masih mengotorkan hati.
Diri manusia tersusun daripada anasir
i.tanah
ii.air
iii.api
iv.angin.
Ia juga diresapi oleh unsur-unsur alam seperti galian, tumbuh-tumbuhan, haiwan, syaitan dan malaikat. Tiap-tiap anasir dan unsur itu menarik hati kepada diri masing-masing. Tarik menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu pula menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima sinaran nur yang melahirkan iman dan tauhid. Mengubati kekacauan hati adalah penting untuk membukakannya bagi menerima maklumat dari Alam Malakut. Hati yang kacau itu boleh distabilkan dengan cara menundukkan semua anasir dan unsur tadi kepada syariat. Syariat menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang cuba menawan hati. Penting bagi seorang murid yang menjalani jalan kerohanian menjadikan syariat sebagai payung yang mengharmonikan perjalanan anasir-anasir dan daya-daya yang menyerap ke dalam diri agar cermin hatinya bebas daripada gambar-gambar alam maya. Bila cermin hati sudah bebas daripada gambar-gambar dan tarikan tersebut, hati dapat menghadap ke Hadrat Ilahi.
Selain tarikan benda-benda alam, hati boleh juga tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan sahaja rangsangan hawa nafsu yang rendah. Semua bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah s.w.t adalah syahwat. Kerja syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan peraturan Allah s.w.t serta membangkang takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak reda dengan keputusan Allah s.w.t. Seseorang yang mahu menuju Allah s.w.t perlulah melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan kehendak diri sendiri, lalu masuk ke dalam benteng aslim iaitu berserah diri kepada Allah s.w.t dan reda dengan takdir-Nya.
Perkara seterusnya yang yang diperkatakan sebagai ilmu hikmatialah junub batin tidak suci dan dilarang melakukan ibadat atau memasuki masjid. Orang yang berjunub batin pula tertegah dari memasuki Hadrat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin iaitu lalai hati, kedudukannya seperti orang yang berjunub zahir, di mana amal ibadatnya tidak diterima. Allah s.w.t mengancam untuk mencampakkan orang yang bersembahyang dengan lalai (dalam keadaan berjunub batin) ke dalam neraka wil. Begitu hebat sekali ancaman Allah s.w.t kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.
Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah s.w.t kepada orang yang lalai? Bayangkan hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita yang zahir. Hati yang khusyuk adalah umpama orang yang menghadap Allah s.w.t dengan mukanya, duduk dengan tertib, bercakap dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Maharaja Yang Maha Agung. Hati yang lalai pula adalah umpama orang yang menghadap dengan belakangnya, duduk secara biadab, bertutur kata tidak tentu hujung pangkal dan kelakuannya sangat tidak bersopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Jika raja didunia murka dengan perbuatan demikian maka Raja kepada sekalian raja-raja lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang biadab itu dan layaklah jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wil. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu bersopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke Hadrat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu bersopan santun tidak layak mendekati-Nya.
Perkara yang ke empat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia menghalang seseorang daripada memahami rahsia-rahsia yang halus-halus. Pintu kepada Perbendaharaan Allah s.w.t yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyuci-bersihkan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahsia Allah s.w.t selagi dia belum bertaubat, samalah seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan hutangnya terpaksa menunggu di luar syurga. Jika dia mahu masuk ke dalam Perbendaharaan Allah s.w.t yang tersembunyi yang mengandungi rahsia yang halus-halus wajiblah bertaubat. Taubat itu sendiri merupakan rahsia yang halus. Orang yang tidak memahami rahsia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah s.a.w yang tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon keampunan sedangkan sekalipun baginda s.a.w berdosa semuanya diampunkan Allah s.w.t. Adakah Rasulullah s.a.w tidak yakin bahawa Allah s.w.t mengampunkan semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan baginda s.a.w (jika ada)?
Maksud taubat ialah kembali, iaitu kembali kepada Allah s.w.t. Orang yang melakukan dosa tercampak jauh daripada Allah s.w.t. Walaupun orang ini sudah berhenti melakukan dosa malah dia sudah melakukan amal ibadat dengan banyaknya namun, tanpa taubat dia tetap tinggal berjauhan dari Allah s.w.t. Dia telah masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih tetapi yang berjauhan bukan berdekatan dengan Allah s.w.t. Taubat yang lebih halus ialah penghayatan kalimat:
“Laa Hau la wala quwata illa billah.” Tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah s.w.t.
“Inna Lillillahi wa-inna ilai-irajiun” Kami datang dari Allah s.w.t dan kepada Allah s.w.t kami kembali.
Segala sesuatu datangnya dari Allah s.w.t, baik kehendak mahupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa sahaja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa sahaja yang terbit dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah membekalkan kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. Jadi, ubudiyah berkewajipan mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon keampunan dan bertaubat sebagai menampung kecacatan. Segala urusan dikembalikan kepada Allah s.w.t. Semakin tinggi makrifat seseorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin kerap dia memohon keampunan dari Allah s.w.t, mengembalikan setiap urusan kepada Allah s.w.t, sumber datangnya segala urusan.
Apabila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah s.w.t maka Allah s.w.t sendiri yang akan mengajarkan Ilmu-Nya yang halus-halus agar kehendak hamba itu bersesuaian dengan Iradat Allah s.w.t, kuasa hamba sesuai dengan Kudrat Allah s.w.t, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah s.w.t dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah s.w.t, dengan itu jadilah hamba mendengar kerana Sama’ Allah s.w.t, melihat kerana Basar Allah s.w.t dan berkata-kata kerana Kalam Allah s.w.t. Apabila semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahsia Allah s.w.t).
MAHA SUCI ALLAH YANG MENUTUPI RAHSIA KEISTIMEWAAN (PARA WALI) DENGAN DIPERLIHATKAN SIFAT KEMANUSIAAN BIASA KEPADA ORANG RAMAI DAN TERNYATA KEBESARAN KETUHANAN ALLAH S.W.T DALAM MEMPERLIHATKAN SIFAT KEHAMBAAN (PADA PARA WALI-NYA). Orang yang jahil dan lemah imannya mudah terlintas sangkaan apabila berhadapan kejadian yang luar biasa yang terzahir daripada seseorang manusia. Nabi Ia a.s dilahirkan secara luar biasa, dan padanya terzahir mukjizat yang luar biasa, menyebabkan segolongan manusia menganggap beliau a.s sebagai anak Tuhan. Uzair yang ditidurkan oleh Allah s.w.t selama seratus tahun dan dijagakan di kalangan generasi yang sudah melupai Kitab Taurat, lalu Uzair membacakan isi Kitab Taurat dengan lancar. Orang ramai pun menganggap Uzair sebagai luar biasa, lalu mengangkatnya sebagai anak Tuhan. Orang ramai sering mengagungkan manusia yang memiliki kebolehan yang luar biasa. Kadang-kadang cara pengagungan itu sangat keterlaluan sehingga orang yang diagungkan itu didudukkan pada taraf yang melebihi taraf manusia. Selain dianggap sebagai anak Tuhan, ada juga yang dianggap sebagai penjelmaan Tuhan. Timbul juga penabalan sebagai Imam Mahadi yang dijanjikan Tuhan. Kesan pemujaan sesama manusia banyak terdapat pada lembaran sejarah. Pemujaan yang demikian disifatkan Allah s.w.t sebagai mempertuhankan makhluk. Perkara ini berlaku kerana salah mentafsirkan kejadian luar biasa yang terzahir pada orang berkenaan, walaupun mereka tidak meminta diagungkan. Perkara luar biasa yang terjadi pada nabi-nabi dinamakan mukjizat dan yang terjadi pada wali-wali dinamakan keramat.
Mukjizat menjadi sebahagian daripada bukti atau hujah kepada orang ramai tentang kebenaran kenabian. Fungsi utama mukjizat adalah memperkuatkan keyakinan orang ramai kepada seseorang nabi itu. Sesuai dengan fungsinya mukjizat berlaku secara terbuka dan diketahui umum. Keramat pula merupakan kurniaan khusus kepada para wali. Tujuan utamanya adalah untuk menambahkan keyakinan wali itu sendiri. Ia bukan bertujuan untuk membuktikan kedudukan wali itu kepada orang ramai.
Kekeramatan banyak berlaku pada zaman akhir ini, jarang berlaku pada zaman Rasulullah s.a.w dan para sahabat, sedangkan para sahabat baginda s.a.w adalah aulia Allah yang agung. Sebahagian daripada mereka telah pun diistiharkan sebagai ahli syurga ketika mereka masih hidup lagi. Mereka sudah memiliki iman yang sangat teguh, tidak perlu kepada kekeramatan untuk menguatkannya. Jaminan syurga yang diberikan oleh Rasulullah s.a.w tidak membuat mereka mengurangkan khidmat bakti mereka kepada Allah s.w.t. Umat yang akhir ini tidak memiliki hati sebagaimana umat pada zaman Rasulullah s.a.w. Umat zaman akhir ini memerlukan kekeramatan sebagai penawar yang menguatkan hati mereka.
Oleh sebab kekeramatan itu lebih berguna untuk diri sendiri, maka ia lebih banyak berlaku secara tersembunyi, hanya sebilangan kecil yang menyaksikannya atau kadang-kadang tidak ada yang melihatnya. Sifat kewalian dizahirkan kepada wali Allah itu sendiri sedangkan kepada orang ramai dizahirkan sifat manusia biasa, hinggakan orang ramai tidak mengetahui kedudukannya yang sebenar. Dengan demikian seseorang wali Allah itu diberi layanan sebagai manusia biasa. Dia perlu hidup dan menguruskan kehidupan seperti orang ramai. Perilakunya yang memakai sifat kemanusiaan biasa menjadi contoh kepada orang ramai, bagaimana mahu menjalani kehidupan di dunia dengan mentaati Allah s.w.t.
Rasulullah s.a.w menjalani kehidupan sebagai manusia biasa di mana baginda s.a.w terpaksa mengikat perut dengan kain bagi menahan lapar, padahal dengan hanya berdoa kepada Allah s.w.t baginda s.a.w boleh menjadi kenyang tanpa makan. Para nabi dan para wali adalah manusia yang menjadi model untuk diikuti oleh orang ramai. Jika mereka hidup secara istimewa seperti bergerak secepat kilat dan kenyang tanpa makan, sudah tentu tidak ada manusia yang dapat mengikut mereka. Oleh itu apabila Allah s.w.t memakaikan sifat kehambaan seperti orang ramai kepada para nabi dan para wali-Nya itu adalah bagi kebaikan manusia umum. Orang ramai boleh mengikut contoh yang mudah dan tidak timbul pemujaan sesama manusia yang boleh membawa kepada syirik.
Langganan:
Postingan (Atom)