Isra Mikraj . Peristiwa ini seringkali hanya dipahami
sebagai turunnya perintah sholat
lima waktu. Banyak orang yang
hanya mengambil hikmahnya
saja dari peristiwa Isra Mikraj
tapi sedikit sekali yang mau meneladaninya atau
mengalaminya langsung bertemu
dengan-Nya. Hal ini disebabkan
terpengaruh oleh pendapat ulama
yang mengatakan bahwa Isra
Mikraj cuma bisa dilakukan oleh Nabi Muhammad. Seharusnya
ulama tersebut jujur kepada diri
sendiri kalau memang belum
mampu melakukan atau
mengalami Isra Mikraj. Nah,
kalau belum mengalami seharusnya introspeksi diri
jangan lantas kemudian
mengatakan sesat jika ada orang
lain yang mampu melakukan Isra
Mikraj. Peristiwa Isra Mikraj
sama sekali bukan untuk dikagumi belaka! bukan pula
untuk dimitoskan! tapi untuk
diteladani. Sekali lagi, diteladani!.
Peristiwa Isra Mikraj dapat kita
baca dalam Al Quran,
sebagaimana dibawah ini: Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya
pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang
telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat. (Q.S Al Israa (17) :
1) Para ulama berbeda pendapat
tentang perjalanan Nabi dalam
Isra Mikraj ini. Sebagian ulama
mengatakan bahwa perjalanan
Isra Mikraj Nabi Muhammad
adalah secara fisik dan ruh, dan sebagian lagi mengatakan hanya
ruh saja yang melakukan
perjalanan. Perbedaan pendapat
ini bukanlah hal yang harus
dipersoalkan karena yang
terpenting adalah memahami hakekat Isra Mikraj itu sendiri.
Saya tetap menghargai pendapat
ulama lain meski saya sendiri
berpendapat bahwa Nabi
melakukan perjalanan secara
ruhani – bukan fisik. Tuhan adalah Maha Roh dan untuk menemui-
Nya adalah melalui ruh juga. Fisik hendaknya “ ditanggalkan ” atau dimatikan dahulu. Istilah
jawanya adalah mati sakjroning
urip (mati selagi hidup). Nabi juga
bersabda muutuu qobla an
tamuutu (matikan dirimu sebelum
mati yang sesungguhnya). Bagi sebagian ulama, perjalanan
Nabi Muhammad dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha sering
ditafsirkan secara harfiah yakni
Nabi benar-benar melakukan
perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Padahal ketika
ayat diatas turun, Masjidil Aqsha
belum ada sama sekali. Tempat
sebelum Masjidil Aqsha didirikan
adalah reruntuhan candi
Sulaiman. Masjidil Aqsha baru didirikan pada kekhalifahan Umar
bin Khattab dan baru selesai
pembangunannya pada
kekhalifahaan Abdul Malik bin
Marwan pada 68 H yakni lima
puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Jadi masjid
tersebut adalah “ simbol” yang harus dikaji maknanya lebih
mendalam. Oleh karena sulit
menjelaskan hal gaib maka
simbol diperlukan untuk
memudahkan pemahaman. Nah,
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha adalah simbol dari bayt Allah
(rumah Allah). Tentu makna
rumah Allah disini tidak diartikan
secara harfiah sebagaimana
rumah manusia karena
sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rumah. Peristiwa
Isra Mikraj adalah peristiwa
dimana Rasulullah berkunjung ke
bayt Allah. Dimana letaknya bayt
Allah? Ya di dalam diri tiap
manusia. Beliau melakukan perjalanan
ruhani ke dalam diri. Dalam
sebuah Hadistnya Nabi
mengatakan : “ Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan
mengenal Tuhannya ” . Dalam suatu riwayat lain juga
diceritakan bahwa tempat nabi
melakukan Mikraj masih hangat.
Ini artinya nabi tidak melakukan
perjalanan spiritual secara fisik
melainkan perjalanan secara ruhani yakni melalui zikir dan
tafakur. Manusia tidak perlu
melakukan perjalanan secara
fisik untuk menemui Allah karena
sesungguhnya Allah tidak berada
disuatu tempat yang terikat oleh ruang dan waktu layaknya
manusia. Allah itu meliputi segala
sesuatu. Sesungguhnya Dia meliputi segala
sesuatu. (Q.S Fushshilat (41) : 54) Dan Allah lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya. (Q.S Qaaf
(50) : 16) Dan Allah bersama kamu dimana
saja kamu berada. (Q.S Al Hadiid
(57) : 4) Dari ayat diatas, kita akan
menyadari bahwa Allah itu
tidaklah berjauhan dengan
hamba-Nya dan untuk mengenal
Allah cukup dengan mengkaji ke
dalam diri pribadi. Usaha untuk mengkaji ke dalam diri dimulai
dengan Isra. Isra adalah usaha
atau pencarian yang dilakukan
manusia untuk mencari lalu
menemui Tuhannya. Hal ini disimbolkan melalui
perjalanan malam hari dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.
Disebut perjalanan malam karena
kebanyakan manusia ini hidup
dalam kegelapan karena tidak tahu akan kemana tujuan
hidupnya. Orang yang tidak tahu tujuan
hidup disebut orang yang buta
mata batinnya. Dan barang siapa yang buta (mata
batinnya) di dunia ini, niscaya di
akherat nanti akan lebih buta lagi
dan lebih tersesat dari jalan yang
benar. (Q.S Al Israa (17) : 72) Nah, kalau di dunia saja buta kita
tidak tahu arah yang dituju
apalagi di kehidupan yang akan
datang? Ibarat mau ke Surabaya
tapi tidak punya petunjuk jalan
untuk mencapai daerah tersebut. Di perjalanan ya tentu akan
nyasar. Tersesat ke arah yang
makin kita tidak tahu dan tentu
akan membuat kita makin
menderita karena berada
ditempat yang asing. Lalu apa tujuan hidup kita
sebenarnya? Ini telah saya
jelaskan di post terdahulu yaitu
kembali kepada Allah (Ilayhi
Roji’ un). Nah agar manusia tidak tersesat (buta mata batinnya) dan
selamat sampai kepada-Nya
maka manusia harus mampu
melakukan Isra Mikraj. Dan Isra
Mikrajnya tidak perlu pergi ke
Mekkah atau Yerusalem. Tidak perlu menjual tanah. Orang
miskin harta pun bisa melakukan
Isra Mikraj asalkan ia
bersungguh-sungguh ingin
menemui-Nya. Hai Manusia, bersungguh-
sungguhlah kamu dengan
setekun-tekunnya sehingga
sampai kepada Tuhanmu lalu
kamu menemui-Nya. (Q.S Al
Insyiqaaq (84) : 6)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar